Upaya Banding Sia-sia, Pengadilan Tinggi Justru Vonis Mat Jepang Dua Tahun Penjara

25 June 2019 - 18:11 WIB
Mat Hori alias Mat Jepang, terdakwa kasus penggelapan (rompi merah) saat menjalani sidang di PN Surabaya beberapa waktu lalu.

SURABAYA (surabayapost.id) – Pengadilan Tinggi (PT) Surabaya menjatuhkan vonis 2 tahun penjara terhadap Mat Hori alias Mat Jepang, terdakwa kasus penggelapan uang sewa tanah di Jalan Kalisari Mulyosari Surabaya. Vonis ini lebih berat dari vonis yang dijatuhkan Pengadilan Negeri (PN) Surabaya.

Sebelumnya, PN Surabaya menjatuhkan vonis 1 tahun penjara terhadap Mat Jepang. Tak terima, Mat Jepang kemudian mengajukan upaya hukum banding ke PT Surabaya. Sialnya, upaya Mat Jepang justru membuat dirinya diganjar hukuman 2 tahun penjara oleh PT Surabaya. “Ya, divonis 2 tahun pada 23 Mei 2019 oleh ketua majelis hakim Arif Purwadi, dan dua anggota majelis hakim yaitu Binsar dan Samsul Hadi,” kata Untung Widiarto, Humas PT Surabaya, Selasa (25/6/2019).

Untung menjelaskan, hakim Arif Purwadi dalam pertimbangannya menemukan fakta bahwa perbuatan Mat Jepang termasuk dalam pidana yang berat. “Hakim menemukan banyak hal yang memberatkan. Hakim juga menemukan tindak pidananya tergolong berat, sebab semua unsur dalam pasal 372 KUHP terpenuhi,” ungkanya.

Sementara itu, Efendi, kuasa hukum Mat Jepang saat dikonfirmasi soal vonis 2 tahun tersebut justru mengaku belum mengetahuinya. Pasalnya, sebagai kuasa hukum dirinya mengaku belum menerima salinan putusan. Menurutnya, bila putusan banding itu benar, maka dirinya akan melakukan perlawanan lagi melalui upaya hukum kasasi.

“Bila putusan itu benar, kami akan minta kuasa lagi untuk pengajukan kasasi. Saya sangat yakin Pak Mat Jepang tidak melakukan kesalahan,” katanya saat ditemui di PN Surabaya.

Seperti diberitakan sebelumnya, majelis hakim PN Surabaya menjatuhkan vonis 1 tahun penjara kepada Mat Jepang pada 6 Maret 2019. Mat Jepang dinyatakan terbukti bersalah melakukan penggelapan uang sewa tanah milik korbannya yaitu Sie Probowahyudi.

Vonis 1 tahun tersebut lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ratna Fitri Hapsari yang sebelumnya menuntut Mat Jepang dengan hukuman 1,5 tahun penjara.

Aksi penggelapan uang tersebut dilakukan Mat Jepang pada 2013 silam. Saat itu, Sie Probowahyudi telah melayangkan somasi kepada Mat Jepang mengapa tanah yang disewanya tidak dikosongkan. Bahkan Mat Jepang masih nekat menempati lahan tersebut, meski hak sewanya akan berakhir pada 2053. (aha/fan)