BI Malang Gelar Sosialisasi, Masyarakat Bromo Antusias Pakai QRIS

12 March 2020 - 23:26 WIB
Siti Senorita Printaningrum, Manajer Fungsi Koordinasi dan Komunikasi Kebijakan) BI Malang (kiri) bersama warga dan Kepala Unit Pengawasan Sistem Pembayaran, Pengelolaan Uang Rupiah dan Keuangan Inklusif KPw BI Malang, Fida Affa Arif (kanan) kala mempraktekkan transaksi pakai QRIS.

PASURUAN (surabayapost.id) – Masyarakat di sekitar kawasan Gunung Bromo sangat antusias memakai Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) bila melakukan transaksi. Itu tercermin saat Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Malang melakukan sosialisasi QRIS di Pendopo Agung Wonokitri, Kecamatan Tosari Kabupaten Pasuruan, Kamis (13/3/2020).

Ratusan warga yang berprofesi sebagai petani, pelaku UMKM dan wisata itu tak hanya mendengarkan dan menyimak tentang manfaat dan tata cara bertransaksi secara non-tunai (QRIS). Namun, mereka juga berinteraksi secara aktif dalam sosialisasi yang dipandu Siti Senorita Printaningrum, Manajer Fungsi Koordinasi dan Komunikasi Kebijakan BI Malang
tersebut.

Banyak pertanyaan yang dilontarkan warga di area Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) itu yang sangat menarik. Di antaranya berkaitan dengan keterbatasan fasilitas perbankan dan gangguan koneksi jaringan telepon seluler.

Kepala Unit Pengawasan Sistem Pembayaran, Pengelolaan Uang Rupiah dan Keuangan Inklusif KPw BI Malang, Fida Affa Arif

“Terus terang setelah mendengarkan penjelasan narasumber, kami merasa akan sangat mudah melakukan transaksi pakai QRIS. Namun bagaimana kalau ada gangguan sinyal atau koneksi jaringan telepon saat melakukan transaksi,” kata Puja Wasteta, warga Tosari.

Itu mengingat kata dia, melakukan transaksi lewat e-banking selama ini selalu terkendala masalah sinyal. Beberapa kali melakukan transaksi susah berhasil.

Sementara kata dia fasilitas bank yang ada terbatas. Bank terdekat hanya BRI di Tosari. Sedangkan Mandiri di Nongkojajar. Bank-bank lainnya cukup jauh. “Kalau begitu bagaimana caranya agar kami bisa memakai QRIS dengan aman dan nyaman,” kata dia.

Kepala Unit Pengawasan Sistem Pembayaran, Pengelolaan Uang Rupiah dan Keuangan Inklusif KPw BI Malang, Fida Affa Arif memberikan jawaban dengan gamblang dan detail. Menurut dia, masalah gangguan koneksi jaringan telepon seluler itu bisa teratasi, karena gangguan biasanya bersifat sesaat. Itupun kata ia sudah dikoordinasikan.

“Semuanya sudah kita kerjakan, dari tahun sebelumnya. Ya kita sudah uji sinyal menggandeng Telkomsel, kemudian kita kenapa gandeng Link Aja, karena mereka juga satu manajemen,” katanya.

Menurut dia, sebelumnya sudah melakukan uji sinyal, masuk di daerah Cemoro Lawang. Hasilnya kata dia bagus.

Warga antri mendaftarkan menchantnya untuk menggunakan QRIS

Makanya, terang dia, BI terus mencoba menggunakan QRIS di tempat-tempat tersebut. Meski begitu dia menegaskan bila akan terus berkoordinasi dengan Telkomsel untuk memperkuat jaringannya.

Misalnya, kata dia, menggunakan repeater dan lain sebagainya. Sehingga semuanya mendukung. “Ya nanti kita akan koordinasikan lagi masalah gangguan sinyal itu,” katanya.

Sedangkan mengenai ketersediaan fasilitas perbankan, kata dia, bisa dilakukan di mana saja dan bank apa saja. “Selama bank-bank tersebut sudah memberlakukan pembayaran non-tunai,” kata dia.

Itu karena bank selaku penyelenggara jasa harus memberikan edukasi pada masyarakat. Sebab nanti yang menerbitkan QRIS itu adalah pihak bank bersama penyedia jasa Link Aja.

Makanya dia sangat yakin semua bank akan menerapkan pemakaian QRIS untuk para nasabahnya. Alasannya, karena QRIS itu merupakan program BI yang berlaku secara nasional bahkan internasional di era digitalisasi saat ini.

Untuk itu, kata dia, BI selama ini gencar mensosialisasikan QRIS. Terutama pada Pekan QRIS Nasional (PQN) yang dilaksanakan sejak 9-14 Maret 2020.

Sosialisasi tersebut kata dia dilakukan pada seluruh komunitas dan lapisan masyarakat. Mulai dari kampus, pasar hingga tempat-tempat ibadah dan wisata.

Ratusan warga Bromo saat mengikuti sosialisasi QRIS yang dilakukan BI Malang

Dijelaskan dia bila sosialisasi di destinasi wisata semacam kawasan BTNBTS sangat penting. Sebab wisatawan asing saat ini juga sudah mengenal pembayaran cashless atau non tunai.

“Untuk negara yang paling familiar menggunakan QR Code itu China. Di sana pengemis pun menggunakan QR barcode,” kata dia.

Itu karena, lanjut dia, dengan menggunakan QRIS ini sangat banyak manfaatnya. Menurut dia, bisa terhindar dari uang palsu.

Selain itu, kata dia, sangat memudahkan. Sebab, pembeli bisa bayar dengan uang pas. Penjual tak perlu menyiapkan uang kembalian. “Jadi mudah dan tidak ribet,” kata dia yang diamini Silmia Nurill Hutami, Bussines Development Link Aja.

Karena itu terang Fida, BI melakukan sosialisasi QRIS pada seluruh lapisan masyarakat. Harapannya agar lebih banyak melakukan transaksi non-tunai.

Usai sosialisasi ratusan warga Bromo langsung mendaftarkan menchantnya. Mereka antri mendaftarkan diri agar bisa bertransaksi menggunakan QRIS. (aji).