Laporan Dugaan Pemerkosaan, Begini Kata Kasatpol PP Surabaya

27 March 2022 - 20:50 WIB
Kasatpol PP Surabaya, Edy Chritijanto
Kasatpol PP Surabaya, Edy Chritijanto

SURABAYA (SurabayaPost.id) – Laporan pemerkosaan yang diduga dilakukan oleh KTI, oknum petugas Satpol PP Surabaya belum diketahui oleh Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasatol PP) Surabaya Edy Christijanto. Dia menyatakan KTI bukan merupakan anak buahnya.

“Tidak ada anggota saya namanya KTI, cek mungkin Satpol PP kecamatan. Tolong cek ke Camat Gubeng,”ujar Edy Christijanto, Minggu sore (27/3/2022).

Sementara itu, Kassubag Humas Polrestabes Surabaya Kompol Faqih juga mengaku belum mengetahui adanya laporan dugaan pemerkosaan oleh oknum satpol PP tersebut. Namun ia masih bersusaha melakukan konfirmasi.

“Coba saya konfirmasi dulu,”singkat Kompol Faqih.

Diketahui sebelumnya, DAPS (25) warga Lamongan yang tinggal di Surabaya melaporkan KTI ke SPKT Polrestabes Surabaya pada Minggu siang, (27/3/2022) sekitar pukul 11:00 wib.

Sewaktu melapor, DAPS didampingi kakak kandungnya Sukarjo. Sedangkan laporan dugaan pemerkosaan itu teregister dengan tanda Lapor LP/B/439/III/2022/SPKT/Polrestabes. SBY.

Dijelaskan Sukarjo, kejadian asusila itu terjadi pada Minggu pukul 5:27 dini hari di ruang kantor Karaoke M9 Jalan Kalirungkut, Komplek Ruko Rungkut Megah Raya, Beryl Blk. B3, Kota Surabaya.

DAPS yang bekerja di tempat karaoke tersebut memustuskan untuk tidur dan menginap di kantor M9 karena kondisinya saat itu dalam pengaruh alkohol dan sudah larut malam.

Sekitar pukul 5:00 pagi, terlapor mendatangi rumah Karaoke M9 dan masuk kedalam kantor. disitulah trelapor melihat DAPS dalam keadaan mabuk berat akibat efek alkohol.

Sekitar pukul 6:00 pagi DAPS baru menyadari sesuatu hal yang ganjil dengan dirinya, setelah itu dia mencoba melihat rekaman CCTV di kantor M9. Naas, dia baru mengetahui telah digagahi secara brutal oleh KTI melalui cctv tersebut.

Perlakukan asusila itu bahkan dilakukan hingga dua kali oleh terlapor.

Sukarjo memastikan adiknya itu bukan tipe perempuan yang bisa se-enaknya dapat dijadikan pelampias nafsu bejat lelaki hidung belang.

DAPS nekat terjun bekerja di rumah karaoke karena faktor ekonomi demi memenuhi kebutuhan dua orang anak buah hatinya.

“Kami sangat menyesalkan kejadian ini menimpa adik saya,”sesal Sukarjo.

Dia berharap pihak kepolisan segera memproses laporan tersebut agar terlapor dapat segera diadili.(Jun).