Refleksi 50 Tahun Lingkungan

16 June 2022 - 22:09 WIB

Menuju Revolusi Pengelolaan Lingkungan

Oleh: Yustinus Ade Stirman
(Penyuluh Lingkungan,
Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Jawa)

Hari Lingkungan Hidup (HLH) Sedunia tahun ini kembali diperingati dengan tema yang sama seperti 50 tahun yang lalu yaitu “Only One Earth” (Sustainably in Harmony with Nature). Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah memutuskan untuk menggunakan tema Indonesia yaitu, “Satu Bumi untuk Masa Depan.”

Pesta lingkungan yang diperingati setiap 5 Juni ini menandai 50 tahun bendera lingkungan berkibar di Planet Bumi sejak ditetapkan dalam Konferensi Stockholm di Swedia tahun 1972. Bagi Indonesia, peringatan HLH tahun ini adalah yang ke-40, sejak berdirinya Kementerian Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup (Kemeneg PPLH, 1978-1983).

Only One Earth, tema ini mengingatkan dan menyarkan kita bahwa bumi ini hanya satu karena itu kewajiban seluruh penghuni bumi ini untuk menjaga keutuhan ciptaan Tuhan sebagai satu anugerah yang perlu dijaga keberlanjutannya. Sejatinya, bicara lingkungan tidak hanya soal pencemaran dan kerusakan lingkungan semata tapi lebih jauh dan lebih mendalam dari itu, bicara lingkungan menyangkut keberlanjutan kehidupan di planet ini.
Maka dari itu, peringatan HLH sedunia tahun ini adalah moment penting untuk merefeleksi atau melihat kembali napak tilas perjuangan lingkungan dalam 50 tahun terakhir. Hal ini dikaitkan dengan kondisi Planet Bumi yang saat ini semakin ‘rapuh’ dengan berbagai persoalan lingkungan yang datang menghadang dan sudah mengancam keberlanjutan kehidupan.

Status Bumi Terkini
Bumi ini memang tengah didera berbagai persoalan lingkungan, mulai dari masalah perubahan iklim, masalah sampah, pencemaran udara, masalah krisis air bersih hingga ancaman kepunahan Keanekaragaman Hayati, khususnya serangga penyerbuk akibat aktivitas manusia yang tidak berkelanjutan. Dari berbagai persoalan lingkungan tadi, setidaknya ada tiga isu penting dunia saat ini, yakni perubahan iklim, keanekaragaman hayati, dan masalah sampah.

Program Lingkungan PBB (UNEP) merilis laporan terbaru tentang seberapa banyak dunia harus mengurangi emisi untuk mencegah krisis iklim. Laporan berjudul, Making Peace With Nature ini semacam cetak biru ilmiah mencegah krisis lingkungan melalui tiga cara: mengurangi emisi, menjaga keanekaragaman hayati, dan mengurangi jumlah sampah.

Dalam laporan yang dipublikasikan tahun 2022 ini, menyebut, dalam 50 tahun terakhir, ekonomi global hampir tumbuh lima kali lipat. Sebagian besar disebabkan tiga kali lipat ekstraksi SDA dan energi. Sementara itu, populasi dunia telah meningkat dua kali lipat menjadi 7,8 miliar orang. Meski rata-rata kemakmuran juga berlipat ganda, sekitar 1,3 miliar orang tetap miskin dan sekitar 700 juta orang kelaparan.

Masalah emisi menjadi penting mengingat polusi udara menjadi ancaman serius dan mematikan belakangan ini. Mengutip Kompas, laporan ilmiah terbaru menunjukkan bahwa polusi bertanggung jawab atas 9 juta kematian pada 2019 atau satu dari enam kematian di seluruh dunia.

Jumlah ini hampir tidak berubah sejak analisis terakhir pada 2015, yang menunjukkan tidak adanya progres signifikan dalam mengatasi polusi dan khusus Asis Tenggara justru terjadi tren peningkatan polusi dari sektor industri.

Laporan pembaruan dari The Lancet Commission on Pollution and Health, yang diterbitkan di The Lancet Planetary Health pada Selasa (17/5/2022) ini menyatakan bahwa jumlah kematian akibat sumber polusi yang terkait dengan kemiskinan ekstrem, seperti polusi udara dalam ruangan dan polusi air, telah menurun. Namun, terjadi peningkatan kematian yang disebabkan oleh polusi industri, seperti polusi udara ambien dan polusi bahan kimia.

Potret lingkungan global juga dialami Indonesia dengan berbagai persoalan kerusakan lingkungan akibat meningkatnya bencana hidrometeorologi. Data BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana), menunjukkan, sepanjang 2021, tercatat 3.092 kejadian yang didominasi bencana hidrometeorologi.

Bencana yang paling sering terjadi yaitu banjir dengan 1.298 kejadian, disusul cuaca ekstrem 804, tanah longsor 632, kebakaran hutan dan lahan 265, gelombang pasang dan abrasi 45, gempa bumi 32, kekeringan 15 dan erupsi gunung api 1.

Dari sejumlah bencana tersebut, tercatat warga menderita dan mengungsi 8.426.609 jiwa, luka-luka 14.116, meninggal dunia 665 dan hilang 95, sedangkan dampak kerusakan tercatat rumah sebanyak 142.179 unit, fasilitas umum 3.704, kantor 509 dan jembatan 438. Rincian kerusakan rumah yaitu rumah rusak berat 19.163 unit, rusak sedang 25.369 dan rusak ringan 97.647.

Ledakan Penduduk
Menyikapi berbagai masalah lingkungan global dan nasional tadi, salah satu penyebab utamanya adalah tingginya jumlah penduduk bumi saat ini. Berdasarkan estimasi yang diterbitkan oleh Biro Sensus Amerika Sependuduk dunia mencapai 7,8 miliar jiwa pada Februari 2021. Dari angka itu, 4 miliar jiwa di antaranya tinggal di Asia.

Adapun 10 peringkat teratas penduduk dunia itu berturut-turut Republik Rakyat Tiongkok (1,412. miliar jiwa), India (1.387.600.000 jiwa), Amerika Serikat (332.486.698 jiwa), Indonesia (278.173.879 jiwa), Pakistan (225.839.946 jiwa) Brazil (212.332.794 jiwa), Nigeria (197.911.988 jiwa), Bangladesh (171.779.628 jiwa) Russia (152.610.309 jiwa) dan Jepang (126.417.244 jiwa).

Jumlah penduduk yang begitu besar tadi membawa dampak yang sangat besar pada kebutuhan SDA alam yang jumlahnya terbatas. Akibatnya terjadilah degradasi lingkungan di berbagai negara.

Masalah lain yang membawa dampak semakin terpuruknya lingkungan global, selain tingginya angka kemiskinan di negara berkembang, adalah
rendahnya kesadaran masyarakat global tentang pentingnya menjaga dan merawat bumi untuk generasi mendatang. Untuk itu, yang perlu dipikirkan adalah bagaimana lingkungan menjadi spirit dan gerakan bersama lintas bangsa.

Jebakan Berpikir Teknis
Selain tingginya laju pertumbuhan dunia, tingkat kemiskinan yang masih tinggi, dan rendahnya kesadaran publik tentang. lingkungan, akar permasalahan lain yang turut memperparah kondisi bumi saat ini adalah cara berpikir kita dalam menyikapi masalah lingkungan yang selama ini pemcahan atau solusi yanh diambil lebih bersifat shallow ecologi cara pandang yang sifatnya dangkal yang melihat manusia sebagai pusat dari segala (aposentris) ketimbang berpikir deep ecology adalah pendekatan yang holistik dalam memandang permaslahan-permasalahan yang terjadi di dunia dalam integrasi pemikiran, perasaan, spiitualitas dan tindakan aksi yang
yang sifatnya lebih mendalam, menukik pada akar persoalan lingkungan yang terjadi.

Reza A.A.Wattimena, dalam bukunya, ‘Filsafat Sebagai Revolusi Hidup’ menulis, era sekarang ditandai dengan gejalah kemalasan berpikir di berbagai bidang. Orang seolah-olah hanya mampu berpikir teknis untuk menghitung keuntungan atau kerugian sementara kemampuan berpikir refelektif dan kritis justru semakin hilang.

Kemalasan cara berpikir ini juga dapat ditemukan pada ketidakmampuan untuk menerobos tradisi cara berpikir lama yang sudah lama bercokol. Akibatnya orang manut pada kebiasaan lama yang sudah lagi tidak sesuai dengan keadaan sekarang. Ketika keadaan berubah, sementara berpikir dan cara menyikapi keadaan tersebut tidak berubah maka akan terjadi masalah.

Kemalasan berpikir ini, kata Reza, bisa ditafsirkan sejalan dengan argumen Heidegger, bahwa manusia modern terjangkit penyakit ketidakberpikiran (Gedankenlosigkeit). Ia hidup bagaikan robot yang tak mampu mencari makna dan berpikir mendalam.

Revolusi Lingkungan
Lantas apa yang perlu dilakukan. Menyikapi berbagai persoalan lingkungan yang semakin rumit dan kompleks tadi menuntut kita perlu melihat dan mengevaluasi kembali apakah pola penanganan masalah lingkungan selama ini sudah menjawab persoalan mendasar lingkungan saat ini. Pertanyaan intinya, masih relevankah pola-pola atau pendekatan yang dipakai dalam menyikapi dan mengatasi dinamika persoalan lingkungan yang yang semakin kompleks dan rumit.

Cara berpikir teknis ini juga masih mewarnai cara berpikir kita dalam melihat berbagai persoalan lingkungan baik itu masalah sampah, polusi, krisis air, energi, dan berbagai kasus lingkungan lain yang tengah dunia hadapi saat ini.

Kompleksitasnya masalah lingkungan saat ini tidak bisa diatasi dengan cara berpikir teknis saja tapi harus diikuti dengan cara berpikir reflektif dan berpikir kritis. Keberanian berpikir kritis dan mendalam, itulah keutamaan utama yang kita butuhkan sekarang ini dalam menyikapi persoalan lingkungan yang kian rumit dan ruwet.

Perubahan adalah sesuatu yang pasti terjadi. Maka cara berpikir kita dalam menyikapi persoalan lingkumgan pun harus ikut adaptif sekaligus kritis dengan perubahan yang ada. Semoga moment 50 tahun lingkungan global saat ini menjadi titik tolak mengubah cara berpikir kita soal lingkungan menuju revolusi pengelolaan lingkungan.