BSI Optimistis Perbankan Syariah Tahun 2021 Tumbuh Positif

17 June 2021 - 17:31 WIB
Direktur Utama Bank Syariah Indonesia, Hery Gunardi saat menyampaikan pemaparan “Prospek Perbankan Syariah Setelah Merger” dalam sesi CEO Talk secara daring, Kamis (17/6)/2021. (Istimewa)

JAKARTA (SurabayaPost.id) – Bank Syariah Indonesia (BSI) optimis perbankan syariah tahun 2021 akan tumbuh positif. Sebab, masa pandemi dianggap menjadi tantangan bagi perbankan syariah untuk berinovasi dan mencari peluang-peluang bisnis syariah yang baru. 

Optimisme itu disampaikan Direktur Utama Bank Syariah Indonesia, Hery Gunardi saat memberikan  pemaparan “Prospek Perbankan Syariah Setelah Merger” dalam sesi CEO Talk secara daring, Kamis (17/6/2021).

Dalam acara tersebut juga  dihadiri Jajaran Direksi Bank Himbara, Asisten Deputi Bidang Manajemen SDM Kementerian BUMN Andus Winarno. Selain itu Koordinator Indonesia Finance Learning Institute (IFLI) Andreas Hassim, dan Koordinator Indonesia Finance Research Institute (IFRI) Basaria Martha Juliana.

Menurut Hery Gunardi, keberadaan BSI setelah merger tentunya menjadi leading sharia bank yang bakal mampu merealisasikan potensi bisnis halal ekonomi di Indonesia.

Apalagi, kata dia, strategi BSI untuk menjadi leading sharia bank sangat siap. Dia sebutkan di antaranya dari sisi penguatan SDM dengan mencetak talent-talent berkualitas yang sesuai kompetensi syariah. 

Selain itu, melalui talent Officer Development Program IT dan Manajemen Risk, Skill Coaching dalam rangka IPO. Termasuk juga  Benchmark kompetensi dengan bank-bank syariah di UEA.

Lebih lanjut Hery menjelaskan bahwa berdasarkan data proyeksi OJK dalam pertemuan tahunan jasa keuangan 2021 dan riset internal BSI, industri perbankan syariah akan tumbuh double digit. Secara nasional pertumbuhan ekonomi syariah tumbuh 2,4-3,7%. 

Sedangkan dari sisi pembiayaan dan penghimpunan dana pihak ketiga diperkirakan tumbuh 13-18%.  Sementara  dari sisi kualitas pembiayaan diproyeksi pada posisi 3-3,5%.

Per Maret 2021 kinerja positif Bank Syariah ditunjukkan dengan posisi aset mencapai Rp 605 triliun, pembiayaan tumbuh 6,52% dan penghimpunan dana pihak ketiga 11,58%. Dengan tetap menjaga kualitas pembiayaan npf sebesar 3,29% dan efisiensi BOPO pada posisi 78,75%. 

Meskipun tumbuh secara bertahap, kata Hery, BSI optimis dengan jumlah populasi penduduk muslim Indonesia yang mencapai 229 Juta  menjadi kekuatan tersendiri. Meski target penetrasi ekonomi syariah saat ini masih 6,41% dan lebih rendah dibanding negara di Asia dan UEA, dia yakin akan bertumbuh positif.  

Alasan dia, karena beberapa langkah literasi terus digalakkan. Di antaranya menggaet ekosistem pesantren dan masjid di Indonesia yang mencapai 600 ribu masjid dan 26 ribu pesantren secara serius. 

Disamping itu melalui pembiayaan pertashop di lingkungan pesantren, Direksi Mengajar. Termasuk juga optimalisasi pemberdayaan ekonomi masjid dan ZISWAF serta sinergi dengan BAZNAS untuk penghimpunan zakat.

                                                                                                                                                                            Strategi BSI untuk menjadi leading Bank Syariah juga sudah siap.  Fi antaranya dari sisi penguatan SDM yang mencapai lebih dari 15 ribu pegawai dengan mencetak talent-talent berkualitas yang sesuai kompetensi syariah. Melalui talent Officer Development Program IT dan Manajemen Risk, Skill Coaching dalam rangka IPO, dan Benchmark kompetensi dengan bank-bank syariah di UEA.

Dari sisi penguatan bisnis, BSI akan tetap berfokus pada core bisnis pembiayaan konsumer, penghimpunan dana murah, serta sinergi pembiayaan wholesale sindikasi infrastruktur dan proyek – proyek pemerintah dan BUMN. Dengan tetap menjaga kualitas pembiayaan sesuai prinsip kehati-hatian dan GCG.

Karena itu, BSI optimis bahwa pandemi menjadi sebuah tantangan bagi perbankan syariah untuk berinovasi dan mencari peluang-peluang bisnis syariah yang baru. Sehingga keberadaan BSI setelah merger bisab menjadi leading sharia bank yang merealisasikan potensi bisnis halal ekonomi di Indonesia. (@ji)