RT di Hari Raya: Wajah Negara yang Terlupa di Tengah Semangat Saling Memaafkan

Oleh: M. Masduki

Di setiap perayaan Idul Fitri, gema saling memaafkan terdengar di mana-mana. Pintu-pintu rumah terbuka, tangan-tangan saling berjabat, dan sekat-sekat sosial seolah mencair dalam kehangatan kebersamaan. Kita kembali pada fitrah: menjadi manusia yang saling menghargai, saling mengerti, dan saling memuliakan.

Namun di balik suasana yang penuh kehangatan itu, ada satu peran yang sering luput dari perhatian: Ketua RT.

Ia tidak tampil di mimbar-mimbar besar, tidak pula menjadi pusat perhatian dalam seremoni resmi. Tetapi justru di hari-hari seperti inilah, peran RT menjadi sangat nyata. Ia memastikan lingkungan tetap kondusif, mengatur dinamika warga yang pulang kampung, hingga menjadi penghubung berbagai kepentingan sosial yang mengemuka saat hari raya.

RT adalah wajah negara yang paling dekat dengan rakyat—terutama dalam momen sosial seperti Idul Fitri. Namun ironisnya, justru pada titik kedekatan itulah negara sering abai.

Menjadi RT bukan sekadar menjalankan fungsi administratif. Ia adalah penopang harmoni sosial. Di tengah semangat saling memaafkan, RT sering kali harus memendam beban yang tidak ringan: menjaga keseimbangan antarwarga, meredam potensi konflik, dan tetap berdiri netral di antara berbagai kepentingan.

Realitasnya tidak selalu indah. Dalam kehidupan sehari-hari, RT kerap berada dalam posisi yang sulit. Keputusan yang diambil demi kebaikan bersama bisa saja dipersepsikan sebaliknya. Di sinilah muncul ironi yang kerap dirasakan: berbuat benar belum tentu dianggap benar, apalagi jika terjadi kesalahan.

Idul Fitri seharusnya menjadi momentum refleksi, bukan hanya dalam hubungan personal, tetapi juga dalam cara negara memandang peran-peran sosial seperti RT. Jika di hari raya kita diajarkan untuk saling menghargai dan memuliakan sesama, maka sudah sepatutnya negara juga memuliakan mereka yang selama ini menjaga denyut kehidupan sosial di tingkat paling dasar.

RT bukan sekadar “jabatan rendahan” dalam struktur pemerintahan. Ia adalah fondasi. Tanpa RT yang kuat, negara kehilangan pijakan sosialnya. Tanpa penghargaan yang layak, peran ini akan terus menjadi beban yang dipikul oleh mereka yang sekadar rela, bukan yang dipersiapkan.

Di tengah suasana Idul Fitri, ketika kita saling memaafkan dan memperbaiki hubungan, mungkin ini saat yang tepat untuk melihat kembali: bagaimana kita memperlakukan mereka yang selama ini menjadi penjaga harmoni di lingkungan kita.

Karena pada akhirnya, negara tidak hanya diukur dari kebijakan besar, tetapi dari bagaimana ia hadir dalam kehidupan sehari-hari warganya. Dan di titik paling dekat itu, ada sosok RT—yang sering bekerja dalam diam, tetapi memikul tanggung jawab yang tidak kecil.

Maka, di hari yang suci ini, selain saling memaafkan, barangkali kita juga perlu belajar untuk lebih menghargai. Bukan hanya kepada mereka yang tampak, tetapi juga kepada mereka yang selama ini luput dari perhatian.

Selamat Idul Fitri. Saatnya kembali ke fitrah—termasuk dalam memandang secara adil peran-peran kecil yang sesungguhnya besar.

Baca Juga:

  • Kapolda Metro Jaya Tinjau Pengamanan di Ancol, Pastikan Wisatawan Aman
  • Rasakan Liburan Idul Fitri yang Nyaman di Atria Hotel Malang
  • Polda Metro Jaya Berduka, Salah Satu Anggotanya Gugur dalam Tugas
  • Anggota Dewan Kota Malang, Ustadz Rokhmad: Lebaran adalah Saatnya Silaturahmi dan Bermakna