KONTRAKTOR KUBAH MASJID

KUBAH MASJID ENAMEL

Harga Bawang Merah di Nganjuk Justru Anjlok Saat Panen Raya

Senin, 16/April/2018 18:23:42

NGANJUK (surabayapost.id) – Petani bawang merah di Kabupaten Nganjuk resah. Penyebabnya saat memasuki musim panen raya, harga bawang merah justru anjlok.

Ada sekitar 6 kecamatan di Kabupaten Nganjuk yang mengalami dampak anjloknya harga bawang merah. Terutama petani bawang merah dengan areal tanam yang cukup luas di Kecamatan Rejoso, Gondang, Sukomoro, dan Bagor. Anjloknya harga bawang merah di pasaran karena panen raya yang bersamaan antara Kabupaten Nganjuk dan Kabupaten Brebes, Kabupaten Demak serta Kabupaten Pati .

Musim panen raya saat ini stok bawang merah di pasaran meningkat secara signifikan. “Panen raya harga bawang merah hancur. Selain itu kemungkinan stok masih banyak di pasaran,” keluh Karyono (45), salah satu petani bawang merah di Desa Karangsemi, Kecamatan Gondang, Nganjuk, Senin (16/4/2018).

Dari data yang dihimpun surabayapost.id, harga bawang merah di tingkat petani hanya berkisar antara Rp 4 ribu hingga Rp 5 ribu perkilogram. Angka itu terpaut sangat jauh dari sebelumnya yang mencapai hingga Rp 12 ribu perkilogramnya.

Hal senada juga dikeluhkan Hermawan (35), petani di Dusun Ngrandu Desa Mlorah Kecamatan Rejoso, Nganjuk. Menurutnya, harga bawang merah turun di kisaran Rp 6 ribu perkilogram. “Pengepul hanya berani membeli dengan harga Rp 6 ribu perkilogramnya. Kami belum bisa melepasnya, karena tidak sebanding dengan biaya produksi yang sudah saya keluarkan,” keluh Hermawan.

Menurut pria yang juga menjabat sebagai perangkat di Desa Mlorah ini, petani bawang merah seakan menangis, meskipun saat ini memasuki musim panen. Terlebih bagi para petani yang hasil panennya buruk akibat pengaruh cuaca maupun serangan hama penyakit ulat daun. “Alhamdulillah produksi bawang merah saya di musim panen ini terbilang bagus. Dari lahan setengah bahu, bisa menghasilkan bawang merah kurang lebih dua ton. Tetapi pengepul hanya mampu membeli dengan harga Rp 6 ribu perkilogramnya. Jauh di bawah harga sebelum-sebelumnya,” ungkap Hermawan.

Dikatakan Hermawan, petani baru bisa menikmati hasil panen apabila harga bawang merah minimal Rp 10 ribu perkilogram. Sebab, biaya operasional menanam bawang merah cukup tinggi.

Seperti yang dialami Hermawan ini, dalam satu musim tanam hingga panen setidaknya membutuhkan butuh dana sebesar Rp 7 juta hingga Rp 8 juta. Biaya meliputi, upah menggarap lahan, pembelian bibit, upah tanam, pembelian pupuk, pestisida untuk hama penakit, masa panen, penjemuran, ombyok hingga pemotongan bawang. “Untuk menanam bawang merah ini setiap tahapan butuh uang. Karena tidak bisa dikerjakan sendiri. Sehingga, petani menangis apabila harganya rendah,” imbuhnya.

Sementara itu di tingkat pedagang, Masinah (65), salah satu pengepul di Desa Campur, Kecamatan Gondang, Nganjuk mengatakan, harga bawang merah memang terus merosot. Penurunan harga bawang merah ini terjadi sejak masa panen dimulai hingga saat ini. Harga bawang merah di pasaran berkisar Rp 6 ribu hingga Rp 7 ribu perkilogramnya. Apalagi saat ini dimana-mana sedang terjadi panen raya bawang merah. “Disana pun (daerah lain) harganya juga sama,” pungkas Masinah.

Dia menambahkan. harga bawang merah bisa terus turun jika pasokan melimpah. Sedangkan permintaan tidak sebesar pasokan yang tersedia saat panen. Pasokan tinggi inilah yang menurut Masinah membuat harga merosot.(Rony Kurniawan)

275 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan