Bacakan Pledoi, Dua Terdakwa Sipoa: Perkara Ini Murni Perdata

17 January 2019 - 23:45 WIB
Klemens Sukarno Candra dan Budi Santoso saat menjalani sidang.

SURABAYA (surabayapost.id) – Nota pembelaan setebal 377 halaman dibacakan oleh Klemens Sukarno Candra dan Budi Santoso, terdakwa kasus dugaan penipuan penjualan apartemen Royal Afatar World. Melalui pembelaan itu, Klemens dan Budi menilai kasus yang menjeratnya merupakan murni perkara perdata.

Di hadapan majelis hakim yang diketuai Wayan Sosiawan, Budi Santoso menjelaskan, kronologis pembelian apartemen Royal Afatar World yang dilakukan oleh Syane Angely Tjiongan dan Linda Gunawati (pelapor). Kemudian kesepakatan antara pelapor dengan PT Bumi Samudra Jenie dituangkan ke Surat Persetujuan Pemesanan dan disertai pembayaran.

Menurutnya, perjanjian dalam Surat Persetujuan Pemesanan ini telah memunculkan perikatan antar kedua belah pihak yang bersifat post factum. “Hubungan hukum antara kedua belah pihak merupakan hubungan hukum yang bersifat keperdataan,” tegas Budi pada sidang di PN Surabaya, Kamis (17/1/2019).

Budi menegaskan, perjanjian yang tertuang dalam Surat Persetujuan Pemesanan tersebut merupakan suatu perjanjian perdata yakni hubungan kontraktual di mana perjanjian tersebut sah dan terlaksana sesuai pasal 1320 KUHAP. Bahkan menurutnya, kenyataan yang terjadi antara PT Bumi Samudra Jedine dengan Syane Angely Tjiongan dkk diikat melalui perjanjian yang sama-sama beritikad baik untuk memenuhi perjanjian. “Sehingga tidak tepat bila kami selaku terdakwa didakwa melakukan dugaan penipuan, karena hubungan hukumnya merupakan hubungan hukum keperdataan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Budi menegaskan, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dinilai tidak mampu membedakan antara wanprestasi dan penipuan. “Sehingga suatu kasus wanprestasi yang terjadi dalam perkara ini hakekatnya merupakan masalah murni keperdataan. Seharusnya tetap dipandang dan diletakan secara proporsional dan tidak ditarik secara sederhana apalagi dengan pemaksaan rekayasa sebagai kasus kejahatan penipuan,” tukas Budi saat membacakan pledooinya.

“Berdasarkan fakta sidang, terdakwa Budi Santoso dan Klemens Sukarno Candra tidak terbukti melakukan semua unsur yang disyaratkan dalam pidana penipuan. Malahan sebaliknya justru JPU yang terbukti melakukan pidana memberikan keterangan palsu dan serangkaian kebohongan di surat tuntutannya” terangnya.

Pada sidang ini, Klemens dan Budi yang mewakili Direksi PT Bumi Samudra Jedine dan Sipoa Grup juga turut menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh konsumen yang telah dirugikan. “Hendaknya para konsumen tidak perlu ada kerisauan yang terlalu berlebihan, karena PT Bumi Samudra Jedine masih memiliki aset yang nilainya jauh lebih besar dibandingkan nilai total kewajiban kepada seluruh konsumen yang belum menerima refunds,” terangnya.

Budi pun menambahkan, pihaknya akan mendukung dan bersikap koperatif jika para konsumen ingin menjadikan aset Sipoa Grup sebagai jaminan refunds. “Dengan diikat Hak Tanggugan, sambil menunggu ada investor baru yang berminat,” ujarnya.

Budi juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada 200 konsumen yang tergabung dalam Tim Baik-Baik. “Serta kami ucapkan terima kasih juga kepada Paguyuban PCS yang telah menandatangani perdamaian,” pungkasnya.

Perlu diketahui, Klemens Sukarno Candra dan Budi Santoso dituntut 4 tahun penjara atas kasus dugaan penipuan dan penggelapan penjualan apartemen Royal Avatar World. Keduanya ditetapkan sebagai tersangka berdasarkan laporan para konsumen pembeli apartemen. (fan)