Konflik Kaum Giri dan Yayasan yang Tak Kunjung Usai

Malam itu, di pelataran makam Sunan Dalem, hanya cahaya ponsel para peziarah yang berkelip-kelip memecah kegelapan. Suasana yang biasanya teduh dan sakral berubah muram. Listrik yang biasanya menerangi kompleks makam telah diputus, menyisakan keheningan yang disertai rasa getir.

Pemutusan listrik itu bukan sekadar masalah teknis. Ia menjadi simbol memanasnya perseteruan antara Kaum Giri, perkumpulan keluarga besar keturunan dan ahli waris juru kunci makam, dengan Yayasan Sunan Giri yang selama beberapa tahun terakhir mengelola berbagai kegiatan di kawasan bersejarah itu.

Menurut Ketua Umum Kaum Giri, Ainul Ghoerry, pencabutan listrik dilakukan dengan memanfaatkan petugas PLN tanpa dasar surat resmi. “Petugas hanya bilang diperintah atasan. Tapi siapa yang memerintah, tidak jelas. Kesepakatan yang dulu sudah kita buat seolah dianggap tidak pernah ada lagi,” ujarnya.

Akibatnya, peziarah kesulitan. Banyak yang harus berdoa dengan bantuan lampu ponsel. Juru kunci pun kerepotan melayani, karena akses listrik bukan hanya untuk penerangan, tetapi juga untuk keperluan dasar kegiatan di area makam.

Bagi Kaum Giri, pemutusan listrik ini bukan insiden kecil. Ia dibaca sebagai langkah sistematis untuk memperlemah keberadaan juru kunci. “Kalau listrik mati, pelayanan kepada peziarah terganggu. Lama-lama bisa dijadikan alasan bahwa juru kunci tidak mampu mengelola,” kata Ainul.

Di balik pertarungan itu, terselip masalah klasik: siapa yang berhak mengelola kotak amal. Bagi Kaum Giri, kotak amal yang berada di dalam kompleks makam adalah sumber dana sah untuk kegiatan sosial, dari santunan anak yatim hingga haul akbar Sunan Giri.

“Setiap rupiah yang masuk kami salurkan. Kami umumkan kepada masyarakat bahwa ini amanah dari para peziarah,” tegas Ainul.

Namun di sisi lain, Yayasan Sunan Giri juga mengklaim legitimasi. Mereka menyebut memiliki kotak resmi, bahkan mengeluarkan dana miliaran rupiah untuk kegiatan dan pembangunan. Klaim ini menimbulkan tanda tanya, apalagi ketika Ainul mempertanyakan sumber dana. “Katanya dari CSR, ada juga yang bilang dari pemerintah. Nyatanya tidak jelas. Kalau memang dana miliaran itu ada, kenapa kerusakan di area makam tidak segera diperbaiki?”

Bagi Kaum Giri, konflik ini tak bisa dilepaskan dari sejarah. Sejak berabad-abad, juru kunci menjadi penjaga tradisi dan penghubung spiritual antara makam dengan peziarah. Posisi ini diwariskan secara turun-temurun.

“Kami hanya melanjutkan amanah orang tua. Dari dulu sudah jelas: kalau mau bikin yayasan, silakan. Tapi jangan ganggu pengelolaan di dalam makam. Itu pesan yang kami pegang teguh,” ujar Ainul.

Maka ketika ada upaya untuk menyingkirkan kotak amal yang dikelola Kaum Giri atau melemahkan juru kunci, mereka melihatnya sebagai ancaman langsung terhadap warisan leluhur.

Dinas Pariwisata sebenarnya mencoba menjadi mediator. Setelah bupati Gresik yang baru dilantik, Kaum Giri menyempatkan diri untuk mengucapkan selamat sekaligus menitipkan harapan. “Kami berharap bupati bisa menjadi penengah, karena konflik ini bukan soal pribadi, tapi soal marwah sejarah dan pelayanan peziarah,” kata Ainul.

Namun sejauh ini, dialog belum menghasilkan keputusan konkret. Situasi masih gelap—secara harfiah maupun simbolis.

Di tengah tarik-menarik kepentingan, peziarah menjadi pihak yang paling dirugikan. Mereka datang untuk berziarah, tapi harus bertanya-tanya kotak amal mana yang resmi, atau mengeluh karena penerangan minim.

“Harusnya tempat ini menjadi sumber ketenangan, bukan pertengkaran,” ucap seorang peziarah yang enggan disebut namanya.

Makam Sunan Dalem bukan sekadar situs sejarah. Ia adalah ruang spiritual, tempat ribuan orang mencari doa dan ketenangan setiap tahun. Ketika konflik terus berlanjut, yang dipertaruhkan bukan hanya listrik atau kotak amal, melainkan legitimasi tradisi dan kelestarian warisan budaya.

Kaum Giri dan Yayasan Sunan Giri kini berdiri berseberangan. PLN terseret, pemerintah daerah masih mencari celah untuk menengahi, sementara peziarah hanya bisa menyaksikan.

Dan malam-malam di makam Sunan Dalem tetap gelap, menanti kapan cahaya—baik listrik maupun perdamaian—akan kembali menyala.

Baca Juga:

  • Meteran Dicabut, Kaum Giri Meradang: PLN Terseret ke Pusaran Konflik Sunan Giri
  • Eyang Semar Turun di Surowiti, Dentuman Tongklek Semarakkan Karnaval Budaya HUT RI ke-80
  • BPN Gresik Klarifikasi Pemberitaan Pemalsuan Sertifikat
  • Proses Surat di BPN Gresik Diduga Bisa Tanpa Loket Resmi