Kembangkan Kemandirian WBP, Lapas Kelas 1 Malang Budidayakan Maggot Hingga Produksi Layak Jual

4 April 2022 - 20:51 WIB
WBP Lapas Kelas 1 Malang, mengembangakan kemandirian dengan budidaya maggot
WBP Lapas Kelas 1 Malang, mengembangakan kemandirian dengan budidaya maggot

MALANGKOTA (SurabayaPost.id) – Lapas Kelas I Malang kembali lakukan inovasi, untuk pengembangan kemandirian Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) yang ada di lingkungannya.

Kali ini WBP Lapas Kelas I Malang diberikan ruang dan kesempatan untuk membudidayakan maggot, dari pembibitan, pengolahan dan pengemasan hingga layak jual.

Dalam pengolahannya, WBP Lapas Kelas I Malang diarahkan untuk memproduksi maggot kering. Secara nilai ekonomi, harga maggot kering jauh lebih mahal, apabila dalam pengolahannya, menonjolkan kualitas dari pengolahan maggot tersebut.

Salah satu WBP yang mengikuti kegiatan tersebut Sucipto mengatakan, maggot hidup pada dasarnya memang bisa langsung dijual dengan harga Rp 6 ribu hingga Rp 7 ribu perkilonya. Dari awal, budidaya maggot di Lapas mampu memproduksi berbagai olahan maggot.

“Seperti diolah menjadi maggot kering dan diproduksi dalam bentuk pelet atau pakan ikan. Untuk maggot kering pembuatannya cukup mudah dan harganya lebih tinggi daripada maggot basah,” ungkapnya.

Budidaya maggot inovasi Kalapas Kelas 1 Malang, RB Danang terhadap WBP
Budidaya maggot inovasi Kalapas Kelas 1 Malang, RB Danang terhadap WBP

Untuk pembuatan maggot kering sendiri dirinya dijarkan menggunakan dua alternatif. Yakni dengan dijemur atau dimasak menggunakan arang dan pasir.

“Untuk metode penjemuran biasanya memakan waktu 2 – 3 hari sampai maggot tersebut kering. Sedangkan dari kami biasa menggunakan arang dan pasir, yang kadarnya sudah ditentukan,” lanjutnya.

Dirinya menjelaskan untuk tahapan pertama, maggot hidup direbus di air mendidih, hingga maggot mati. Kemudian dijemur sekitar satu jam, hingga kadar air berkurang.

Kemudian menyiapkan tungku beserta arang yang sudah dibakar. Maggot yang telah dijemur dimasukkan setelah memanaskan pasir sangrai yang sudah dibersihkan (dicuci dan dikeringkan), di wajan penggorengan.

“Memasaknya harus dengan cara dibolak-balik, agar maggot tidak gosong. Sekalinya gosong, harus dibuang karena tidak bisa dipakai, dan juga tidak dapat dijadikan pelet maupun pakan hewan,” tandasnya.

Inovasi ini didorongnya agar bisa semakin banyak menyerap WBP untuk menimba ilmu. “Inovasi tiada henti sudah menjadi motto kami, khususnya di Unit Kegiatan Kerja Lapas Kelas I Malang,” pungkasnya. (lil)