Diduga Perkosa Stafnya, Advokat di Surabaya Dipolisikan

14 June 2019 - 14:34 WIB
EDS, korban kasus dugaan pemerkosaan (berjilbab) didampingi kuasa hukumnya saat menceritakan kasus yang menimpanya di hadapan wartawan.

SURABAYA (surabayapost.id) – Gadis berinisial EDS melaporkan seorang advokat ke Polrestabes Surabaya dengan tuduhan pemerkosaan. EDS merupakan staf yang bekerja di kantor advokat tersebut.

EDS yang didampingi dua kuasa hukumnya yaitu Firman Poldes dan Abdul Malik mengaku bahwa peristiwa pilu yang menimpanya dilakukan advokat PS (inisial) di kantornya di Jalan Pandegiling, Surabaya sekitar pukul 16.00 WIB.

Ia menyebut, selain diperkosa dirinya juga diancam akan dibunuh apabila menceritakan hal ini ke orang lain. “Saya dipegang ditarik (paksa), saya sempat memberontak, tapi tenaga saya kalah. Pada saat melalukan perkosaan itulah, dia mengamcam saya akan dibunuh apabila menceritakan ke orang lain,” cerita EDS kepada wartawan saat jumpa pers di kantor DPD KAI dan IPHI di Jalan Prambanan, Surabaya, Kamis (13/6/2019).

Ia juga mengatakan, saat dibungkam oleh PS, dirinya tidak bisa bernafas. “Hidung saya juga dibungkam, sampai sulit untuk nafas. Waktu itu di sofa ruangan tengah,” katanya EDS sembari meneteskan air mata.

Atas kejadian itu EDS kemudian melaporkannya ke Polrestabes Surabaya. Namun laporannya justru ditolak dengan alasan disuruh meminta surat pernyataan kepada PS. “Sehari setelah kejadian saya sudah lapor polisi tapi disuruh minta surat pernyataan dari PS,” terangnya.

Namun pada laporan yang ke dua kali dengan didampingi kuasa hukumnya, akhirnya polisi menerima laporan tersebut dengan nomor laporan:LP/B/513/V/RES/1.4/2019/JATIM/RESTABES SBY.

Sementara itu, Abdul Malik, salah satu kuasa hukum EDS mengatakan, agar polisi profesional menangani kasus yang menimpa kliennya, mengingat bahwa pelapor merupakan seorang yang berprofesi advokat. “Tidak apa-apa, saya akan kawal terus kasus ini. Bahkan nanti siapkan biayanya, kasihan korban,” tegas Malik.

Terpisah saat dikonfirmasi, PS mengaku bahwa dirinya telah melaporkan balik EDS ke Polda Jatim atas dugaan membuat laporan palsu. Selain itu, PS juga mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri (PN) Surabaya.

Tak hanya itu, PS juga membantah keras apa yang dituduhkan EDS kepadanya. Menurut PS, apa yang disampaikan EDS tidak benar sama sekali. Hal itu bisa dilihat dari selalu berbeda-bedanya cerita yang disampaikan Bunga kepada media.

Sebelumnya di sebuah media, lanjut PS, EDS menyebut bahwa waktu kejadian pukul 14.00 WIB. Namun kemudian di media yang lain, EDS justru bilang kejadian pukul 16.00 WIB. “Dia bilang mandi dulu pada jam 2 siang, nggak wajarlah. Orang Indonesia mandi kok jam 2. Selain itu juga dia mandi pada saat kerja dan dia juga tidak membawa peralatan mandi. Kok bisa berubah-ubah kejadiannya,” ujarnya.

Terkait permintaan agar EDS ke kantor saat libur kerja, PS langsung membantahnya. Menurutnya, PS sedang mengerjakan pledoi dan ada sekitar 65 kertas yang harus difotocopy menjadi enam bandel. Untuk itulah, PS menyuruh EDS untuk datang ke kantor. “Pada saat kejadian, istri dan anakku datang mengantar makanan, bahkan ketemu ayahnya (EDS) yang hendak menjemputnya.

PS menambahkan, bahkan sehari setelah kejadian, EDS masih masuk kerja dan mengurusi berkas-berkas tersebut. “Kalau dia mengaku takut, mestinya dia kan tidak masuk kerja,” bebernya.

Terkait barang bukti berupa pakaian dalam yang sobek dan celana dalam tercecer sperma, PS menilai bahwa barang bukti tersebut telah direkayasa oleh EDS. Karena sebelumnya dia pernah menyatakan bahwa semua barang bukti sudah dicuci. “Kalau sekarang ada BH yang sobek, dan CD yang ada spermanya berarti itu disobek sendiri sama dia,” ujarnya.

PS pun menyebut bahwa ada niat lain yang bertujuan untuk mencermarkan nama baiknya di balik laporan EDS ini. Namun PS mengaku masih mencari siapa orang dibalik peristiwa ini. (aha/fan)