76 Tahun “Jatim Bangkit” Dalam Kepemimpinan Transformatif

14 October 2021 - 16:52 WIB

Oleh: Suparto Wijoyo

Wakil Direktur III Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga

JATIM pada 76 Tahun ini memberikan “menu istimewa”: Jatim Bangkit.   Sebuah ekspose yang kontekstual, futuristik nan optimistik. Dalam Nota Pengantar Keuangan P-APBD Jatim Tahun Anggaran 2021, terungkap bahwa pertumbuhan ekonomi Jawa Timur mengalami perbaikan pada Triwulan I-2021 yang terkontraksi sebesar 0,44 dibandingkan dengan Triwulan I-2020. Perbaikan ekonomi terus berlanjut di triwulan II tahun 2021, dimana ekonomi Jawa Timur tumbuh sebesar 7,05 persen (y-o-y).

Semua dapat disorot on the track  dalam ruang  ekonomi yang inklusif, kesejahteraan yang meningkat, dan mengatasi pandemi Covid-19.  Pada titik ini Jatim  telah membuktikan bekerja fokus sebagaimana ungkapan sufistik Jan-Fishan:

Kau bisa mengikuti suatu arus

Pastikan bahwa arus itu menuju Samudera

Tetapi jangan kacaukan arus dengan  Samudera

OPOP adalah Kreasi-Inovasi Keumatan.

Rakyat Jatim kini mengenal istilah baru produk kepemimpinan yang transformatif, yaitu mengubah sesuatu yang biasa menjadi luar biasa. Produk-produk pesantren diunggah menjadi inti kebangunan dan pemberdayaan umat. One Pesantren One Product (OPOP) merupakan ide mendasar yang memiliki daya ungkit kehidupan rakyat. Basis pesantren ditransformasi dari institusi teologis, keagamaan, dan pendidikan menjadi lembaga ekonomi yang mandiri. Transformasi fungsi pesantren “digeneratori” oleh kebijakan Gubernur.  

Dalam OPOP terdapat jejaring peningkatan basis Produksi UMKM.    Pemprov  menyiapkan database UMKM melalui sensus UMKM pesantren,  santri, dan masyarakat.  OPOP dapat disuarakan dalam konteks konsepsi model Indonesia Incorporated ala Pakde Karwo dengan  beberapa ciri: (a) terdapat pola keberlanjutan dan perubahan kinerja (sustainability and change), (b) output  bersifat untuk semua (for all), (c) pada setiap aktivitas, tidak hanya sekedar memfungsikan kebijakan fiskal semata, namun lebih kepada peran mengkonstruksi pembangunan ekonomi (by design), (d) output berupa pertumbuhan tidak hanya  percepatan, namun lebih kepada dampak di pengurangan kemiskinan, pengurangan disparitas serta pengurangan pengangguran dan peningkatan IPM, (e) pada setiap aspek  selalu muncul inovasi kebijakan  yang tidak sekedar  “as usual” policy and strategy innovation, (f) dalam membangun UMKM, lebih bersifat partisipatif, (g) peran Pemerintah Provinsi Jatim bersifat fasilitasi UMKM, pembiayaan yang kompetitif, maupun pemasaran.

Dengan peta jalan ini sesungguhnya,  Jatim amat beruntung memiliki kesinambungan sosok kepemimpinan yang tranformatif dari Pakde Karwo ke Bunda Khofifah. Beliau-beliau berupaya memberikan apa yang diamanatkan secara demokratis oleh rakyat. Semangat ini  senafas dengan ungkapan puitis Sastrawan Freiligrath yang acapkali dirujuk Bung Karno dalam berpidato: “man totet de Geist nicht” yang arti bebasnya:semangat keberlanjutan tidak bisa dibunuh”. Bunda Khofifah telah membuktikan diri dengan membuat kebijakan publik agar pemerintahannya bermanfaat bagi rakyat.

