KONTRAKTOR KUBAH MASJID

KUBAH MASJID ENAMEL

Netizen di Gresik Heboh Soal Dugaan Pungli di Desa Pongangan

Rabu, 6/Juni/2018 19:55:28

GRESIK (SurabayaPost.id)-Meski sudah tidak terhitung kasus pungli ditangkap tim Saber Pungli pungli masih tetap marak. Kali ini dugaan pungli kembali ramai diperbincangkan dikalangan netizen diwilayah Kabuoaten Gresik. Dugaan pungli ini di Pemerintah Desa Pongangan di dikeluhkan sejumlah pengusaha. Mereka keberatan diminta bayar pungutan yang nominalnya hingga Rp 200 ribu perbulan. Namun pihak pemerintah desa setempat menegaskan, pungutan sesuai peraturan desa.

Menurut salah satu pengusaha, dia keberatan jika diminta pungutan sebesar Rp Rp 200 ribu perbulan. Pengusaha itu kemudian mengunggah tanda terima pembayarannya ke media sosial. Alhasil, warga medsos pun dibuat gaduh.

Kepala Urusan Tata Usaha dan Umum Desa Pongangan, Mas’udi tidak menampik informasi sumbangan terhadap para pelaku usaha di Desa Pongangan. Namun dia berdalih sumbangan itu untuk kas desa dan keperluan pengadaan baju Linmas serta keperluan yang tidak bisa menggunakan Alokasi Dana Desa (ADD). “Meskipun menarik sumbangan namun sifatnya sukarela, kami tidak mentarget atau memaksa,” ujarnya.

Didesa Pongangan, kata Mas’udi, ada sekitar 50 pengusaha yang menjadi obyek sumbangan. Mereka adalah para pemilik gudang, toko bangunan dan pertokoan skala menengah.

“Setelah saya cek tidak ada pengusaha yang menyumbang diatas Rp 50 ribu. Sehingga kami meragukan validitas dari informasi yang menyebutkan ada pengusaha yang kami tarik Rp 200 ribu perbulan,” terangnya.

Dikatakan, adapun dasar penarikan sumbangan terhadap pelaku usaha yakni Peraturan Desa (Perdes) 1/2014 tentang besaran iuran dan retribusi desa. Dalam pasal 11 huruf P tertulis bahwa sumbangan terhadap pelaku usaha sifatnya sukarela dan tidak mentarget.

Selain itu, dalam Perdes itu juga diatur bahwa hasil dari sumbangan tersebut nantinya dimasukkan ke kas desa sebesar 50 persen, biaya jasa tagih 25 persen dan kas Linmas 25 persen.

“Sumbangan ini ada sejak lama bahkan sebelum kades yang sekarang. Hanya saja aturannya selalu direvisi. Oleh sebab itu kami berinisiatif untuk mengundang semua pengusaha untuk duduk bersama,” jelasnya.

Terpisah, salah satu pemilik usaha toko bangunan UD Telaga Suci, H. Husnul Khuluq mengaku, setiap sebulan sekali pihaknya dimintai sumbangan oleh pihak desa. Namun besarannya sukarela. “Setiap bulan saya berikan iuran Rp 25 ribu,” kata Husnul Khuluq.

(uki)

3,609 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan