MALANGKOTA (SurabayaPost.id) – Di jantung Kota Malang, tepatnya di kawasan Heritage Kajoetangan, ada seorang seniman yang telah mengabdikan hidupnya untuk menghidupkan wajah-wajah melalui sketsa. Aji, seorang pelukis sketsa berusia 42 tahun, telah membuktikan bahwa seni tidak mengenal kata “menyerah”.
Dalam dunia yang semakin digital, Aji membuktikan bahwa seni masih bisa menjadi sumber kehidupan. Dengan bakat otodidak dan semangat yang tak pernah padam, Aji telah mengabdikan hidupnya untuk menghidupkan wajah-wajah melalui karya seninya.
Berawal dari hobi menggambar komik di Sekolah Dasar (SD) pada tahun 1995, Aji terus mengembangkan bakatnya hingga akhirnya memutuskan untuk menjadi pelukis sketsa profesional pada tahun 2015. Dengan harga sketsa yang cukup terjangkau, yaitu Rp 50.000 untuk ukuran A4, Aji telah berhasil menginspirasi banyak orang dengan karya seninya.

“Melukis bukan hanya tentang menghasilkan uang, tapi tentang mengekspresikan diri dan membuat orang lain bahagia,” kata Aji saat ditemui di Heritage Kajoetangan, Minggu (12/4/2026) malam.
“Ketika saya melukis, saya merasa puas dan bahagia, meskipun kadang penghasilan tidak stabil.”lanjut pria dua anak tersebut.
Sebelumnya, Aji juga telah mendirikan komunitas Akar Rasa bersama sesama pelukis lainnya. Akar Rasa merupakan sebuah komunitas seni lukis di Batu, dan telah bergabung dengan komunitas pelukis Malang Raya. Ia berharap dapat terus mengembangkan bakatnya dan menginspirasi orang lain dengan karya seninya.
Dengan semangat dan dedikasi yang tak pernah padam, Aji membuktikan bahwa seni masih bisa menjadi sumber kehidupan, bahkan di era digital ini. (lil).
