KADER PARTAI POLITIK APA BISA JADI ANGGOTA ICMI?

2 March 2023 - 08:41 WIB

Oleh : Ulul Albab
Ketua ICMI Jatim

Jelang pelaksanaan Silaturrahmi Kerja Wilayah (SILAKWIL) 12 Maret 2023, di H-10 ini ada beberapa pertanyaan yang harus saya jawab dan saya luruskan. Salah satu pertanyaan yang sering diajukan adalah, “Apakah ICMI menerima anggota dari kader partai politik?”.

Jawaban spontan saya adalah “bisa, boleh, dan why not”.

Memang benar ICMI didirikan bukan dimaksudkan untuk menjadi partai politik. ICMI didirikan sebagai organisasi modern yang terbuka. Keanggotaan ICMI boleh dari elemen masyarakat mana saja. Yang menjadi persyaratan, sekaligus menjadi ciri dan karakter khas ICMI dalam menerima dan mengembangkan keanggotaan adalah; “Kecendekiawanan, Keislaman, dan Keindonesiaan”.

Jadi dengan 3 kata kunci tersebut, maka siapapun bisa dan boleh menjadi anggota ICMI asal mereka cendekiawan, muslim, dan warga negara Indonesia yang berkomitmen kuat mendedikasikan diri untuk menjadikan Indonesia sebagai negara hebat, sebagaimana yang dicita-citakan dalam pembukaan UUD 1945, Pancasila dan konstitusi lainya.

Teman-teman cendekiawan muslim, yang saat ini berada dan menjadi elemen penting di partai politik, justru diharapkan punya waktu dan kesempatan untuk bergabung bersama di ICMI. Mengambil peran aktif dan berkontribusi nyata dalam menggerakkan dan membesarkan ICMI untuk menebar seluas-luasnya kemaslahatan ummat dan bangsa Indonesia.

Pada sisi lain, dengan bergabungnya para cendekiawan muslim dari partai-partai politik, misi ICMI untuk membangun SDM Indonesia yang unggul – yaitu SDM yang cerdas, berakhlaq mulia, mandiri, cinta tanah air dan bangsa – insyaalloh akan lebih mudah direalisasikan.

SIKAP ICMI DALAM PEMILU

Pertanyaan berikutnya adalah; jika kader parpol boleh masuk ICMI lalu bagaimana sikap ICMI dalam menghadapi hiruk pikuk saat pemilihan umum?

Pertanyaan ini harus juga dijawab spontan. Bahwa yang menjadi anggota ICMI adalah orang per orang dengan kreteria 3 kata kunci tadi, yaitu “Kecendekiawanan, Keialaman, dan Keindonesiaan”. Jadi bukan partai politiknya. Bukan symbol dan warna politiknya. Tapi identitas dan jatidiri seseorang sebagai cendekiawan muslim yang cinta Indonesia.

Dengan demikian maka ICMI tidak mungkin terlibat dan melibatkan diri secara emosional saat terjadi hirup pikuk pemilihan. Justru ICMI bisa mengambil peran lebih konstruktif dengan memberikan bekal khusus kepada anggotanya yang terlibat dalam hiruk pikuk pemilihan. Bekal dimaksud adalah kederisasi tentang berpolitik yang santun, berpolitik cerdas dan lugas, berpolitik yang Amanah tanpa amarah dan fitnah, dan seterusnya.

Singkatnya, tak boleh ada halangan sedikitpun bagi ICMI untuk tetap menjalankan misinya dalam membangun SDM Tangguh.

BOLEH NGGAK ICMI DIJADIKAN ALAT KAMPANYE?

Ini pertanyaan sudah agak kompleks. Mengapa? Karena sesungguhnya pertanyaannya bisa dikembalikan kepada pelaku itu sendiri dengan pertanyaan begini. Apa kalian sudah siap dengan konsekwensi membawa nama ICMI dalam kampanye? Sebab apa. Sebab setiap kader partai yang berani membawa identitas ICMI maka kepadanya berlaku kewajiban untuk menjaga wibawah dan marwah ICMI. Tentu saja dia harus bisa tampil sebagai sosok cendekiawan, yang muslim, dan yang cinta Indonesia.

Penjabaran tentang marwah ICMI akan panjang lebar, dan perlu ditulis secara tersendiri. Maka dalam kaitan dengan pertanyaan tersebut yang bisa secara spontan dijawab adalah; bahwa ICMI bukan alat kampanye. Tapi ICMI adalah rumah besar bagi semua cendekiawan muslim untuk bersilaturrahmi, berdialog, saling mengasah diri untuk menjadi kader bangsa yang berkualitas.

Sebagai kata akhir dari tulisan ini ada satu pesan umum yang perlu disampaikan. Yaitu; segeralah mengambil peran untuk membangun kemaslahatan ummat dan bangsa. Bukan saja karena ummat dan bangsa sedang membutuhkan, tetapi peran dan kontribusi kita pada wilayah tersebut akan menentukan kualitas diri kita, baik di mata manusia maupun di mata Tuhan. Allah SWT.

Surabaya, 2 Maret 2023
H-10 Jelang Silakwil ICMI Jatim