MALANG (SurabayaPost.id) – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, kebutuhan akan inovasi yang inklusif semakin mendesak. Mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjawab tantangan tersebut dengan mengembangkan solusi berbasis sensor ultrasonik untuk membantu mobilitas penyandang tunanetra.
Naufal Adrien Atalla, mahasiswa Teknik Industri UMM, bersama timnya mengembangkan alat sensor getar yang dapat mendeteksi objek di sekitar pengguna dan menghasilkan umpan balik berupa getaran dengan intensitas berbeda sesuai jarak objek. “Proses pengembangan dilakukan secara kolaboratif oleh lima anggota kelompok, dengan fokus pada konsep hands-free dan biaya produksi yang relatif terjangkau,” ujar Naufal, Kamis (12/2/2026).
Alat ini bekerja menggunakan sensor ultrasonik yang mampu mendeteksi objek di sekitar pengguna. Sensor tersebut menghasilkan umpan balik berupa getaran dengan intensitas berbeda sesuai jarak objek yang terdeteksi. Semakin dekat objek, semakin kuat getaran yang dihasilkan, sehingga pengguna dapat mengantisipasi rintangan tanpa harus menghentikan aktivitas.

Prototipe alat tersebut telah dipresentasikan dalam IE EXPO 2026 dan memiliki potensi untuk terus dikembangkan, terutama pada aspek fungsi tambahan dan penyempurnaan desain. Dosen pembimbing, Dian Palupi Restuputri, menilai inovasi ini lahir dari kebutuhan nyata di masyarakat dan memiliki potensi penggunaan yang lebih luas.
“Ke depan, produk ini berpotensi dikembangkan untuk berbagai kalangan, tidak hanya tunanetra dan lansia, tetapi juga anak-anak, tergantung kebutuhan pasar,” ujarnya.
Dengan penyempurnaan tersebut, inovasi ini diharapkan tidak hanya berhenti sebagai proyek akademik, tetapi berkembang menjadi teknologi yang benar-benar bermanfaat bagi penyandang tunanetra. (lil).
