MALANG (SurabayaPost.id) – Di era digital, penyebaran informasi bohong (hoaks) dapat lebih mematikan daripada virus itu sendiri. Situasi ini menjadi perhatian serius, terutama terkait isu kesehatan, kebijakan publik, dan teknologi. Nasrullah, M.Si, Ph.D., dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menemukan strategi efektif untuk melawan penyebaran hoaks di media sosial.
Dalam penelitiannya, Nasrullah mengidentifikasi lebih dari 8.000 hoaks terkait vaksin yang beredar dengan pola dan sumber yang beragam. Ia menekankan bahwa pengendalian arus disinformasi harus dipimpin oleh otoritas yang memiliki legitimasi komunikasi publik.
“Riset saya berfokus pada resistensi publik terhadap program vaksinasi akibat hoaks di media sosial. Di era media sosial, infodemik sama bahayanya dengan pandemi itu sendiri,” kata Nasrullah, Rabu (11/2/2026).
Nasrullah merumuskan standar mitigasi komunikasi krisis bagi pemerintah, yaitu model kultivasi ekosistem positif dan strategi pemadam kebakaran (firefighter strategy). Pendekatan preventif dilakukan dengan membangun ekosistem informasi positif, sementara pendekatan reaktif dijalankan melalui respons cepat saat hoaks muncul.
“Pemerintah harus punya sistem deteksi dini dan respons cepat agar hoaks tidak terlanjur dipercaya publik,” tegasnya.
Nasrullah juga menyoroti pentingnya kolaborasi multipihak, termasuk dengan lembaga pemeriksa fakta seperti Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), untuk memperkuat literasi digital publik.
“Keberhasilan kebijakan publik sangat ditentukan oleh kepercayaan dan pemahaman masyarakat. Tanpa komunikasi yang kuat, kebijakan terbaik pun bisa ditolak,” pungkasnya. (lil).
