MALANG – Dinsos P3AP2KB Kota Malang menggelar sosialisasi peningkatan kapasitas jurnalis ramah anak di Malang Town Square (MATOS) pada Rabu (11/02/2026). Acara ini dihadiri oleh puluhan jurnalis profesional dari berbagai media di Jawa Timur, dengan fokus memastikan jurnalis memiliki pemahaman mendalam dalam mengawal isu-isu anak di era digital.
Kegiatan ini dikemas sebagai bentuk pendampingan, penguatan, dan pengembangan lembaga penyedia layanan peningkatan kualitas hidup anak. Fokus utamanya adalah memastikan jurnalis memiliki pemahaman mendalam dalam mengawal isu-isu anak di tengah derasnya arus informasi digital.
Salah satu narasumber, H. Asmualik, menekankan bahwa pendampingan terhadap anak harus dimulai dari hulu, termasuk melalui narasi yang dibangun oleh media massa. “Media memiliki tanggung jawab besar. Harapannya, para jurnalis mampu memberikan filter yang kuat terhadap informasi yang beredar,” ujar anggota dewan yang juga sebagai Ketua Fraksi PKS DPRD Kota Malang.
Asmualik menyoroti tantangan berat di era digital, di mana media massa sering kali menjadi medan tempur bagi berita-berita bohong (hoax) yang dapat merugikan masa depan anak. Oleh karena itu, jurnalis harus lebih waspada dan bertanggung jawab dalam menyajikan informasi.

Sementara itu, Ketua PWI Malang Raya, Ir. Cahyono, menambahkan bahwa penerapan Kode Etik Jurnalistik (KEJ) harus beririsan dengan perlindungan anak. “Jurnalis dilarang menyebutkan identitas korban kejahatan susila dan tidak menyebutkan identitas anak yang menjadi pelaku kejahatan,” jelasnya.
Beberapa poin penting dalam Pedoman Pemberitaan Ramah Anak (PPRA) yang harus dipatuhi, di antaranya:
- Penyamaran Identitas: Tidak hanya nama, tetapi juga wajah, alamat rumah, hingga nama sekolah yang dapat mengarah pada pengenalan jati diri anak.
- Menghindari Labeling: Tidak menggunakan istilah yang bersifat menghakimi atau memberikan stigma negatif kepada anak.
- Empati dalam Wawancara: Jurnalis dilarang melakukan wawancara langsung yang dapat membuat anak merasa tertekan atau kembali mengingat trauma yang dialami.
Dengan demikian, acara ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran jurnalis dalam melindungi anak-anak dari dampak negatif media dan membangun generasi yang lebih sejahtera. (lil).
