Inovasi Perusahaan AS Sokong Pertumbuhan dan Ketangguhan Jawa Timur

Inovasi Perusahaan AS Sokong Pertumbuhan dan Ketangguhan Jawa Timur
Inovasi Perusahaan AS Sokong Pertumbuhan dan Ketangguhan Jawa Timur

SURABAYA (SurabayaPost.id) – Laporan Bisnis AS untuk Indonesia (BISA) 2026 menyoroti peran penting inovasi perusahaan Amerika Serikat (AS) dalam mendukung pembangunan Indonesia. Dua di antaranya menjadi contoh sukses di Jawa Timur.

Di Bojonegoro, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) mengembangkan program pertanian untuk memperkuat ketahanan petani terhadap perubahan iklim. Sementara di sektor farmasi dan energi, APL yang merupakan bagian dari Zuellig Pharma, menerapkan teknologi panel surya untuk meningkatkan efisiensi energi dan menekan emisi karbon.

Didukung oleh Kedutaan Besar AS di Indonesia, Laporan BISA 2026 yang disusun oleh US-ASEAN Business Council (USABC) mengidentifikasi total 91 inisiatif inovasi dari 43 perusahaan AS di Indonesia selama periode Januari 2020 hingga Januari 2026.

Dari jumlah tersebut, 28 inisiatif di antaranya mengungkapkan nilai moneter dengan total mencapai sekitar USD 24,8 miliar. Nilai tersebut mencakup investasi, pendanaan program, hibah, hingga nilai produksi di berbagai sektor, mulai dari teknologi digital dan keamanan siber, energi, pertambangan dan migas, pertanian, hingga jasa keuangan dan fintech.

Senior Director for Strategic Initiatives & ASEAN USABC, Angga Antagia mengatakan, dampaknya sangat besar pada tingkat nasional.

“Secara nasional, inisiatif yang tercatat telah menjangkau sekitar 10,7 juta penerima manfaat melalui berbagai program pengembangan talenta. Inisiatif terkait ketahanan ekonomi dan lingkungan turut mendukung sekitar 8.000 konservasionis dan hampir 3.000 UMKM. Sementara inisiatif untuk meningkatkan daya saing bisnis telah menjangkau sekitar 1 juta pengguna digital dan lebih dari 80.000 UKM,” ujar Angga dalam Roadshow Laporan BISA 2026 di Surabaya, Senin (20/10/2026).

Khusus di Jawa Timur, Angga menyoroti dua program yang menjadi role model.

Pertama, program Bojonegoro Smart Agriculture Farmers Field School yang dijalankan EMCL. Program ini fokus memperkuat praktik pertanian berkelanjutan dan meningkatkan ketahanan petani terhadap tantangan iklim.

Bentuknya berupa pengembangan bibit padi lokal unggul, pembangunan stasiun pengamatan cuaca yang terintegrasi dengan jaringan nasional, serta pengembangan, produksi, dan pemanfaatan pupuk dan pestisida organik untuk meningkatkan produktivitas petani.

Kedua, inovasi energi bersih yang dilakukan APL. Perusahaan farmasi asal AS ini memasang sistem fotovoltaik (PV) surya atap berkapasitas 202,2 kWp di fasilitasnya di Jawa Timur.

Sistem yang terintegrasi dengan jaringan PLN tersebut mampu memasok sekitar 30 persen kebutuhan listrik pada beban puncak siang hari. Model pasokan energi hibrida ini dinilai jauh lebih efisien dan meningkatkan ketahanan energi jangka panjang.

“PLTS atap tersebut diperkirakan menghasilkan sekitar 292.237 kWh listrik terbarukan setiap tahun, sekaligus mengurangi emisi karbon sekitar 264 tCO₂e per tahun,” jelas Angga.

Kedua inisiatif tersebut menjadi contoh konkret bagaimana inovasi perusahaan AS mampu menjawab kebutuhan nyata dan mendukung prioritas pembangunan di Jawa Timur, mulai dari ketahanan pangan hingga transisi energi.

Melalui Roadshow Laporan BISA 2026 di Surabaya, USABC mendorong dialog yang lebih intens mengenai peran inovasi, pengembangan talenta, dan kemitraan pentahelix antara pemerintah, dunia usaha, dan perguruan tinggi dalam memperkuat pertumbuhan dan daya saing daerah.

Acara tersebut dibuka langsung oleh Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Pengembangan Masyarakat Universitas Airlangga (UNAIR), Prof. Muhammad Miftahussurur. Diskusi panel juga menghadirkan perwakilan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Jawa Timur, UNAIR, dan EMCL.

“Kami berharap kisah dan praktik baik dari Jawa Timur ini dapat menginspirasi lebih banyak inisiatif serupa di berbagai daerah di Indonesia. USABC akan terus mendukung sinergi antara sektor publik dan swasta untuk memperkuat pembangunan ekonomi Indonesia yang inklusif dan meningkatkan daya saing daerah,” tutupnya. (Ko).

Baca Juga: