Semarang (SurabayaPost.id)— Kunjungan Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani ke Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 45 Semarang, Minggu (30/11), menghadirkan perenungan mendalam tentang makna pendidikan dan relasi antara negara dan warganya yang paling rentan. Dalam kunjungan yang berlangsung hangat itu, Bupati Yani menegaskan bahwa pembangunan Sekolah Rakyat bukanlah proyek fisik, melainkan proyek kemanusiaan yang berakar pada filosofi memuliakan manusia sejak awal kehidupan mereka.
“Kami belajar bahwa sekolah rakyat bukan sekadar tempat belajar. Ia adalah ruang untuk mengembalikan keberanian anak-anak dari keluarga prasejahtera untuk bermimpi. Dari sinilah mereka menemukan kembali martabatnya sebagai manusia yang setara dengan siapa pun,” ujar bupati.
Pernyataan tersebut menggambarkan pandangan filosofis bahwa pendidikan tidak hanya mengajar, tetapi menghadirkan kembali harapan. Bagi anak-anak yang hidup dalam kemiskinan struktural, pendidikan adalah jendela pertama yang membuat mereka menyadari bahwa mereka memiliki nilai dan masa depan.
Menurut Bupati Yani, urgensi Sekolah Rakyat lahir dari dua realitas besar. Pertama, masih banyak anak dari keluarga miskin yang tidak tersentuh pendidikan formal. Kesempatan mereka untuk tumbuh dalam lingkungan belajar yang aman dan terarah sangat bergantung pada intervensi negara.
Kedua, kemiskinan tidak hanya soal ekonomi, tetapi juga kemiskinan harapan. Banyak anak kehilangan kepercayaan diri dan tidak berani membayangkan masa depan yang lebih baik. Sekolah rakyat, menurut bupati, adalah intervensi yang menyentuh lapisan terdalam dari problem kemiskinan: hilangnya orientasi hidup.
“Pendidikan seperti ini adalah investasi sosial jangka panjang. Ia memutuskan mata rantai kemiskinan bukan hanya dari sisi ekonomi, tetapi dari sisi mental, psikologis, dan moral. Anak-anak dibina bukan hanya untuk pintar, tetapi untuk percaya bahwa dirinya layak berhasil,” jelas Yani.
Dalam pandangan bupati, Sekolah Rakyat memiliki filosofi dasar: membuka ruang kemungkinan bagi anak-anak kecil dari keluarga kecil. Lingkungan berasrama, fasilitas lengkap, kurikulum terintegrasi, hingga pembinaan karakter semuanya dirancang untuk mengubah batasan menjadi peluang.
“Pendidikan harus membuat yang mustahil menjadi mungkin. Itulah yang kami lihat di Semarang. Dan itulah yang ingin kami hadirkan di Gresik,” katanya.
Di Sekolah Rakyat Terintegrasi 45 Semarang, anak-anak bukan hanya diajarkan ilmu, tetapi juga diajak menemukan kembali harga diri. Mereka merasakan bahwa negara hadir bukan sekadar sebagai pengatur, melainkan sebagai pengasuh.
Gresik Menyiapkan Sekolah Rakyat sebagai Gerakan Peradaban
Sekolah Rakyat Gresik, yang akan dibangun di Desa Raci Tengah di atas lahan lebih dari 5 hektare, dipersiapkan sebagai model pendidikan terpadu. Fasilitas modern seperti laboratorium, klinik, pusat olahraga, hingga ruang terbuka hijau menjadi bagian dari ekosistem yang menguatkan pembinaan karakter dan kemampuan dasar.
“Kami ingin membawa praktik baik dari Semarang, tetapi kami juga ingin mengembangkan sesuai karakter masyarakat Gresik. Tujuan akhirnya satu, menghadirkan pendidikan yang memerdekakan dan mengangkat martabat,” tegas bupati.
Dengan pendekatan ini, Bupati Yani menempatkan Sekolah Rakyat bukan sebagai proyek infrastruktur, namun sebagai gerakan peradaban—sebuah usaha panjang untuk memastikan tidak ada anak yang kehilangan masa depan hanya karena lahir dalam keluarga yang serba kekurangan.
Kunjungan tersebut turut dihadiri Sekjen Kemensos RI Robben Rico, Wakil Wali Kota Semarang Iswar Aminuddin, OPD Pemkab Gresik, serta komunitas wartawan dari KWG dan PWI Gresik.
