Pembangunan Reaktor Plasma Dinilai Penting untuk Kedaulatan Teknologi Nasional

GRESIK (SurabayaPost.id)— Indonesia dinilai perlu segera membangun reaktor plasma nasional sebagai langkah strategis untuk memperkuat kedaulatan teknologi dan keluar dari ketergantungan pada teknologi impor. Pandangan tersebut disampaikan Bahar Rozikin, pemegang paten plasma smelter non-elektronik.

Menurut Bahar Rozikin, selama ini Indonesia memiliki kekayaan sumber daya mineral yang besar, namun belum sepenuhnya mampu menguasai teknologi pengolahan berteknologi tinggi. Kondisi tersebut membuat Indonesia masih berada pada posisi lemah dalam rantai nilai industri global dan bergantung pada negara lain dalam hal teknologi kunci.

“Tanpa penguasaan teknologi strategis, Indonesia akan terus berada pada posisi pemasok bahan mentah dan sulit mencapai kedaulatan industri,” ujar Bahar Rozikin, Minggu (25/1/26).

Ia menjelaskan bahwa reaktor plasma merupakan teknologi inti yang memiliki peran penting dalam pengolahan mineral strategis dan logam bernilai tinggi. Teknologi plasma mampu menghasilkan suhu ekstrem dengan efisiensi energi yang sangat tinggi, sehingga dinilai lebih efektif dibandingkan teknologi konvensional yang masih bergantung pada energi fosil.

“Reaktor plasma memiliki efisiensi transfer energi yang mendekati 99 persen dan mampu menghasilkan temperatur hingga sekitar 3.900 derajat Celsius,” kata Rozikin.

Menurutnya, penguasaan teknologi reaktor plasma tidak hanya berdampak pada sektor smelter dan metalurgi, tetapi juga menentukan arah kemandirian teknologi nasional. Reaktor plasma dapat diterapkan pada berbagai sektor strategis, termasuk industri lanjutan mineral, pemurnian material semikonduktor, sektor minyak dan gas, hingga pengolahan limbah berbahaya.

Rozikin menilai ketergantungan terhadap teknologi asing berisiko melemahkan posisi tawar Indonesia, baik secara ekonomi maupun geopolitik. Oleh karena itu, pembangunan reaktor plasma nasional dipandang sebagai bagian dari upaya menjaga kedaulatan negara di bidang teknologi dan industri strategis.

“Reaktor plasma bukan sekadar alat produksi, melainkan fondasi teknologi yang menentukan kemandirian dan posisi Indonesia dalam persaingan global,” tegasnya.

Ia juga menekankan bahwa pembangunan reaktor plasma nasional harus didukung oleh kebijakan negara yang konsisten, termasuk pendanaan riset terapan, keterlibatan perguruan tinggi dan lembaga riset, serta sinergi dengan industri nasional. Tanpa dukungan tersebut, Indonesia dikhawatirkan akan terus tertinggal dalam penguasaan teknologi strategis.

Rozikin berharap pemerintah menjadikan teknologi plasma sebagai proyek nasional yang berorientasi jangka panjang, bukan sekadar wacana, demi mewujudkan kedaulatan teknologi dan industrialisasi yang berkelanjutan.

Baca Juga:

  • Kembali ke Gresik, AKBP Ramadhan Nasution dan Babak Baru Kepemimpinan Polres Kota Industri
  • AKBP Ramadhan Nasution Resmi Jabat Kapolres Gresik, Inilah Profilnya
  • Perempuan Akar Rumput Gresik Suarakan Pentingnya Akses Informasi dalam Pembangunan
  • Pemkab Gresik Perkuat JDIH, Dorong Literasi Hukum dan Akses Informasi Publik