Infeski Paru-Paru, Meninggal Dimakamkan SOP Covid, Syahrul Munir Komisi lll : Anggaran Rp300 Miliar Dikemanakan..?

20 June 2020 - 18:26 WIB

GRESIK (SurabayaPost.id)-Wakil Ketua Komisi lll DPRD Gresik, Muhammad Syahrul Munir, mengungkapkan ketidakberesan dan berbagai kejanggalan dalam proses pemakaman jenazah yang diklaim sebagai positif Covid-19.

Alumni Jurusan Cultural Studies di Sorbonne University of Paris ini melalui orang dekatnya sekaligus saksi saat ia memberikan penghormatan terakhir atas pemakaman jenazah Kapiyah (60) warga Desa Tanggulrejo, Kecamatan Manyar, Jumat (19/6).

Usai pemakaman, Syahrul pun menceritakan terkait almarhumah Ibu Kapiyah. Sewaktu kecil hingga sekarang, dia memanggilnya Mak Ya. “Saya begitu dekat dengan Mak Ya, karena rumahnya persis sebelah depan rumah saya,” tutur Syahrul, Sabtu (20/6).

Syahrul, membeberkan, jika Mak Ya ini sesungguhnya hanya menderita sakit infeksi paru-paru. Bahkan, setelah dirapid test hasilnya nonreaktif. “Yang membuat emosi jiwa saya membuncah, mengapa Mak Ya harus di PDP kan?,” ucapnya dengan nada meradang.

Mak Ya pun, lanjut Syahrul kemudian dirujuk dari RS Fathma Medika Manyar ke RS PKU Muhammadiyah Sekapuk Ujungpangkah, karena RSUD Ibnu Sina penuh. Dengan konfirmasi bahwa swab test akan keluar sekitar 3 hari.

“Ini pelayanan yang seringkali dikeluhkan oleh para keluarga pasien, kenapa begitu lama hasil swab keluar. Berbiaya juga ternyata, sekitar Rp 2,5 juta,” terangnya.

Tidak cukup sampai di situ, ternyata, banyak carut marut dan berbagai kejanggalan dalam penanganan pasien Covid-19 di Gresik. Pertama, Mak Ya harus dikumpulkan dengan pasien-pasien PDP (Pasien Dalam Pengawasan) lain sedang ia dalam kondisi membutuhkan pendampingan ekstra oleh pihak keluarga.

Kedua, pihak keluarga dipungut bayar untuk APD (Alat Pelindung Diri) setiap kali masuk jenguk. Nilai nominalnya Rp. 350 ribu untuk sekali masuk. Info terakhir Rp. 400 ribu kemudian ditawar jadi Rp. 300 ribu sekali masuk. Padahal Pemkab sudah menganggarkan untuk kecukupan APD bagi rumah sakit, khususnya RS Rujukan. Lalu, untuk apa anggaran Rp 300 miliar lebih untuk penanganan Covid-19 di Kabupaten Gresik?

Ketiga, dari cerita keluarga, Mak Ya mengeluhkan sesak nafas karena mengaku shock dengan pasien sebelahnya yang meninggal lebih dulu. Memang dari dulu Mak Ya seringkali ngumpet jika ada tetangga yang meninggal. Betapa shocknya saat itu beliau dengan kondisi bersebelahan langsung dengan pasien meninggal.

“Namun ketika itu saya masih positif thinking bahwa masih ada harapan untuk sembuh karena masih bisa diajak ngobrol. Tapi pihak keluarga sudah mewanti-wanti untuk persiapan yang lebih buruk. Sementara dikabarkan pula oleh pihak RS bahwa swab mundur 5-6 hari dari yang sebelumnya dijanjikan 3 hari. Apa sebegitu lemotnya fasilitas penunjang kesehatan ini yaaaaa ? Jawabannya IYA,” tegas Syahrul lagi-lagi dengan nada meradang menahan kekecewaan.

Syahrul mengungkapkan, mudah-mudahan jika terjadi hal terburuk, warga semua siap dan tanpa panik untuk menghadapi segala hal ini. Karena risiko psikologis masyarakat paling dipertaruhkan jika hal itu terjadi. Sementara swab juga belum keluar.

“Walhasil, tepat antara adzan Sholat Subuh dan Iqomah, pihak keluarga menelpon saya dan memberi kabar onnalillahi wainna ilaihi rojiun, Mak ya berpulang ke rahmatullah,” ungkapnya

Diapun bergegas ke mushollah untuk mengabari warga dengan segera sehabis jamaah Shubuh. Masyarakat pun menerima. Tidak ada kepanikan untuk itu, Alhamdulillah.

“Setelah itu saya ke rumah Kades dan ke Takmir Masjid, kita berbicara kemungkinan terburuk dan pola penghormatan jenazah yang kami anggap terbaik. Semua berjalan sesuai harapan dengan keputusan bahwa pihak keluarga menyolatkan di aula rumah sakit, sedangkan warga menghormat jenazah dengan sholat ghoib ba’da jamaah Jumat,” beber Syahrul.

Selanjutnya, relawan Satgas Covid desa dipersiapkan sedemikian rupa untuk menyambut kedatangan jenazah. Dan semua berjalan lancar, hingga jenazah datang di pemakaman. Namun, jenazah dimasukkan ke dalam peti yang seadanya. Padahal Pemkab sudah menyiapkan peti yang bagus bagi pasien yang diCOVIDkan.

Belum lagi ketidaksiapan APD dari entah ini RS nya, Puskesmasnya, atau Dinkesnya, sehingga APD yang dipakai relawan desa kita persiapkan secara mandiri. Tentu SANGAT KECEWA dengan bentuk kecerobohan dan miskordinasi prosesi pemakaman seperti ini.

“Namun, desa berhasil melewati proses ini dengan sigap dan gotong royong. Tentu ini bukan dalam rangka saling menyalahkan, namun saling berbenah. Semoga wabah corona segera sirna,” pungkas Syahrul.