KONTRAKTOR KUBAH MASJID

KUBAH MASJID ENAMEL

Kompak, Pasutri Jalankan Bisnis Ganja

Selasa, 10/Juli/2018 20:17:15
Ketiga terdakwa mengenakan rompi tahanan warna merah saat menjalani sidang di PN Surabaya.

SURABAYA (SurabayaPost.id) – Ayuk Shelsy Handayani tertunduk sembari menangis saat menjalani sidang bersama suaminya Wahyudi dan koleganya Aminulloh. Ketiganya didakwa atas kasus kepemilikan ganja seberat 12 kg yang dikirim melalui jasa pos.

Sidang yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya mengagendakan pemeriksaaan saksi, Selasa (10/7/2018). Jaksa Penuntut Umum (JPU), Ni Putu Parwati mendatangkan saksi dua anggota BNNP Jatim, Hari Pramono dan Edwin.

Dalam keterangannya, Hari menyebutkan bahwa tim yang beranggotakan 10 orang ini menangkap Aminulloh pada tanggal 2 Maret 2018. “Kami mendapatkan informasi dari warga dan menangkap terdakwa Aminulloh ini bertugas sebagai kurir yang hendak mengambil ganja yang diselundupkan ke kemasan kopi di kantor pos,” terang Hari saat memberikan kesaksian di hadapan majelis hakim yang diketuai oleh R Anton.

Saat ditangkap serta dilakukan penggeledahan oleh anggota BNNP tersebut dua kardus paket itu berisikan narkotika jenis ganja. Di kardus pertama berisi 10 bungkus kopi dan kardus kedua berisi 14 bungkus kopi, dimana tiap bungkus kopi tersebut berisi 24 bungkus ganja dengan berat masing-masing 5.010 gram sehingga total keseluruhan 12.240 kilogram ganja. Pada hari yang sama Hari beserta tim menggerebek kediaman terdakwa Wahyudi di Tambaksawah, Sidoarjo.

Sidang kemudian dilanjutkan dengan agenda pemeriksaan terdakwa. Pada saat diperiksa, masing-masing terdakwa membeberkan tugasnya dalam mengedarkan tanaman terlarang itu.

Wahyudi sebagai otak dari peredaran mengatakan mendapatkan barang itu dari Mamat (DPO) dari Jakarta dan sudah dua kali bertransaksi. “Rencananya kami akan jual eceran di daerah Malang,” terangnya.

Sedangkan Aminulloh sang kurir mengaku tidak tahu isi paket itu, ia hanya mendapat perintah dari Wahyudi. “Setahu saya hanya mengambil barang berupa kopi di kantor pos,” jawabnya kepada majelis hakim.

Ayuk yang merupakan istri Wahyudi semakin histeris saat ia mengaku dirinya dipaksa untuk memberikan KTP-nya untuk mengambil barang yang nama serta alamat fiktif itu. “Saya juga tidak tahu barang itu apa, hanya disuruh menyerahkan identitas saya, saya punya anak tapi sudah meninggal” ungkapnya sembari menangis histeris.

Atas perbuatan mereka, JPU Ni Putu Parwati menjerat mereka dengan pasal 114 ayat (2) juncto pasal 132 ayat (1) no. 35 tahun 2009 tentang narkotika. Ketiga terdakwa yang didampingi penasihat hukumnya Fariji dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Lacak akan menjalani sidang tuntutan pada pekan depan. (fan)

663 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan