Rugikan Negara Rp 65 Miliar, Direktur PT A&C Trading Network Ditahan

11 December 2018 - 21:57 WIB
Antonius Aris Saputro, Direktur PT A&C Trading Network (rompi merah) dikawal petugas kejaksaan usai ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi PT Dok dan Perkapalan Surabaya.

SURABAYA (surabayapost.id) – Antonius Aris Saputro, Direktur PT A&C Trading Network ditahan penyidik pidana khusus Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim, Selasa (11/12/2018). Antonius ditahan usai ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi pengadaan Floating Dock.

Sebelumnya pria yang menetap di Singapura ini mangkir dua kali saat dipanggil sebagai saksi kasus tersebut. “Awal statusnya masih sebagai saksi, namun kemudian kami tetapkan sebgaai tersangka dan kita lakukan penahanan,” ujar Didik Farkhan Alisyahdi, Asisten pidana khusus Kejati Jatim.

Didik menjelaskan, kasus ini berawal saat PT Dok dan Perkapalan Surabaya mendapatkan dana Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp 200 miliar pada 2015. Dari dana tersebut, PT Dok melakukan lelang pengadaan Floating Dock sebesar Rp 100 miliar yang dimenangkan oleh perusahaan milik Antonius yaitu PT A&C Trading Network.

Sebagai pemenang lelang, PT A&C Trading Network kemudian membeli Floating Dock dari dana Rp 100 miliar tersebut. Namun Floating Dock tersebut dibelikan bekas dari Rusia yang usianya sudah mencapai 43 tahun. Padahal sesuai lelang, Floating Dock yang dipesan maksimal berusia 20 tahun. “Karena kondisi sudah tua akhirnya keropos dan tenggelam di Laut China. Sehingga negara dirugikan Rp 65 miliar,” beber Didik.

Penyidik sendiri akan terus melakukan penyidikan atas kasus tersebut. Atas hal ini, tidak menutup kemungkinan akan ada tersangka lain dalam kasus ini. (fan)