Belasan Tahun Tekuni Nyinden, Mita Winahyu: Di Kota Batu Ingin ada Idol, dan Sekolah Nyinden

16 November 2022 - 16:04 WIB
Mita Winahyu yang populer dengan sebutan Sinden Mita Ekasari (Ist)
Mita Winahyu yang populer dengan sebutan Sinden Mita Ekasari (Ist)

BATU (SurabayaPost.id) – Belasan tahun menekuni dunia sinden, Mita Ekasari, sebutan nama ketika mentas Mita Winahyu (26) ingin bumikan dunia sinden di Kota Wisata Batu.

Hal ini disampaikan ketika berada dikediamannya Dusun Rekesan Barat, Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Rabu (16/11/2022).

Menurut Mita,dirinya menekuni nyiinden sejak 2009 ketika dirinya masih duduk di bangku SMP hingga saat ini tetap semangat dan eksis.

“Berawal dari Tante saya seorang sinden, dari sini saya tertarik ketika tante sedang mentas,” ujar wanita berparas cantik kelahiran Kelurahan Temas Kota Batu ini.

Selanjutnya, ujar dia, dirinya juga kerap manggung pada acara pencak silat, campur sari, gebyar bantengan, dan acara kuda lumping.

“Termasuk nanti malam kita mengisi acara di Songgoriti, Kelurahan Songgokerto, Kota Batu di gelaran 
kuda lumping,” paparnya.

Ketika disinggung sudah belasan tahun menekuni dunia nyinden dan sudah pentas di mana saja? 

“Alhamdulillah, seperti di Wagir, Ngatang, Dau dan beberapa darah lain.Karena saya punya Paguyuban, MWL (Mita Winahyu Laras) milik saya dan suami,” jelas Mita.

Itu, jelas dia, punya induk sendiri MWL,
selain itu, menurutnya rekan – rekan sejawatnya untuk sinden di Kota Wisata Batu ada sejumlah 4 orang.

“Mereka bertahan untuk nguri – uri budaya sinden. Makanya saya berharap di Kota Batu ada sekolah sinden, melalui dinas terkait saya berharap pula ada Idol Sinden,” harapnya.

Untuk diketahui, menurut Mita, saat ini,  kesenian daerah dan kebudayaan sudah semakin sulit ditemui. Meski begitu, bukan berarti kesenian tersebut hilang, hanya saja dikarenakan faktor perkembangan jaman dan teknologi membuat masyarakat lalai.

“Kendati begitu, kesenian nyinden/sinden masih sering ditemui di acara-acara pagelaran seni.Sinden adalah sebutan bagi wanita yang bernyanyi sebagai pengiring acara-acara kedaerahan seperti pagelaran wayang dan beberapa lainnya,” ucapnya.

Lantas, ucap dia, pesinden harus mempunyai keahlian vokal.Kesenian sinden tidak terlepas dari istilah sekar,  yakni, lantunan nada yang biasa orang dulu lakukan untuk menimang anaknya.

“Menimang anak sebagai pengantar tidur, dan sebagainya, kebetulan saya baru punya momongan juga,” tutup Mita sembari tertawa.(Gus)