25 Ribu Pelanggan Terdampak Anomali, Plt Dirut PDAM Janji Dua Pekan Normal

18 January 2019 - 16:58 WIB
Dirut PDAM Kota Malang Anitasari (kanan) didampingi Kabag Humas PDAM Kota Malang Machfiyah.
Dirut PDAM Kota Malang Anitasari (kanan) didampingi Kabag Humas PDAM Kota Malang Machfiyah.

MALANG  (SurabayaPost.id)  – Jaringan distribusi air PDAM Kota Malang tersumbat. Sehingga terjadi anomali pendistribusian air pada 25 ribu pelanggan dari total 161 ribu pelanggan sejak  4 Januari 2019 lalu.

Praktis para pelanggan yang terdampak anomali itu, selama hampir tiga pekan  terakhir ini tidak bisa menikmati air bersih. Wali Kota Malang Sutiaji langsung merespon persoalan tersebut dengan melakukan Sidak ke Sumber Pitu. 

Kondisi anomali itu diakui Plt Dirut PDAM Kota Malang Anitasari.  “Kondisi aliran air PDAM itu menjadi anomali karena aliran airnya kecil. Bahkan bisa mampet atau tak mengalir sama sekali,” kata Plt Dirut PDAM Kota Malang Anitasari saat didampingi Kabag Humas PDAM Kota Malang Machfiyah, Jum’at  (18/1/2019).

Dijelaskan Anitasari bila anomali itu disebabkan sampah, kayu dan materialan bangunan. Sampah dan kayu serta materialan bangunan tersebut merupakan sisa-sisa proyek pemagaran yang dilakukan  PDAM Kabupaten Malang di kawasan Sumber Pitu.

Sampah dan materialan bangunan termasuk kayu itu membuat mampet saringan strainer pipa jaringan induk. Sehingga, para pelanggan di kawasan Kedungkandang tak bisa menikmati air bersih.

Plt Dirut PDAM Kota Malang Anitasari saat memberikan keterangan pers terkait anomali distribusi air yang menyebabkan 25 ribu pelanggan PDAM terganggu.
Plt Dirut PDAM Kota Malang Anitasari saat memberikan keterangan pers terkait anomali distribusi air yang menyebabkan 25 ribu pelanggan PDAM terganggu.

Meski begitu dia mengaku sudah melakukan upaya normalisasi distribusi air tersebut.  Itu dilakukan sejak terdeteksinya gangguan distribusi air lewat Command Center.

Menurut Anitasari, jaringan distribusi yang terganggu itu cukup panjang, yakni sekitar 15 Km. Sehingga, normalisasi dilakukan secara bertahap.

Apalagi, lanjut dia, sampah dan materialan bangunan yang bikin mampet itu cukup banyak. Sehingga harus dilakukan pembersihan terlebih dahulu.

Selain itu, kata dia, proses normalisasi tersebut  diperlukan 2-3 kali pengulangan. “Itu pun harus dilakukan maintenance. Sehingga reservoir yang lain kembali normal,” jelas Anitasari.

Untuk itu, kata dia,  dilakukan percepatan normalisasi dan evaluasi. Itu dilakukan  dengan pergantian air valve di titik-titik kritis jalur pipa transmisi.

Dicontohkan dia  seperti jalur pipa transmisi Simpar Buring Atas. “Kami juga harus melakukan  spey (membuang angin dalam.pipa jaringan). Itu mulai dari jalur transmisi Sumber Pitu. Sehingga air mengalir lancar, tidak terhalang tekanan angin dalam pipa,” jelasnya.

Karena itu, kata dia, dalam proses normalisasi distribusi air ini dijanjikan  Anitasari bakal normal kembali paling lambat dua pekan kedepan. “Bagi pelanggan yang masih terganggu, kami akan mensuplai pakai truk tangki. Yang penting menghubungi via telepon, kami langsung kirim air ke lokasi,” pungkasnya. (aji/lil)