Istri Meninggal Usai Nikah, Suami Palsukan Akta Waris

15 August 2019 - 16:31 WIB
Datuk Iksan Marsudi mengenakan rompi tahanan warna merah saat menjalani persidangan.

SURABAYA (surabayapost.id) – Perbuatan Datuk Iksan Marsudi (49) memalsukan akta waris, sebulan usai kematian istrinya akhirnya membuat dirinya duduk di kursi pesakitan sebagai terdakwa di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Kamis (15/8/2019). Pria yang tinggal di Jalan Darmo Permai Timur 5/14 Surabaya ini kini menjalani sidang dengan agenda pembacaan surat dakwaan.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Darwis mejelaskan, kasus ini berawal saat Datuk menikahi Gaby Silvy Fauziah pada 30 Juni 2005. Namun tak berlangsung lama, Gaby meninggal dunia di usia ke 71 tahun karena sakit pada 1 Agustus 2005. “Bahwa Gaby Silvy Fauziah mempunyai satu adik kandung bernama Anthonia Meulemans,” ujarnya saat membacaka surat dakwaan.

Kemudian pada 2006, lanjut Darwis, Anthonia mengajukan gugatan intervensi terhadap Datuk dan telah berkekuatan hukum tetap atau inchraht. “Telah diputus sebagaimana putusan Pengadilan Negeri Surabaya nomor 277/Pdt.G/2006/PN.Sby jo putusan Pengadilan Tinggi Surabaya nomor 109/Pdt.G/2008/PT.Sby dan telah berkekuatan hukum tetap yang menyatakan bahwa yang berhak atas semua warisan Gaby Silvy Fauziah yaitu adik kandungnya yaitu Anthonia Meulemans,” bebernya.

Namun ternyata Datuk tak terima atas putusan PN Surabaya dan PT Surabaya yang mengalahkan dirinya dalam gugatan tersebut. Gelap mata akhirnya Datuk nekat mengajukan permohonan penetapan waris ke Pengadilan Agama Surabaya pada Maret 2017. Dalam permohonan itu, Datuk menyatakan bahwa almarhum Gaby Silvy Fauziah tidak memiliki saudara kandung. “Dalam permohonannya di Pengadilan Agama, terdakwa Datuk tidak pernah mencantumkan putusan PN Surabaya dan PT Surabaya, sehingga putusan menetapkan bahwa ahli waris adalah terdakwa Datuk,” tegas JPU Darwis.

Usaha Datuk pun membuahkan hasil. Buktinya dengan bermodal penetapan Pengadilan Agama Surabaya, pria lulusan SMA itu berhasil mengausai obyek tanah di Bendul Merisi Besar Timur Nomor 57C Surabaya. “Perbuatan terdakwa Datuk diatur dan diancam pidana dalam Pasal 266 ayat 1 dan 2 KUHP atau Pasal 242 ayat 1 KUHP,” pungkas JPU Darwis.

Usai surat dakwaan dibacakan, melalui kuasa hukumnya Datuk meminta waktu dua minggu untuk mengajukan eksepsi. Namun majelis hakim yang diketuai Anne Rusiana menolak dan hanya memberikan waktu satu minggu. “Terlalu lama kalau dua minggu. Saya kasih waktu satu minggu ya untuk mengajukan eksepsi,” kata hakim Anne.

Tak hanya itu, Datuk juga akan mengajukan penangguhan penahanan kepada majelis hakim. “Kami juga akan mengajukan penangguhan penahanan menjadi tahanan kota minggu depan,” kata kuasa hukum Datuk. (aha/fan)