Jelang Kejurkab, Ketua ORADO Gresik : Domino Olahraga Pikir

Gresik (SurabayaPost.id)– Menjelang pelaksanaan Kejuaraan Kabupaten (Kejurkab) yang dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 28 Maret 2026, Federasi Olahraga Domino Indonesia (ORADO) Kabupaten Gresik menegaskan komitmennya mengembalikan marwah domino sebagai olahraga olah pikir, bukan perjudian.

Permainan domino sendiri memiliki jejak sejarah panjang. Berasal dari China pada abad ke-12, domino awalnya dimainkan sebagai permainan strategi yang menuntut kecermatan berpikir. Permainan ini kemudian menyebar ke Italy pada abad ke-18 sebelum akhirnya dikenal luas di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

Di tanah air, domino berkembang sebagai permainan rakyat yang lekat dengan budaya berkumpul. Di banyak kampung, permainan ini menjadi sarana interaksi sosial sekaligus adu kecerdasan. Bahkan, domino kerap disebut sebagai “catur rakyat” karena membutuhkan strategi, kemampuan membaca pola, serta ketenangan dalam mengambil keputusan.

Namun, memasuki era 1970 hingga 1990-an, terjadi pergeseran cara pandang. Domino mulai dimainkan dengan tambahan taruhan, yang awalnya hanya bersifat ringan—sekadar uang rokok—namun perlahan berkembang menjadi praktik perjudian. Sejak saat itu, citra domino mulai berubah di mata masyarakat.

Perubahan ini semakin menguat seiring penegakan hukum terhadap perjudian melalui KUHP Pasal 303, yang secara tidak langsung menyeret domino ke dalam stigma negatif, meskipun yang bermasalah sejatinya adalah praktik taruhannya, bukan permainannya.

Ketua ORADO Gresik, M Choirul Rizal, menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak boleh terus dibiarkan.

“Domino ini sejak awal adalah olahraga strategi, olahraga otak. Bukan judi. Yang membuatnya terlihat seperti judi itu praktik oknum, bukan permainannya,” tegas Choirul Rizal, Jumat (27/3/2026).

Menurutnya, Kejurkab ORADO Gresik menjadi momentum penting untuk mengembalikan citra domino ke jalur yang benar. Seluruh pertandingan akan dilaksanakan dengan sistem resmi, aturan ketat, serta pengawasan penuh tanpa adanya unsur taruhan.

“Kami tegaskan, tidak ada taruhan. Ini murni kompetisi olahraga. Semua peserta bertanding berdasarkan kemampuan membaca permainan, strategi, dan ketenangan berpikir,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya pengakuan pemerintah terhadap domino sebagai olahraga melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia sebagai tonggak kebangkitan domino secara nasional.

“Ketika negara sudah mengakui, maka tugas kita di daerah adalah menjaga marwah itu. Jangan sampai domino kembali ditarik ke citra lama yang keliru,” imbuhnya.

Lebih jauh, Choirul Rizal menilai bahwa domino memiliki nilai edukatif yang tinggi, terutama dalam melatih konsentrasi, kecermatan, serta kemampuan mengambil keputusan secara cepat dan tepat.

“Domino melatih cara berpikir. Ini yang harus dipahami masyarakat. Kita ingin generasi muda melihat domino sebagai olahraga cerdas, bukan aktivitas negatif,” katanya.

Kejurkab ORADO Gresik 2026 sendiri diproyeksikan menjadi ajang seleksi atlet terbaik yang akan dipersiapkan menuju tingkat provinsi hingga nasional.

“Ini bukan hanya soal menang atau kalah. Ini soal membangun ekosistem olahraga domino yang sehat, profesional, dan bermartabat,” pungkasnya.

Dengan semangat tersebut, ORADO Gresik berharap Kejurkab 2026 menjadi titik balik perubahan persepsi publik—bahwa domino adalah olahraga olah pikir yang layak mendapat tempat sejajar dengan cabang olahraga lainnya, bukan lagi identik dengan praktik perjudian.

Baca Juga:

  • Domino Naik Kelas! Kejurkab ORADO Gresik Siap Meledak, Resmi Jadi Olahraga yang Diakui Negara
  • Tak Sekadar Mudik Gratis, Strategi Pupuk Indonesia Tekan Kecelakaan dan Kemacetan Lebaran
  • Usai Menghujat Kadishub Gresik, Pensiunan PNS Eselon III Ini Akhirnya Minta Maaf
  • Kritik Terminal Bunder Salah Sasaran: Penglola Terminal Bunder Bukan Dishub Gresik