Kepemimpinan Matahari-Rembulan-Bumi

Dengan  kepemimpinan transformatif itu  dapat terkonstruksi segi tiga pertautan antara demokrasi, birokrasi, dan rakyat yang terbaca dalam sistem semesta. Demokrasi merupakan “matahari” yang memancarkan sinarnya untuk dituang dalam wadah birokrasi yang laksana “rembulan” guna dipantulkan kembali agar menerangi rakyat sebagai “bumi”. Tentu saja bumi (“umat”) harus diolah (bukan dijarah) dengan kelembutan rembulan (“birokrasi”) yang bertugas memantulkan tanpa henti cahaya matahari (“demokrasi”), dengan tetap memperhatikan garis edar tata surya yang bertaburan bintang-bintang  yang berupa norma pemerintahan. Hubungan cahaya mencahayai atau pantul memantulkan energi matahari ke rembulan menuju bumi harus dibaca secara siklikal,  bukan vertikal maupun horisontal agar tidak terjadi penggerhanaan yang dapat menimbulkan keriuhan khalayak.

Seberat apapun bebannya, seringan apapun langkahnya, senyaring apapun suaranya, selirih apapun bisiknya, atau sekeras apapun ucapnya, pemimpin mutlak memperhatikan  kesadaran terdalam rakyatnya. Gema geraknya pemimpin dilazimkan menembus semua sisi panggung tanggung jawabnya. Di sinilah leader dancing  kepemimpinan itu mengkristalisasi  jalan hidup rakyatnya.  Pola relasional antara rakyat dan pemimpin  merupakan penanda kesadaran untuk selalu ingat pada asal usul kuasanya. Ibarat air yang mengalir di sungai pada lanjutan kisahnya harus tetap berlabuh di muara luas yang bernama lautan.  Terhadap hal ini ada ungkapan puitis yang dilansir Proklamator Republik Indonesia,    Soekarno berikut ini:

Door de zee op te zoeken,

is de rivier trouw aan haar bron.

Dengan mengalirnya ke lautan,

sungai setia kepada sumbernya.

Berbagai gebrakan Bunda Khofifah adalah keterpanggilan mandat demokrasi bagi perjalanan kepemimpinannya. Sang gubernur memberi yang “mereka punya” dengan melakukan padatan-padatan inovasi demi terwujudnya birokrasi yang menyelami  “amanat penderitaan rakyat”.  Ungkapan saya ini semakna sebagai bingkai mozaik jiwa-jiwa pemerintahan yang bisa dikenang. Diungkapkan oleh  Syeikh Musliuddin Sa’di Shirazi dalam karya sastranya Bustan:

Setiap orang yang tidak memiliki kenangan yang ditinggalkan

Pohon keberadaannya tidak akan menghasilkan buah

Dan setiap orang mendapatkan apa yang dulu ia semaikan

 Saya pun mengenang  kembali ajaran leluhur yang amat populer tentang Astha Brata (delapan perilaku) seorang pemimpin. Setiap leader (bukan semata dealer),  haruslah bertindak: menerangi (laku hambeging candra),  tegas (laku hambeging dahana), percaya diri (laku hambeging kartika), berbelas kasih (laku hambeging kisma), teliti (laku hambeging samirana), menampung (laku hambeging samudra), menginspirasi (laku hambeging surya), dan adil (laku hambeging tirta).

Semua orang punya hak untuk menafsir bagaimana  kepemimpinan Jatim selama ini. Adakah “tetenger” Astha Brata itu diugemi? Tetaplah bahwa hari esok harus disongsong  penuh solusi yang berkelanjutan. Jatim bangkit melaju terdepan dengan “setia kepada sumbernya”. Meminjam kata-kata Anthony Giddens,  ini adalah bagian dari “kesadaran diri dan perjumpaan sosial” seorang pemimpin untuk ambil bagian menyejahterakan rakyat. Dirgahayu Jatim.