KONTRAKTOR KUBAH MASJID

KUBAH MASJID ENAMEL

Berkali-kali Telepon, WR 1: Tak Pernah Saya Respon, Subaryo Kirim Somasi

Minggu, 15/April/2018 19:56:50
WR 1 UIN Maliki Malang DR HM Zainuddin (tengah) saat melakukan klarifikasi terkait tudingan plagiarisme.

MALANG (SurabayaPost.id) – Wakil Rektor (WR) 1 UIN Maliki Malang, DR HM Zainuddin akhirnya memberikan klarifikasi terkait pengaduan plagiarisme di Mapolres Malang Kota, Sabtu (14/4/2018). Dia mengatakan bila sebelumnya pernah didatangi Subaryo dan berkali-kali ditelepon, namun tak meresponnya.

Lantas Zainuddin menceritakan kronologis kedatangan Subaryo ke UIN Maliki. “Subaryo datang ke kantor tanpa diundang pada hari Selasa, 27 Desember 2016 pukul 10.30 WIB. Memperkenalkan diri sebagai Kelompok Peduli Masyarakat Malang,” kata Zainuddin.

Setelah itu, tutur dia, Subaryo menanyakan soal berita tentang plagiarisme yang pernah diberitakan di media online. Subaryo saat itu datang dengan membawa print out berita online itu.

“Apa kepentingan dia mengorek itu? Dia juga mengorek soal surat permintaan maaf saya ke Pak Imam. Kok tahu?,” tanya Zainuddin dengan nada heran penuh selidik.

Dalam pertemuan itu, Subaryo juga menanyakan soal suksesi rektor. “Subaryo menanyakan apakah saya akan menyalonkan rektor dan sebagainya?,” ungkap dia.

Kemudian, tutur Zainuddin, Subaryo juga menceritakan tentang kedekatannya dengan Prof Imam Suprayogo dan Prof Mudjia Raharjo.

Sehari kemudian, tutur WR 1 ini, Subaryo menelpon berulang kali. “Tetapi tidak pernah saya angkat. Kemudian SMS yang isinya Kami akan menguji apakah buku hasil karya ilmiah Bapak PR 1 (Bpk Zainuddin) benar/tidak lewat jalur hukum bapak. Maaf”,” urai Zainuddin membacakan SMS dari Subaryo itu.

Tampaknya SMS itu masih belum cukup. Sebab, “Pada Selasa (7/3/2017), Subaryo mengirim somasi setelah berkali-kali menghubungi tidak saya respon,” kata dia.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya kasus dugaan plagiat ini merupakan mendapat perhatian dari berbagai pihak. Di antaranya Dirjen Sumber Daya Iptek Dikti Kemenristekdikti, Prof dr Ali Ghufron Mukti MSc PhD dan Dirjen Pendis Kemenag, Prof DR Kamaruddin Amin. TTermasuk Rektor UIN Maliki Malang Prof DR Abdul Haris.

Itu karena, Wakil Rektor 1 UIN Maliki Malang, DR HM Zainuddin diadukan ke polisi. Pengadunya adalah Ketua Presidium Forum Independen Masyarakat Malang Raya (FIMM), Subaryo.

Pengaduan tertanggal 5 Januari 2018 lalu itu menyebutkan bila HM Zainuddin diduga melakukan plagiat (plagiarisme). Plagiarisme itu terkait bukunya yang berjudul Paradigma Pendidikan Terpadu Menyiapkan Generasi Ulul Albab.

Buku tersebut terindikasi menjiplak isi dari buku karya mantan Rektor UIN Maliki Malang Prof Imam Suprayogo. Buku Prof Imam itu berjudul Paradigma Pengembangan Keilmuan di Perguruan Tinggi.

Zainuddin menegaskan bahwa buku yang ia tulis dan menjadi persoalan itu tidak menjadi persyaratan dirinya meraih gelar profesor. Ia merasa aneh jika kemudian ada pihak yang mengatakan gelar profesornya tidak bisa diraih karena buku itu diduga plagiat.

Lebih rinci ia menerangkan, pada Kamis 19 Januari 2017, sekitar pukul 13.00 wib, dilaksanakan rapat senat di rektorat. Agenda rapat itu terkait masalah akademik dan pengembangan lembaga. Selain itu, rapat juga membahas persiapan pemilihan rektor dan pemilihan ketua senat serta ketua panitia dan sekretaris.

Prof Imam terpilih secara aklamasi sebagai ketua senat. Sedangkan sekretaris pemilihan rektor adalah Dr Su;aib Muhammad dan Dr Isyraqunnajah.

Usai rapat pukul 15.30, kata dia, dilanjutkan usai break salat asar. Agendanya soal usulan gelar guru besar satundi antaranya atas naman Zainuddin.

Namun, kata dia, lima guru besar yang dipimpin Prof Imam mengadakan rapat tersendiri di ruang rektorat. Itu berlangsung secara tertutup tanpa melibatkan pembantu rektor dan para dekan yang secara exoffisio anggota senat karena masih berada di luar ruangan.

“Hasil rapat itu, tidak menyetujui usulan guru besar saya dengan alasan tidak jelas seperti karena bermasalah dengan LSM. Namun hasil keputusan rapat itu tidak ditulis dalam berita acara,” tandas Zainuddin.

Menurut Zainuddin, tindakan itu tidak fair dan bertentangan dengan statuta UIN Maliki Pasal 37 Poin B. Kasus tidak turunnya gelar guru besar itu berlangsung hingga 2018. “Ya hingga 5 Januari 2018 lalu dan tiba-tiba saya diadukan Subaryo terkait kasus dugaan plagiarisme ke polisi,” katanya. (Cholil,AH).

249 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan