KONTRAKTOR KUBAH MASJID

KUBAH MASJID ENAMEL

Meriahkan Pekan Budaya, PT Gudang Garam Usung Raden Panji-Putri Candrakirana

Minggu, 8/Juli/2018 16:46:37

KEDIRI (SurabayaPost.id) – PT Gudang Garam Tbk ikut memeriahkan Pekan Budaya dan Pariwisata Kabupaten Kediri 2018. Perusahaan besar ini mengusung tema Raden Panji – Putri Candrakirana lewat parade mobil hias yang digelar Pemerintah Kabupaten Kediri. Minggu, (8/7/218).

“Satu kehormatan bagi kami ikut memeriahkan parade mobil hias dalam rangka Perayaan Pekan Budaya dan Pariwisata Kabupaten Kediri 2018,” ucap Kabid Humas PT Gudang Garam Tbk, Iwhan Tri Cahyono.

Puluhan personel dari berbagai lembaga di internal PT Gudang Garam Tbk terlibat dalam pawai tersebut. Kontingen tersebut menyajikan kemegahan sekaligus keindahan dalam parade Pekan Budaya dan Pariwisata tersebut.

“Ini juga sebagai salah satu bentuk tanggung jawab perusahaan ikut berpartisipasi dalam memajukan potensi wisata yang dimiliki Kabupaten Kediri,” imbuh Iwhan.

Hal itu bukan hanya tercermin dari kendaraan yang ditampilkan. Akan tetapi, juga dari para talent yang mewakili karakter-karakter dalam sebuah kerajaan. Mulai sang Raden Panji, Putri Sekartaji hingga para prajurit dan abdi.

Dijelaskan dia bahwa Raden Panji Asmorobangun merupakan sebagai titisan Dewa Wisnu. Sedang Dewi Sekartaji sebagai titisan dari Dewi Sri.

Penyatuan Panji dan Sekartaji itu merupakan simbol kesuburan. Alasannya, kisah antara Panji Asmorobangun dan Putri Candra kirana terjadi setelah kerajaan besar yang dibangun Airlangga terpecah menjadi dua.

Sebelum turun tahta, Airlangga memberikan kekuasaan kepada Dewi Kilisuci. Menerima jabatan yang besar itu, dia menolak dan memilih menjadi seorang petapa. Jabatan yang dimiliki diberikan kepada dua adiknya yang bernama Lembu Amiluhur dan Lembu Amerdadu yang akhirnya memecah kerajaan ini menjadi dua.

Setelah berjalan lama, para pemimpin dari dua kerajaan ini memiliki putra dan putri. Dari pihak kerajaan Jenggala hadir Raden Inu Kertapati dan saudaranya. Sedangkan dari Penjalu lahir Galuh Candra Kirana (Sekartaji) dan saudara tirinya bernama Galuh Ajeng.

Untuk tetap mempererat tali persatuan antara dua saudara, Galuh Candra Kirana dijodohkan dengan Raden Inu Kertapati yang sudah menaruh hati padanya sejak lama.

Buntut dari perjodohan ini, permaisuri dari Penjalu dibunuh oleh selirnya yang merupakan ibu dari Galuh Ajeng. Selir ini akhirnya menjodohkan Galung Ajeng dengan Raden Inu Kertapati agar anaknya memiliki nasib baik ke depannya.

Selir dari Jenggala ini terus berusaha membuat suaminya mau menjodohkan Galuh Ajeng degan Inu Kertapati. Apa pun caranya.

Mengetahui Galuh Candra Kirana sedih setelah ibunya meninggal, Raden Inu Kertapati membuat boneka. Dia membuat dua, satu untuk Galuh Candra Kirana dan satu untuk Galuh Ajeng.

Boneka yang dibuat oleh Raden Inu Kertapati terbuat dari emas tapi dibungkus kain biasa dan perak tapi dibungkus sutera. Melihat hal ini Galuh Ajeng memilih boneka dengan bungkus sutera karena berharap dalamnya akan ikut mahal.

Sayang seribu sayang, boneka yang didapatkan sangat buruk. Akhirnya dia merebut punya Galuh Candra Kirana. Pada konflik ini keduanya terus adu mulut hingga membuat Ayah dari keduanya mengamuk. Akhirnya Galuh Candra Kirana yang tidak salah apa-apa diusir dari kerajaan dan harus pergi menemui bibinya, Dewi Kilisuci.

Setelah Galuh Candra Kirana diusir dari kerajaan, perjodohan tetap dijalankan antara Raden Inu Kertapati dengan Galuh Ajeng. Mengetahui hal ini, Galuh Candra Kirana diminta menyamar menjadi pengamen untuk datang ke Kerajaan Jenggala.

Dengan penyamaran ini, dia berharap untuk bisa bertemu dengan Raden Inu Kertapati meski namanya sudah diganti menjadi Panji Semirang.

Mengetahui perjodohan tetap dijalankan, Raden Inu Kertapati akhirnya memilih pergi dari istana. Dia pergi mencari Dewi Kilisuci untuk mencari tahu perihal Galuh Candra Kirana. “Ceritanya seperti itu,” kata humas PT Gudang Garam ini.

(sis/ah)

99 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan