GRESIK (SurabayaPost.id)– Mengawali Ramadan 1447 Hijriah, PT Petrokimia Gresik kembali menegaskan perannya bukan sekadar entitas bisnis, tetapi juga bagian dari denyut sosial dan spiritual masyarakat. Perusahaan menyalurkan bantuan operasional kepada 146 masjid, musala, pondok pesantren, dan panti asuhan di sekitar wilayah operasional dengan total nilai Rp723,5 juta, Kamis (19/2/2026).
Bantuan ini tidak hanya dimaknai sebagai rutinitas tahunan, melainkan cerminan tanggung jawab konstitusional dan moral sebagai perusahaan milik negara. Dalam kerangka hukum nasional, kepedulian sosial BUMN memiliki landasan yang jelas.
Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara menegaskan bahwa BUMN tidak semata mengejar keuntungan, tetapi juga memberikan kontribusi bagi perkembangan perekonomian nasional dan penerimaan negara. Prinsip ini dipertegas dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, khususnya Pasal 74, yang mewajibkan perseroan yang menjalankan kegiatan usaha di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam untuk melaksanakan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).
Sebagai bagian dari holding Pupuk Indonesia, Petrokimia Gresik menjalankan mandat tersebut secara konkret melalui program TJSL yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat. Ramadan menjadi momentum spiritual untuk memperluas makna kebermanfaatan perusahaan—tidak hanya pada aspek ekonomi, tetapi juga pada penguatan relasi sosial dan nilai-nilai keagamaan.
Direktur Utama Petrokimia Gresik, Daconi Khotob, menyatakan bahwa meningkatnya aktivitas ibadah selama Ramadan mendorong perusahaan untuk memastikan tempat-tempat ibadah memiliki dukungan operasional yang memadai.
“Kami ingin memastikan jamaah dapat beribadah dengan khusyuk dan nyaman. Kehadiran perusahaan di tengah masyarakat bukan hanya sebagai produsen pupuk untuk ketahanan pangan, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem sosial yang merawat harmoni,” ujarnya.
Bantuan disalurkan kepada 17 masjid dan 80 musala di sekitar perusahaan, serta 21 pondok pesantren dan 28 panti asuhan. Selain dukungan dana operasional, perusahaan juga menggelar Safari Ramadan dengan mengikuti buka puasa dan salat tarawih berjamaah secara bergiliran.
Langkah ini sekaligus menegaskan bahwa BUMN bukan korporasi yang berjarak dengan masyarakat. Sebaliknya, perusahaan plat merah dituntut hadir sebagai entitas yang humanis—merawat hubungan antar-manusia sekaligus memberi ruang bagi tumbuhnya relasi manusia dengan Tuhannya.
Secara normatif, komitmen ini juga selaras dengan prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development) yang menempatkan aspek sosial dan lingkungan sebagai pilar penting selain ekonomi. Dalam konteks BUMN, TJSL bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan instrumen membangun legitimasi sosial dan kepercayaan publik.
Perwakilan Masjid Nurul Huda Karangturi, Didi, menyampaikan bahwa dukungan rutin setiap Ramadan membantu takmir menyelenggarakan kegiatan ibadah lebih optimal.
“Bantuan ini sangat berarti bagi jamaah. Kami merasakan perusahaan benar-benar hadir dan peduli,” tuturnya.
Di tengah dinamika dunia usaha, langkah Petrokimia Gresik menjadi penegasan bahwa korporasi milik negara dapat bertumbuh bersama masyarakat—tidak hanya memperkuat ketahanan pangan nasional, tetapi juga menjaga ruang-ruang spiritual yang menjadi fondasi kehidupan sosial bangsa
