KONTRAKTOR KUBAH MASJID

KUBAH MASJID ENAMEL

PT Nagaro Germany Gandeng Polinema, Kampanyekan Pengelolaan Sampah Jadi Biogas

Rabu, 11/Juli/2018 18:04:15

MALANG (SurabayaPost.id) – Politeknik Negeri Malang (Polinema) digandeng PT Nagaro Germany. Itu untuk mengkampanyekan pengelolaan sampah atau limbah rumah tangga menjadi biogas.

Untuk itu, PT Nagaro Germany mengutus Azim Khan Niazi ke Polinema, Rabu (11/7/2018. Dia menemui Wadir IV Polinema Luchis Rubianto serta memberikan paparan kepada para dosen Polinema.

Azim Khan Niazi membawa alat pengolah sampah menjadi biogas. Alat buatan Jerman diberi nama Smart Biogas. Pria berkembangsaan Pakistan itu menjelaskan tentang alat pengolahan sampah tersebut secara detail lewat pelatihan.

” Hari ini pihak perusahaan memberikan pelatihan ke para dosen Polinema. Itu terkait alat pengolahan sampah yang bisa menjadi biogas,” kata Wadir IV Polinema Luchis Rubianto disela mendampingi Azim Khan saat memberikan paparan.

Selanjutnya, kata dia, Kamis (12/7/2018 ) pihak Polinema mengundang para Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH), diantaranya, Kepala DLH Kota Malang, Kabupaten Malang, Kota Batu. selain itu Nganjuk, Tulungagung dan Kepala DLH Blitar.

Mereka diundang terkait cara kerja mesin pengolahan biogas itu. “Bila di antara mereka ada yang berminat bisa melalui Polinema,” kata dia.

Alat berupa Smart Biogas itu lanjut dia bisa mengolah sampah menjadi gas. Gas tersebut bisa untuk memasak atau dipergunakan untuk penerangan.

Sampah yang bisa diolah, menurut Azim Khan Naizi, adalah sampah organik. “Kalau non organik tidak bisa. Seperti plastik atau kertas. Itu tak bisa,” kata dia.

Menurut dia, proses awal dari pengolahan sampah organik itu menajdi gas metan memerlukan waktu selama empat minggu.” Itu proses awal dalam alat tersebut. Gas yang dioperasikan menggunakan solar cell (tenaga surya) itu nantinya akan menyimpan gas dari sampah tersebut,” bebernya.

Gas yang tersimpan, lanjut Azim, bisa dimanfaatkan untuk memasak atau lampu penerangan. ,”Jadi dengan alat ini lingkungan bisa bersih dari sampah, juga bisa memasak pakai gas metan gratis,” katanya.

Dijelaskan dia bila alat tersebut mempunyai kapasitas 10 Kg sampah organik. Sampah sebanyak itu 40 persen bisa menjadi gas metan.

Sampah organik itu, kata dia, semua bisa. Mulai dari sisa sayuran atau makanan, dedaunan, hingga kotoran hewan bisa diolah menjadi gas metan menggunakan alat tersebut.

Karena itu, imbuj dia, pihaknya akan melakukan kerja sama yang ditandai dengan penandatanganan MoU dengan Polinema, Kamis (12/7/2018). Itu terkait pemanfaatan alat pengolah limbah rumah tangga tersebut.

Hal itu diakui Dr. Ratna Ika Putri, dosen Teknik Elektronika Polinema yang juga panitia Workshop Implementasi Desain Smart Biogas. Menurut dia, Sistem biogas ini menggunakan Solar cell 200WP untuk otomasi proses biogas sehingga mempercepat sampah menghasilkan gas metan.

“Proses awalnya perlu waktu 4 minggu untuk mengeluarkan gas metan. Untuk selanjutnya, prosesnya bisa setiap hari mengeluarkan gas metan. Nah gas itu bisa dipakai untuk lampu penerangan atau bahan bakar memasak. Jadi praktis,” tandasnya.

(lil/ah)

101 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan