Haji Yang Tertunda Bersama Nabi (5 Tamat)

17 July 2021 - 10:13 WIB
Anwar Hudijono

Oleh Anwar Hudijono

Bersama 2.000 muslimin yang langsung dipimpin Nabi Muhammad SAW, kita menunaikan umrah qadla (umrah pengganti). Sebagai pengganti umrah/haji yang gagal tahun lalu. Berarti ini terjadi pada tahun 7 Hijrah.

Kita memasuki Mekah dengan leluasa. Quraisy hanya mengawasi kita dari Jabal Abu Qubais, gunung di samping Baitullah.

Labbaika .. labbaika.. .

Begitu suara kaum muslimin menggema seolah menggetarkan Baitullah. Bukit-bukit batu karang di sekelilingnya seolah mau runtuh. Bahkan langit pun seolah terguncang.

Kita mengikuti semua apa yang dilakukan Nabi. Manusia kekasih Allah ini menyelubungkan dan menyandangkan kain jubahnya di badan dengan membiarkan lengan kanan terbuka.

Kita mengikuti Nabi mengucap, “Allahumma irham imra’an arahum al-yauma min nafsihi quwwatan.” (Ya Allah berikanlah rahmat kepada orang yang hari ini telah memperlihatkan kemampuan dirinya).

Kita tetap mengikuti apapun tindakan Rasulullah. Menyentuh Hajar Aswad terus berlari-lari kecil keliling Ka’bah. Sesampai di rukun yamani (sudut selatan Ka’bah) Rasulullah menyentuhnya. Setelah tiga kali dengan lari-lari kecil selanjutnya dilakukan dengan jalan kaki biasa.

Semua dilakukan dengan khusyuk. Fokus. Penuh semangat. Air mata yang membanjir adalah air mata bahagia. Air mata syukur atas nikmat yang tiada tara.

Rumah syirik

Setelah selesai, kita baru menyadari bahwa Baitullah telah ternodai oleh kekafiran. Rumah Allah ini dijubeli berhala-berhala berupa patung-patung beraneka bentuk. Ada Latta, Uzza, Manat, Hubal, Na’ila, Isaf, dan sebagainya.

Kita semua menangis. Semua marah. Larut dalam ombak lautan emosi yang bergulung-gulung. Mengapa rumah tauhid jadi rumah syirik. Mengapa berhala-berhala Namrudz yang dulu dihancurkan Ibrahim kini malah memenuhi Masjidilharam. Pengikut Namrudz kini menjadikan Baitullah seperti kuil Babilon. Mereka bukan mengangungkan asmaul husna (nama-nama baik Allah) tetapi mereka mendendangkan nyanyian setan. Melolongkan mantra-mantra sihir.

Al Quran menjelaskan: “Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidilharam kamu samakan dengan orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah. Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang dzalim”. (Quran: At Taubah 19).

Allah juga menegaskan di Quran: Al Anfal 34-35.
“Dan mengapa Allah tidak menghukum mereka padahal mereka menghalang-halangi (orang) untuk (mendatangi) Masjidilharam dan mereka bukankah orang-orang yang berhak menguasainya? Orang yang berhak menguasai (nya) hanyalah orang-orang yang bertakwa, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.

“Dan shalat mereka di sekitar Baitullah itu, tidak lain hanyalah siulan dan tepuk tangan. Maka rasakan azab disebabkan kekafiranmu itu.”

Saking emosinya, Abdullah bin Ruwahah, seorang sahabat sejati Nabi, sampai mengucapkan kata yang emosional. Bisa memancing perang dengan Quraisy. Tapi secepatnya Umar meredam.

Kita melihat Rasul dengan sangat bijaksana dan penuh kasih mendekatinya Ibnu Ruwahah.

“Sabarlah, Ibnu Ruwahah. Atau ucapkan sajalah kalimat: La ilaha illa Allah wahdad, wanashara abdah, wa’a’azza jundah, wakhazhalal’-ah-zaba wahdah.” (Tiada tuhan selain Allah Yang Esa, yang telah menolong hamba-Nya, memperkuat tentara-Nya dan menghancurkan sendiri musuh yang bersekutu).

Kita semua bertekad akan mensucikan kembali Baitullah. Membersihkannya dari syirik. Hanya menjadikan sebagai tempat menyembah Allah. Yang mengelola Baitullah pun orang yang bertaqwa.

Fathul Mekah

Doa kita dikabulkan. Janji Allah adalah haq (benar). Allah tidak pernah menyalahi janji. Setahun kemudian kita datang dengan 10.000 orang yang siap perang. Jumlah pasukan yang tidak pernah dimiliki orang Arab sebelumnya. Mekah kita bebaskan. Baitullah kita sucikan. Dalam sejarah Islam disebut Fathul Mekah (Terbukanya Mekah).

Fathul Mekah sudah usai. Hati kita bergetar ketika mengingat dan merenungi ayat-ayat Quran surah At Taubah 19, An Anfal 34-35 di atas. Mungkin dulu Ibrahim, Ismail dan beberapa generasi setelahnya tidak pernah memperkirakan Baitullah akan jadi tempat menyembah berhala-berhala. Jatuh ke tangan pengelola kafir. Menjadi tempat tujuan bisnis semata sedang haji dan umrah hanya untuk sambilan.

Tapi entah sejak kapan Baituillah tertutup oleh kekafiran laksana matahari yang tertutup oleh malam yang gelap pekat. Entah siapa yang memulai pujian-pujian kalimah thayyibah berganti dengan nyanyian setan dan dengungan mantra-mantra sihir.

Setelah Fathul Mekah apakah mungkin kasus Baitullah tercemar terulang? Ka’bah tertutup kepalsuan? Tauhid dicampuri syirik, khurafat dan tahayul? Kembali dijubeli dengan berhala-berhala neo Latta, Uzza, Manat, Hubal, Isaf, Na’ila?

Miris. Kita bayangkan kelak jumlah umat Islam di dunia meningkat pesat. Kemampuan umrah dan haji semakin tinggi. Maka umrah dan haji akan menjadi pusat perputaran uang dalam jumlah yang sangat besar. Hal ini bisa mengundang Qorun-Qorun untuk menjadikan bisnis yang potensial, obyek untuk membesarkan gunung rotinya.
Umrah dan haji digeser menjadi wisata. Aktivitas menyalurkan hedonisme. Alat pencitraan. Mengejar gelar kehormatan dunia. Mereka membawa “tuhan uang” ke dalam Baitullah. Mereka mengilahikan hawa nafsu menggantikan lillahi ta’ala (untuk Allah semata).

Tiga cabang

Pasti Qorun tidak akan sendiri. Pasti akan disertai Firaun dan Haman. Mereka pada dasarnya satu tubuh tiga cabang. Mereka persekutuan abadi. Satu yang tiga, tiga yang satu.Bisa disimbolkan segitiga sama sisi. Meski dibolak-balik sehingga menyerupai bintang segi enam tetapi tetap substansinya.

“Pergilah kamu mendapatkan naungan yang mempunyai tiga cabang.” (Quran: Al Mursalat 30).

Siapa yang punya tiga cabang itu? Itulah setan besar. Big-bos penghuni neraka. Yang kita lempari di Mina sertiap musim haji dalam wujud simbolik Jumrah Ula, Jumrah Tsani dan Jumrah Aqaba.

Bisa saja setan besar ini akan menjilma dalam alam virtual. Alam maya. Sebagai sistem ideologi. Firaun akan muncul sebagai despotisme. Qorun sebagai kapitalisme. Dan Haman sebagai liberalisme.

Despostisme menjadikan umrah dan haji alat kekuasaan yang menindas. Memecah belah umat dengan membentuk klaster-klaster haji. Ada haji vvip, vip, ekonomi, haji jalan kaki, umrah/haji plus, plus-plus. Menjadi alat politik kekuasaan yang dhalim.

Liberalisme Haman yang sangat cerdas akan menciptakan piranti sihir yang dipadukan dengan sains. Jika jaman Musa hanya menggunakan seutas buhul (tali), yang itu pun sudah menggetarkan Musa. Di Jaman Rasulullah ada istri Abu Lahab yang menggunakan seutas buhul di kalung yang mampu membakar kedengkian Quraisy terhadap Nabi.

