Catatan Perjalanan Dr. H. Muchammad Toha, S.Ag., M.Si Kepala Balai Diklat Keagamaan Surabaya
Saya masih ingat betul hari itu. Udara terasa kering, langit tampak kelabu, dan gedung-gedung tinggi berdiri tegak seperti barisan prajurit disiplin. Itulah kesan pertama saya ketika menjejakkan kaki di Tiongkok.
Namun yang membuat saya benar-benar tertegun bukanlah gedung pencakar langitnya, bukan pula jalan rayanya yang rapi. Yang membuat saya terdiam justru pemandangan sederhana di dalam pusat-pusat perbelanjaan: para petugas kebersihan yang sebagian besar sudah lanjut usia. Ada yang rambutnya memutih seluruhnya, ada yang punggungnya sedikit membungkuk, namun tangan mereka tetap sigap memegang pel dan sapu.
Rasa penasaran saya tak tertahankan. Dengan bantuan pendamping perjalanan, saya bertanya, mengapa banyak pekerja kebersihan di sini berusia tua?
Jawabannya sederhana, tetapi dalam maknanya.
“Memang umumnya pekerjaan kebersihan dilakukan oleh warga lanjut usia. Supaya mereka tetap berguna dan memiliki penghasilan. Sementara yang muda diarahkan pada pekerjaan yang membutuhkan kekuatan berpikir dan tenaga yang cepat.”
Saya terdiam.
Di negeri kita, pekerjaan kebersihan di mal sering diisi anak-anak muda—lulusan baru yang mungkin masih penuh mimpi. Di sini justru sebaliknya. Lansia tetap bekerja, tetapi pada pekerjaan dengan risiko rendah. Sementara tenaga muda ditempatkan di sektor industri, teknologi, manufaktur, otomotif, elektronik, dan produksi logam.
Ketika saya diajak mengunjungi pabrik keramik berteknologi tinggi, semua pekerjanya anak muda. Di pabrik otomotif dan peralatan mekanik pun demikian. Energi, kecepatan, dan daya pikir mereka benar-benar dimaksimalkan untuk produktivitas.
Saya mulai melihat pola.
Di negeri ini, pembagian peran tampak dirancang. Lansia tetap dihargai. Mereka tidak sepenuhnya bergantung pada keluarga. Mereka tetap memiliki martabat karena masih bekerja. Sementara generasi muda diarahkan untuk menjadi mesin produktivitas negara.
Apakah ini kebetulan? Pendamping saya mengatakan tidak. Ini bagian dari kebijakan.
Sebagai negara dengan sistem yang dikendalikan kuat oleh pemerintah, Tiongkok memiliki keleluasaan dalam mengatur arah tenaga kerja. Perencanaan jumlah lulusan, distribusi pekerjaan, hingga kebijakan upah berada dalam kontrol negara. Disparitas gaji bisa ditekan. Demonstrasi buruh jarang terdengar.
Di satu sisi, ada kontrol. Di sisi lain, ada kepastian.
Negara hadir bukan hanya sebagai regulator, tetapi juga sebagai pencipta lapangan kerja. Perusahaan-perusahaan besar dibangun sebagai aset nasional. Produk-produk mereka dipasarkan ke seluruh dunia. Dari barang rumah tangga sederhana hingga perangkat teknologi canggih, semuanya membanjiri pasar global dengan harga kompetitif.
Saya merenung panjang.
Menjadi pemimpin di negeri dengan penduduk lebih dari satu miliar tentu bukan perkara ringan. Bebannya besar. Pemerintah harus memastikan rakyatnya bisa makan, bisa sekolah, bisa berobat. Tidak harus hidup mewah, tetapi kebutuhan dasar terpenuhi.
Dan di balik harga-harga produk yang murah itu, ada perencanaan tenaga kerja yang terstruktur. Ada pembagian generasi yang jelas. Ada kontrol negara yang kuat.
Apakah sistem ini tanpa cela? Tentu tidak ada sistem yang sempurna. Tetapi pengalaman ini memberi saya sudut pandang baru: bahwa arah pembangunan sebuah bangsa sangat ditentukan oleh bagaimana negara memandang tenaga kerjanya.
Di sana, saya melihat lansia yang tetap bekerja dengan kepala tegak. Saya melihat anak muda yang berlari cepat di jalur industri. Dan saya melihat negara yang berusaha memastikan keduanya tetap berada dalam orbit produktivitas.
Dalam perjalanan pulang, saya bertanya pada diri sendiri:
Apakah negara kita sudah benar-benar memetakan generasi mudanya akan diarahkan ke mana?
Apakah kita sudah memberi ruang terhormat bagi para lansia untuk tetap bermakna?
Perjalanan itu bukan sekadar kunjungan luar negeri. Ia menjadi cermin. Cermin untuk melihat bagaimana sebuah bangsa mengatur perannya, dan bagaimana negara memilih untuk hadir—atau tidak hadir—dalam kehidupan rakyatnya.
