Tergiur Bisnis Tokek, Warga Surabaya Ini Tertipu Ratusan Juta

17 July 2019 - 17:01 WIB
Terdakwa Topsi Djemi Lumentu saat menjalani sidang di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Rabu (17/7/2019).

SURABAYA (surabayapost.id) – Isu keuntungan besar dari proses jual beli tokek membuat Hasoloan Gultom tergiur. Namun bukannya untung besar yang didapat, warga Perumahan Dian Istana, Surabaya ini justru tertipu hingga ratusan juta.

Nasib apes yang menimpa Hasoloan ini terungkap saat dirinya diperiksa sebagai saksi atas kasus penipuan berkedok jual beli tokek dengan terdakwa Topsi Djemi Lumentu pada sidang yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Rabu (17/7/2019). Sebelum Hasoloan diperiksa sebagai saksi, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ririn Indrawati lebih dulu membacakan surat dakwaannya.

Dalam dakwaannya, JPU Ririn menjelaskan, kasus ini bermula dari pertemuan antara Hasolan dan Sulianto Budihartanto. Di pertemuan itu, Sulianto mengaku kepada Hasoloan sedang membutuhkan tokek untuk pengobatan. “Kemudian Hasoloan menghubungi terdakwa Topsi melalui telepon menyampaikan ada seseorang yang membutuhkan tokek untuk pengobatan,” terang JPU Ririn saat membacakan surat dakwaan.

Kepada Hasoloan, terdakwa Topsi mengaku dirinya memiliki 3 ekor tokek dengan harga Rp 50 juta per ekor. “Saksi Hasoloan mengatakan hanya membutuhkan satu ekor tokek saja dan bersedia membayar dengan harga Rp 150 juta. Kemudian esok harinya saksi Hasoloan mentransfer uang ke terdakwa Topsi sebesar Rp 150 juta,” papar JPU Ririn.

Aksi tipu-tipu terdakwa Topsi ternyata tak berhenti di sini saja. Terdakwa Topsi kembali meminta agar Hasoloan mentransfer uang untuk biaya penyiraman lokasi tokek. “Sehingga akhirnya secara berturut-turut saksi Hasoloan kembali mentransfer uang kepada terdakwa Topsi secara bertahap dengan total Rp 217 juta,” ungkapnya.

Namun setelah memberikan uang hingga ratusan juta, ternyata tokek yang diminta Hasoloan tak kunjung diberikan oleh terdakwa Topsi. Merasa dirinya ditipu, Hasolan kemudian melaporkan terdakwa Topsi ke polisi. “Saksi Hasoloan menderita kerugian total sebesar Rp 367 juta. Perbuatan terdakwa Topsi melanggar ketentuan sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 378 KUHP jo pasal 65 ayat 1 KUHP,” tegas JPU Ririn.

Usai surat dakwaan dibacakan sidang kemudian langsung dilanjutkan dengan agenda pemeriksaan saksi. Dua saksi dihadirkan oleh JPU Ririn yaitu Hasoloan dan Sulianto.

Di hadapan majelis hakim yang diketuai Jan Manopo, Hasoloan mengaku bahwa dirinya terpaksa melaporkan terdakwa Topsi ke polisi karena merasa ditipu soal pembelian tokek. “Saya tagih tokeknya katanya tidak ada. Saya suruh nemui saya tapi dia (terdakwa Topsi) tidak mau, ya sudah saya suruh polisi yang jemput,” kata Hasoloan.

Ia juga mengaku pernah meminta agar terdakwa Topsi mengirim foto tokek sebagai bukti. Namun saat itu terdakwa Topsi mengaku tidak memiliki handphone android untuk memfoto tokek. “Seperti digendam saja, nurut saja kita,” kata Hasoloan sembari tersenyum.

Saat ditanya hakim Jan Manopo apa yang membuatnya percaya dengan terdakwa Topsi hingga rela memberikan uang ratusan juta, Hasoloan menjawab dengan enteng. “Ya saya percaya karena dia sudah tua,” katanya. (aha/fan)