Usia ke-31, Pramita Lab Terus Ekspansi dan Tingkatkan Teknologi

H Sarno Eryanto, Presdir Pramita Lab.
H Sarno Eryanto, Presdir Pramita Lab.

SURABAYA (SurabayaPost.id) – Pramita Lab (Laboratorium Klinik Pramita) memasuki usia ke-31 tahun. Di usianya yang sudah matang itu, laboratorium kelas menengah ke atas ini terus melakukan ekspansi dan peningkatan sumber daya manusia (SDM) serta update teknologi modern.

Ditemui usai acara Corporate Gathering & Seminar Ilmiah “Gizi Seimbang Penunjang Kesehatan Kerja” di Wyndham Hotel Surabaya pada Selasa (16/10/2018), H Sarno Eryanto selaku Presiden Direktur (Presdir) Pramita Lab menjelaskan bahwa Pramita Lab masih dipercaya masyarakat sebagai jujukan hingga usianya ke-31 karena Pramita Lab unggul dalam update tentang teknologi modern.

“Alat kami terbaru dan lengkap. Jadi masyarakat pilih lab untuk semua dan tidak terpisah. Misal layanan treadmill, rekam otak, elektromedis (ECG), USG, hingga mikrobiologi,” katanya.

Kata pria yang pernah mengenyam pendidikan ahli lab di Universitas Airlangga (Unair) ini, bahwa selama perjalanannya melayani masyarakat, Pramita Lab sudah memiliki 32 cabang di seluruh Indonesia termasuk 6 cabang di Surabaya. Dan dalam waktu dekat ini, Pramita Lab akan buka cabang lagi di Tegal, Jawa Tengah. Selanjutnya, pada awal tahun 2019 akan bukan di Jakarta.

“Di Jakarta akan buka yang ke-4. Lalu pada Mei 2019 akan buka di Pontianak, setelah itu di Bali. Kira-kira pada tahun 2019 ada tambahan 4 sampai 6 cabang. Dan kami tidak pernah kesulitan untuk buka 6 cabang selama setahun,” ujar Eryanto.

Meski dikatakan tidak sulit, tapi Eryanto mengakui ada beberapa kendala saat buka cabang laboratorium itu. Kendala itu, lanjutnya, bukanlah dari sisi pendanaan dan peralatan.

“Tapi kami kesulitan SDM di level kacab dan manajer. Hampir dimana-mana kami buka cabang, kendalanya ialah sdm,” katanya.

Mengenai nilai investasinya, Eryanto menyebutkan investasi lab yang dikeluarkan untuk buka cabang berkisar kurang lebih Rp 9 miliar hingga Rp 10 miliar.

“Investasi di lab akan kesulitan jika tidak punya pengalaman. Karena bisnis ini cukup mahal. Walau persaingan lab tidak banyak, ada laboratorium kesehatan yang kecil, dan itu lambat laun akan tersisih. Sebab, aturan Pemerintah lebih ketat dan sulit. Untuk quality control dan ISO tidak sembarangan. Harus siap SDM dan teknologi modern,” jelasnya. (fan)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.