Jadi Pelopor Energi Baru Terbarukan, UMM Raih ASEAN Energy Awards Lagi

31 October 2018 - 09:25 WIB
Rektor UMM Dr Fauzan MPd disela-sela menerima ASEAN Energy Awards di Singapura.
Rektor UMM Dr Fauzan MPd disela-sela menerima ASEAN Energy Awards di Singapura.

MALANG (SurabayaPost.id) – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil meraih ASEAN Energy Award lagi. Award untuk 2018 itu dalam kategori ASEAN Best Practices Competition for Energy Efficient Buildings.

Penganugerahan awards tersebut berkat komitmen UMM menjadi kampus pelopor energi baru yang terbarukan. Untuk itu, Kampus Putih ini dianugerahi sebagai 2nd Runner-up sub kategori bangunan tropis (tropical building) lewat Rumah Susun Mahasiswa (Rusunawa).

Penghargaan tersebut diterima langsung Rektor UMM, Dr Fauzan, MPd di Singapura, Senin (29/10/2018). “Alhamdulillah awards internasional ini sudah jadi langganan kami,” Rektor Fauzan, Rabu (31/10/2018).

Dijelaskan dia bila Rusunawa UMM yang dibangun tahun 2008 itu untuk mendukung Program Pengembangan Kepribadian & Kepemimpinan (P2KK) bagi mahasiswa baru UMM. “Bangunan itu memang berkonsep hemat energi,” terang dia.

Rusunawa itu, kata dia, memiliki banyak ruangan besar dengan atap tinggi serta pintu utamanya dibiarkan terbuka. Tidak ada AC, karena hanya bergantung pada sirkulasi udara alam.

Selain itu, sekitar 90% penerangan bangunan menggunakan cahaya alami selama siang hari. Sehingga, suhu udara di dalamnya sangat ramah lingkungan.

Itu dapat diketahui lewat alat pengukur yang juga ramah lingkungan. Yakni, pengukuran anemometer kawat dengan tiruan perangkat lunak Computational Fluid Dynamics (CFD). Hasilnya menunjukkan bahwa laju kecepatan udara dalam ruangan pada bangunan itu 0,6 m/detik dengan suhu 26,5OC.

Temperatur itu, menurut Fauzan, sesuai dengan persyaratan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 1007/MENKES/PER/ V/2001 (18 – 30OC) dan juga memenuhi persyaratan Standar ASHRAE 55.

Begitu juga dengan intensitas cahaya di ruangan. Menurut Fauzan, intensitas cahaya di Rusunawa itu 567-765 lux. “Itu memenuhi persyaratan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 1007 / MENKES / PER / V / 2011 yang minimumnya 60 lx. Sehingga memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) 03-6197-2011 yang minimumnya adalah 250 lux untuk kamar tidur dan 350 lux untuk kelas,” jelas dia.

Selain itu, Rusunawa UMM sepenuhnya menggunakan sumber energi terbarukan yang disediakan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Sengkaling I. Lokasinya berjarak 600 meter sebelah barat Rusunawa UMM.

PLTMH Sengkaling I itu, jelas Fauzan, menghasilkan daya dengan total 100 KW. Itu memanfaatkan Sungai Brantas melalui saluran irigasi Sengkaling I.

Airnya dijatuhkan dari ketinggian 18 meter untuk menggerakkan turbin dan generator listrik. Rusunawa UMM itu menggunakan sekitar 23 KW. Itu sekitar 23% dari total kapasitas PLTMH Sengkaling I.

Setiap tahun, Rusunawa UMM menggunakan daya sebesar 70,000 kWh. “Jika faktor emisi koefisien untuk jaringan transmisi Jawa –Madura-Bali sebesar 0.891 t-CO2/kWh, maka Rusunawa itu dapat mengurangi gas emisi rumah kaca sebesar 62.37 t-CO2/tahun,” tuturnya.

Semua itu dilakukan UMM, tegas Fauzan, karena Kampus Putih ini telah lama berkomitmen menjadi perguruan tinggi yang memiliki perhatian besar pada inovasi pengembangan energi alternatif. “Kami berkomitmen menjadi kampus pelopor Energi Baru Terbarukan,” papar dia.

Karena itu UMM menjadi satu-satunya perguruan tinggi yang mendapat anugerah internasional itu. “Sebab, penerima lainnya dari perusahaan di wilayah ASEAN,” kata Fauzan sebagaimana yang dirilis Humas UMM.

Dijelaskan Fauzan bila komitmen UMM mengembangkan energi alternatif itu tak hanya dilakukan dalam kampus, seperti PLTMH I dan II. Namun, juga diterapkan pada masyarakat melalui program pengabdian pada masyarakat.

Untuk itu, UMM mengembangkan PLTMH di Sumber Maron, Desa Karangsuko, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Pendirian PLTMH Sumber Maron itu pada tahun 2014.

“Alhamdulillah berhasil dengan baik. Jika mulai tahun 2009 sebanyak 1100 warga masih mengandalkan energi listrik dan PLN. Sejak dibangun tahun 2014, yang menggunakan listrik dari PLTMH meningkat menjadi 1800 warga,” katanya.

Berangkat dari hal itu, kata dia, mulai dilembangkan ke yang lain. Yakni membangun sarana dan prasarana pendukung, yaitu tempat wisata yang pada akhirnya memberi income positif bagi pembangunan desa. “Hal itu yang juga membuat UMM ini mendapat ASEAN Energy Awards 2018,” pungkas Fauzan. (ah)