Cegah Penularan Covid-19, Mahasiswa KKN Unisma Kampanye Protokol Kesehatan Secara Door to Door

21 July 2020 - 22:40 WIB
Mahasiswa Unisma saat KKN melakukan kampanye protokol kesehatan

MALANG (SurabayaPost.id) – Mahasiswa Universitas Islam Malang (Unisma) melaksanakan kuliah kerja nyata (KKN) di Desa Ngadireso Kec Poncokusumo, Kabupaten Malang. KKN selama satu bulan itu difokuskan pada upaya mencegah penularan Covid-19.

Hal utu diakui mahasiswa peserta KKN Unisma, Theo Primadani Subagio, Selasa (21/7/2020). Menurut mahasiswa Fakultas Hukum angkatan 2016 ini, kegiatan KKN memang difokuskan pada pencegahan penularan virus korona.

“Untuk itu kami melakukan kampanye tidak hanya bersifat massal. Namun kami juga melakukan secara door to door,” jelas Theo Primadani Subagio.

Mahasiswa Unisma kala melakukan kampanye protokol kesehatan secara door to door

Dalam kampanye tersebut, kata dia, masyarakat diedukasi bagaimana caranya agar tak tertukar virus mematikan itu. Dia contohkan seperti cara mencuci tangan yang benar.

Selain itu mewajibkan warga memakai masker, dan selalu menjaga jarak (physical distancing). Masyarakat juga diajak untuk selalu meningkatkan daya tahan tubuh.

“Caranya dengan memakan makanan bergizi dan vitamin. Selain berolahraga secara rutin dan bekerja dari rumah,” katanya.

Menurut dia, para mahasiswa yang ikut KKN di Desa Ngadireso itu tak hanya melakukan eduksi pada masyarakat. Namun juga melakukan bakti sosial dengan membagi-bagikan masker dan vitamin.

Mahasiswa Unisma yang KKN melakukan tes suhu badan di pos check point

Bahkan, kata dia, mahasiswa yang ikut KKN itu juga melakukan penyemprotan di rumah-rumah pemukiman warga. Mereka membaur dengan masyarakat dalam memerangi wabah Covid-19 itu.

Disamping itu mahasiswa yang KKN itu juga menginisiasi warga agar tetap menggiatkan adanya pos check point. Sehingga mereka hidup dengan penuh disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan.

Dengan begitu, kata dia, warga Ngadireso bisa hidup dengan tenang tanpa ketakutan dan panik dalam menghadapi wabah Covid-19. “Sehingga mereka bisa hidup dengan normal,” pungkas Theo Primadani Subagio. (Lil)