MALANGKOTA (SurabayaPost.id) — Minggu pagi, 11 Januari 2026, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB) tidak sekadar merayakan usia. Di usia ke-52, kampus ini seperti membuka buku lama—halamannya penuh kenangan, tetapi isinya ditulis ulang dengan tinta kolaborasi lintas generasi. Suasana perayaan terasa hidup, bukan karena seremoni, melainkan karena para alumni yang kini berada di pusat-pusat pengambilan keputusan memilih pulang dan ikut menata masa depan almamaternya.
Mengangkat tema “Dari FK UB untuk Indonesia: Mendidik Tenaga Kesehatan Inovatif Menuju Indonesia Sehat”, peringatan Dies Natalis kali ini menjadi sinyal perubahan arah. FK UB membaca zaman: tantangan kesehatan global tak bisa dijawab hanya dengan nilai akademik. Jejaring, empati sosial, dan keberanian berinovasi kini jadi paket wajib.
Dekan FK UB, Wisnu Barlianto, menegaskan bahwa alumni memegang peran kunci dalam transformasi institusi. Bagi dia, alumni bukan cerita masa lalu, melainkan mitra strategis hari ini—mereka yang membawa denyut kebijakan publik dan realitas lapangan kembali ke ruang kelas.
“Tema FK UB untuk Indonesia itu bukan slogan. Kami ingin kontribusi nyata, baik di bidang pendidikan maupun kesehatan. Karena itu, keterlibatan alumni kami dorong agar kolaborasi untuk kemaslahatan bangsa benar-benar terwujud,” ujar Wisnu.
Kehadiran tokoh-tokoh alumni, termasuk Maulana, memberi warna konkret pada diskusi arah pengembangan fakultas. Namun sorotan juga mengarah pada Gamal Albinsaid, alumni FK UB yang kini duduk di Komisi IX DPR RI. Bagi Gamal, kampus bukan sekadar tempat belajar, melainkan fondasi karakter yang membentuknya sebagai pejabat publik.
“Apa yang kami capai hari ini lahir dari kompetensi dan nilai yang dibangun di FK UB. Itu menjadi tanggung jawab moral kami untuk ikut memajukan fakultas ini,” kata Gamal.
Ia menekankan, peran alumni tak boleh berhenti pada forum diskusi. Aksi nyata harus menyentuh kebutuhan mahasiswa. Melalui jejaringnya dengan kementerian terkait—dari pendidikan tinggi hingga kesehatan—Gamal mengawal berbagai aspirasi civitas akademika agar terdengar di tingkat pusat.
“Setiap aspirasi dari UB, baik dari dekanat hingga fakultas, selalu saya prioritaskan untuk dikawal,” jelasnya.
Hasilnya bukan sekadar wacana. Melalui program aspirasi, ratusan mahasiswa mendapat beasiswa penuh hingga lulus, lengkap dengan uang saku bulanan. “Tahun ini lebih dari 500 mahasiswa bisa kuliah gratis. Totalnya sekitar 700 penerima beasiswa,” ungkapnya.

Dukungan itu juga meluas ke ranah pengembangan kapasitas. Gamal membuka kesempatan magang bagi alumni muda agar mereka bisa belajar langsung tentang tata kelola kebijakan kesehatan—transfer pengetahuan yang nyata, bukan jargon.
Di sisi lain, Dies Natalis ke-52 tetap berpijak pada nilai humanis. FK UB turun langsung ke masyarakat lewat program pengabdian di desa-desa binaan Kabupaten Malang. Menariknya, mahasiswa internasional turut terlibat, menghadirkan nuansa kolaborasi global sejak dini. Aksi donor darah dan sinergi dengan Rumah Sakit Universitas Brawijaya (RSUB) semakin menegaskan komitmen kampus pada dampak sosial yang langsung terasa.
Kehadiran alumni lain seperti Mohammad Saifur Rohman menambah optimisme bahwa FK UB berada di jalur yang tepat. Usia 52 tahun ini pun menjadi lebih dari sekadar penanda waktu—ia menjelma janji bersama. Janji untuk terus melahirkan tenaga kesehatan yang bukan hanya unggul secara klinis dan intelektual, tetapi juga berintegritas, peka, dan siap mengabdi demi sistem kesehatan nasional yang lebih tangguh.
Singkatnya: FK UB tak sedang bernostalgia. Ia sedang menyalakan mesin perubahan—dan para alumni, jelas, memegang kuncinya. (lil).
