KONTRAKTOR KUBAH MASJID

KUBAH MASJID ENAMEL

Pencemaran di Gresik Sudah Menghawatirkan, CSR Dikeluhkan Warga

Jumat, 27/April/2018 7:57:50

GRESIK (SurabayaPost.id)-Corporate Sosial Responsibility (CSR) yang wajib dikucurkan perusahaan kepada warga tidak berhubungan dengan pencemaran, meski keduanya sama-sama wajib dilaksanakan. Pencemaran dan kewajiban CSR adalah hal berbeda yang harus diketahui masyarakat.

“Tidak ada hubunganya. Tapi keduanya adalah kewajiban perusahaaan sesuai dengan undang-undang,” kata Wakil Ketua DPRD Gresik Nur Saidah, Jumat (27/4).

Ditegaskan Nur Saidah, CSR adalah sebuah konsep dan tindakan yang dilakukan oleh sebuah perusahaan sebagai rasa tanggung jawabnya terhadap sosial dan lingkungan sekitar dimana perusahaan tersebut berdiri. Untuk meningkatkan ekonomi warga sekitar perudahaan.

“CSR tidak untuk membungkam warga akibat polusi atau insiden perusahaan yang merugikan masyarakat. Tetapi CSR lebih kepada tanggungjawab perusahaan yang wajib dilaksanakan oleh perusahaan,” ungkapnya.

Diungkapkannya, berdasarkan Pasal 1 angka 3 Undang-Undang Nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan adalah komitmen perseroan untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat, baik bagi perseroan sendiri, komunitas setempat, maupun masyarakat pada umumnya. “Tanggungjawab CSR teepisah dengan tanggungjawab polusi,” tandasnya.

Dalam moment Paripurna Ranperda kemarin, Nur Saidah selaku pimpinan sidang menekankan usulan Ranperda Pengendalian Pencemaran Udara. Karena pencemaran udara di Kabupaten Gresik semakin meningkat sebagai akibat dari emisi sumber bergerak, tidak bergerak, maupun gangguan lain yang dapat merusak lingkungan hidup dan sangat membahayakan kesehatan manusia.

“Pemerintah Daerah memiiki kewajiban untuk memberikan perlindungan, menjaga dan meningkatkan mutu udara dalam pengendalian pencemaran udara. Upaya tersebut membutuhkan regulasi, karena itu Ranperda ini diusulkan,” paparnya.

Sementara itu seorang netizen bernama Thohirin Taufan Tirta mengeluhkan soal CSR. Ia menulis status diakun facebooknya lantaran kecewa dengan perusahaan yang tidak peduli dengan lingkungan.

Screenshot_2018-04-27-08-10-28-83

“PABRIK & MASYARAKAT” Perusahaan / pabrik pabrik yg berdiri dan tumbuh berkembang dikabupaten Gresik semestinya WAJIB bisa memberikan manfa’at kepada masyarakat Gresik pada umumnya dan masyarakat sekitar perusahaan pada khususnya, baik dalam hal rekrutman tenaga kerja maupun corporet sosial responsibility / CSR namun di Gresik masih banyak pabrik yg tidak melakukan hal itu. Malahan yg bikin jengkel masyarakat ketika ada panitia pembangunan langgar / mushollah mengajukan proposal permohonan bantuan dana tidak dibantu sama sekali dan jawabannya sangat konyol ” ma’af kami tidak berpartisipasi dalam kegiatan tersebut” padahal proposal yg diajukan oleh panitia sangat detail dan lengkap ada tanda tangan diketahui LURAH dan CAMAT. tapi tetap gak dikasih bantuan , pertanyaannya apa perlu panitia minta tanda tangan BUPATI ? GUBERNUR.? atau PRESIDEN.?… Kebangetan sekali pabrik berdiri di tanah WALI ( Gresik) ada kegiatan masyarakat membangun TEMPAT IBADAH UMAT ISLAM / RUMAH ALLAH kok tidak membantu . saya hanya mengingatkan kalau permasalahan seperti ini terus berlanjut maka hal seperti itu akan menjadi permasalahan dikemudian hari antara pabrik dgn masyarakat. Semoga tulisan saya ini bisa membuka HATI para manajemen & humas perusahaan di seluruh INDONESIA.

Dikonfirmasi melalui ponselnya mantan anggota DPRD Gresik ini mengaku jengkel dengan perusahaan karena tidak melaksanakan kewajibanya. “Kalau kejengkelan warga terakumulasi akan merugikan kita semua. Mereka demo jalan macet dan tidak menguntungkan. Kalau memang perusahaan punya kuwajiban ya harus segera dilakukan jangan menunggu warga demo,” jelasnya.

(uki)

1,623 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan