Dua Terdakwa Kasus Sipoa Mengaku jadi Korban Kriminalisasi

17 January 2019 - 22:05 WIB
Klemens Sukarno Candra dan Budi Santoso saat menjalani sidang.

SURABAYA (surabayapost.id) – Klemens Sukarno Candra dan Budi Santoso kembali menjalani sidang sebagai terdakwa kasus dugaan penipuan penjualan apartemen Sipoa dengan agenda pembacaan nota pembelaan di PN Surabaya, Kamis (17/1/2019). Dalam pledoinya, kedua terdakwa menyebut sebagai korban kriminalisasi.

Budi Santoso menjelaskan, upaya kriminalisasi berawal saat dirinya dan Klemens masih berstatus sebagai tersangka. “Pada Mei 2018, oknum pengacara mulai menjalankan aksinya. Kami diminta agar melepas pengacara yang ditunjuk keluarga, sembari show of force dengan merujuk pada tersangka lain dalam kasus ini seperti Sugiharto Tanojoharjo, Harisman Susanto, dan Ronny Suwono, yang sudah berstatus tersangka, tapi hingga kini tidak pernah ditahan,” terangnya.

Selain itu, Budi dan Klemens diminta menandatangani pernyataan agar bersedia menjual tanah aset perusahaan di Desa Kedungrejo, Sidoarjo, yang di atasnya akan dibangun Apartemen Royal Afatar World. “Aset tersebut sebenarnya bernilai Rp 687 miliar, namun kemudian hanya dibandrol sebesar Rp 150 miliar,” terangnya.

Hal itu berulang kali menimpa Budi dan Klemens, namun berulang kali juga ditolaknya. “Teror dan intimidasi ini berulang kali terjadi. Tapi berulang kali pula kami tolak menjual aset tersebut,” kata Budi saat membacakan nota pembelaan.

Tak berhenti di situ, pada Januari 2018 telah terjadi unjuk rasa yang dilakukan oleh ratusan kosumen apartemen Royal Afatar World. Namun menurut Budi, unjuk rasa tersebut telah disusupi konsumen palsu. “Konsumen palsu memprovokasi konsumen asli, memanfaatkan kondisi psikologi konsumen yang panik akibat keterlambatan serah terima unit,” terangnya.

Selanjutnya, unjuk rasa ini lalu diviralkan oleh seorang oknum pers di media sosial. Setalah viral di medsos, lembaga perbankan menolak memberikan pinjaman dan investor lain menjadi takut bermitra. “Hal ini dimaksudkan agar PT Bumi Samudra Jedine dibuat tetap tak berdaya,” jelas Budi.

Selain itu, upaya membuat PT Bumi Samudra Jedine tak berdaya juga dilakukan dengan memunculkan nama Agung Wibowo. Saat itu, salah seorang Direksi Sipoa Grup, menerima kedatangan seseorang bernama Agung Wibowo. Kedatangan Agung Wibowo menemui Direksi Sipoa Grup adalah ingin menjadi investor, dengan membeli aset tanah Sipoa Grup.

Tahap awal Agung Wibowo menjanjikan menyiapkan dana sebesar Rp 50 miliar yang rencananya akan digunakan perusahaan untuk refunds. Lantas bersumber dari dana cash sebesar Rp 3,5 miliar dari Agung Wibowo, proses refunds dilakukan. “Sedangkan sisanya sebesar Rp 46,5 miliar dijanjikan Agung Wibowo pada 12 Februari 2018. Namun sampai pada tanggal tersebut, dana yang dijanjikan oleh Agung Wibowo belum masuk ke rekening Sipoa Grup. Akibat janji Agung Wibowo, Direksi Sipoa Group telah menerbitkan 428 cek dan giro yang dibuka dengan rincian 374 cek yang akan cair tanggal 12 Februari 2018 dan 54 giro yang akan cair pada tanggal 28 Februari 2018. Dalam perkembangannya diketahui bahwa Slip Pemindahan Dana Antar Rekening atas nama Agung Wibowo ternyata palsu. Akibat hal tersebut, sebanyak 428 konsumen yang menerima cek merasa dibohongi dan menagih pembayaran refunds,” jelas Budi.

Perlu diketahui, Klemens Sukarno Candra dan Budi Santoso dituntut 4 tahun penjara atas kasus dugaan penipuan dan penggelapan penjualan apartemen Royal Avatar World. Keduanya ditetapkan sebagai tersangka berdasarkan laporan para konsumen pembeli apartemen. (fan)