Kepala BI Malang Ajak Pedagang Praktik Bertransaksi Pakai QRIS

13 March 2020 - 17:33 WIB
Kepala BI Malang, Azka Subhan Aminurridho dan Kepala Unit Pengawasan Sistem Pembayaran, Pengelolaan Uang Rupiah dan Keuangan Inklusif KPw BI Malang, Fida Affa Arif saat mempraktikkan nertransaski pakai QRIS

MALANG (surabayapost.id) – Kepala Kantor Perwakilan (KwP) Bank Indonesia (BI) Malang, Azka Subhan Aminurridho mengajak para pedagang praktik transaksi pakai Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). Praktik tersebut dilakukan dalam rangka Pekan QRIS Nasional (PQN) 2020 di Pasar Dinoyo, Kota Malang, Jumat (13/3/2020).

Ratusan pedagang pasar tradisional itu pun terlihat antusias mengikuti praktik di acara sosialisasi QRIS tersebut. Di antara mereka bergantian melakukan transaksi secara non-tunai.

Itu setelah mereka mendapatkan penjelasan secara rinci dan detail dari Kepala BI Malang, Azka Subhan Aminurridho dan Kepala Unit Pengawasan Sistem Pembayaran, Pengelolaan Uang Rupiah dan Keuangan Inklusif KPw BI Malang, Fida Affa Arif tentang QRIS.

Kepala BI Malang Azka Subhan Aminurridho saat mensosialisasikan QRIS pada para pedagang tradisional.

Sebelum melakukan praktik transaksi memakai QRIS, Kepala KwP BI Malang yang akrab disapa Azka ini menjelaskan jika selama ini ada dua model transaksi. Yakni transaksi uang tunai dan uang elektronik (non-tunai).

“Transaksi elektronik itu bisa lewat kartu kredit atau ATM. Nah saat ini ada lagi transaksi non-tunai itu yang lewat barcode. Namanya QRIS,” jelas mantan pejabat BI Denpasar Bali ini.

Menurut dia, transaksi menggunakan QRIS itu manfaatnya banyak. Sebab, tegas pria ramah dan murah senyum ini, bertransaksi pakai QRIS itu sangat aman dan tidak ribet.

“Pembeli bisa membayar dengan uang pas. Penjual tak perlu lagi menyediakan uang kembalian. Uangnya bisa langsung masuk rekening. Selain itu bisa terhindar dari uang palsu,” jelas Azka.

Selain itu, terang mantan pejabat BI Bandung ini, bisa terhindar dari penularan berbagai virus. Termasuk virus korona.

Kalau bertransaksi memakai uang tunai, kata dia, ada kemungkinan tertular virus penyakit. Dia contohkan seperti kasus yang terjadi di Wuhan, Cina.

“Kasus di Wuhan itu uang tunai dibakar. Sebab, terkontaminasi virus korona. Nah, kalau bertransaksi lewat QRIS akan terhindar dari penularan virus penyakit itu,” tutur bapak dari dua anak ini.

Kepala BI Malang Azka Subhan Aminurridho menjawab pertanyaan pedagang yang ikut sosialisasi QRIS

Selain itu, kata pria asal Semarang ini, bertransaksi pakai QRIS caranya sangat mudah dan simple. Pembeli tidak perlu bawa uang tunai, tinggal screenshot barcode milik pedagang.

“Untuk secara teknis, mbak Fida (Kepala Unit Pengawasan Sistem Pembayaran, Pengelolaan Uang Rupiah dan Keuangan Inklusif KPw BI Malang, Fida Affa Arif-red) nanti akan menjelaskan secara detail. Sebab QRIS itu bisa dipakai untuk pembayaran semua jenis QR Code,” kata dia.

Fida menjelaskan bila QRIS itu merupakan program BI. Itu bekerja sama dengan Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI).

Dijelaskan dia bila QRIS adalah standar kode QR Nasional untuk memfasilitasi pembayaran kode QR di Indonesia. Menurut dia, melalui QRIS, seluruh pembayaran kode QR dapat dilakukan dengan scan ke 1 kode QR yang sama meskipun metode/aplikasi pembayaran yang digunakan berbeda-beda.

Untuk itu, kata dia, pedagang harus punya barcode QR rekening yang dikeluarkan bank. Sedangkan bagi pembeli, pakai QRIS sebagai kanal pembayaran itu harus punya aplikasi seperti OVO, Dana, LinkAja atau mobile banking yang sudah memiliki QR scanner seperti BCA, BRI, Mandiri, BNI, Sinarmas, Maybank, CIMB, dan lain-lain.

“Jika semua itu sudah dimiliki maka tinggal pakai. Pembayaran lewat kanal QRIS bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja,” terangnya.

Usai memberikan sosialisasi, Azka dan Fida mengajak pedagang praktik transaksi memakai QRIS. Di antara para pedagang pun mempraktikkan pembayaran tersebut melalui QRIS. (aji).