Bisa saja Neo Haman menciptakan jutaan buhul berbahan besi dan tembaga. Sejak jaman Daud mereka berusaha menguasai besi tapi dikalahkan Daud. Nabi Sulaiman menguasai tembaga yang mengalir sehingga setan tak mampu merebutnya. (Quran: As-Saba’ 12).

Buhul Haman ini menghubungkan kekuatan sihir yang bergerak sangat cepat turun dari langit ke bumi dan dari bumi naik ke langit. Mungkin kelak disebut internet yang bergerak antara server di perut bumi atau bawah laut dan yang di atas disebut satelit. Mungkin lo. Selebihnya Rabbi a’lam. Tapi yang jelas namanya bukan kentongan, simbukan atau bagong.

Bisa saja akan muncul dengan alat yang menjadikan setiap jamaah umrah dan haji tanpa sadar membawa konten maksiat dan mungkarat, materi najis, pesan kekafiran ke dalam Baitullah. Piranti yang bisa menyanyikan lagu setan di dalam Baitullah sehingga merusak ibadah orang lain. Dari piranti itu di Baitullah bisa menyebar hoax, fitnah, memecah belah ukhuwah.

(Mungkin di awal abad ke-21 disebut gadget, android, telepon pintar dsb. Adapun sistem pengaturnya disebut artificial intelligent). Mungkin lo. Sekali lagi mungkin. Yang pasti namanya bukan bakiak atau cilok.

“Wa min syarrin naffastati fil uqod (Dan dari kejahatan penyihir yang meniup pada buhul-buhul (talinya).” (Quran: Al Falaq 4).

Haman akan bekerja sama dengan setan-setan ahli bangunan yang dulu ditaklukkan Sulaiman. Mereka akan membangun kuil-kuil Namrud dan Firaun yang megah menjulang tinggi untuk menutup Masjidilharam. Akan menciptakan matahari dunia yang kemilau cahaya bisa dilihat dari jarak 25 kilometer untuk menyuramkan cahaya Allah.

Tobat akbar

Oh.. betapa sedihnya. Padahal haji adalah persaksian bahwa manusia itu sama. Hanya takwa yang membedakan di hadapan Allah. Haji adalah bentuk syiar Islam internasional. Diikuti umat Islam di seluruh dunia. Bukan ibadah lokal atau regional.

Haji adalah wujud persaudaran umat Islam tanpa sekat-sekat jabatan, ras, kebangsaan, kekayaan. Umrah dan haji adalah refleksi kesahajaan, ketawakalan Ibrahim, Hajar, Ismail. Umrah dan haji adalah simbol penciptaan manusia. Dari Allah dan pasti akan dikembalikan kepada Allah. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.

Kita segera tersadar dari lamunan. Kontan ingat Surah An Nasr yang mengabadikan Fathul Mekah.
“Fasabbih bi hamdi rabbika wastaghfirhu innahu kana tawwaba.”(Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan memohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima Tobat).

Sudah saatnya kaum muslimin melakukan tobat akbar secara global sejalan dengan eksistensi haji sebagai ibadah akbar dan global.Tobat, istighfar itulah kunci memperoleh pertolongan dan rahmat Allah.

“Rabbi adhilni mudkhala sidqi wa akhrijni mukhraja sidqi waj-alli min ladunka sulthanan-nashira. Wa qul jaal haqqu wa hazaqal bathil innal bathila kana zahuqan (Ya Tuhanku, masukkan aku ke tempat masuk yang benar dan keluarkan (pula) aku ke tempat yang benar dan berikankah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang dapat menolong (ku). Dan katakanlah, kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap. Sungguh yang batil itu pasti lenyap. (Quran: Al Isra 80-81).

Rabbi a’lam (Tuhan lebih dan paling tahu).

Astaghfirullah. Barokallahu li walakum.(*)

Referensi:
• Muhammad Husain Heikal, Sejarah Hidup Muhammad, Tintamas Indonesia 1978.
• Dr Ali Shariati, Haji, Penerbit Pustaka Bandung 1995.

• Sumber-sumber lain.

Sidoarjo, 15 Juli 2021