Ecoton Bongkar Pencemaran Air Laut Gresik, Nelayan: “Air Laut Kini Tak Asin Lagi”

GRESIK (SurabayaPost.id)–Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) menemukan adanya penurunan kualitas air laut di kawasan pesisir Manyar–Mengare, Kabupaten Gresik. Temuan itu diperoleh dalam kegiatan susur pesisir dan pengambilan sampel air di sekitar kawasan reklamasi dan industri JIIPE.

Direktur Eksekutif Ecoton, Daru Setyorini, mengatakan kualitas air laut di sekitar kawasan industri terpantau lebih rendah dibanding wilayah yang minim aktivitas industri.

“Kami menemukan kualitas air di area sekitar industri lebih rendah dibanding kawasan yang tidak ada kegiatan industri,” ujarnya saat susur laut di Mengare-Manyar, Selasa (19/5/26).

Dalam pengukuran awal, Ecoton mencatat kadar dissolved oxygen (DO) atau oksigen terlarut di sekitar kawasan industri hanya sekitar 2,7 mg/liter. Angka itu berada jauh di bawah baku mutu air laut untuk biota laut yang mensyaratkan kadar DO di atas 5 mg/liter.

Selain itu, kadar fosfat dan amonia di sejumlah titik sekitar area reklamasi juga disebut lebih tinggi dibanding lokasi lainnya.

“Ikan membutuhkan oksigen cukup untuk metabolisme dan reproduksi. Sementara amonia dapat mengganggu bahkan menyebabkan kematian ikan,” jelas Daru.

Ecoton juga menemukan mangrove mati di sekitar lokasi reklamasi. Mereka meminta pemerintah melakukan pemeriksaan lanjutan terkait dampak aktivitas reklamasi dan industri terhadap ekosistem pesisir.

Di tengah temuan tersebut, nelayan pesisir Mengare mengaku mulai merasakan perubahan kondisi laut yang selama ini menjadi sumber penghidupan mereka.

“Sekarang air lautnya terasa pahit, tidak seperti dulu,” ujar Santoso, Ketua Rukun Nelayan Bale Laok, Desa Kramat, Mengare.

Menurut Santoso, hasil tangkapan nelayan terus menurun sejak kawasan pesisir berubah menjadi area reklamasi dan industri. Rajungan yang dulu melimpah kini semakin sulit didapat.

“Dulu anak-anak muda sini bisa dapat sampai Rp800 ribu sehari dari rajungan. Sekarang bawa pulang empat ekor saja sudah syukur,” katanya.

Keluhan serupa disampaikan Sapuan, Ketua RT setempat. Ia menegaskan masyarakat pesisir tidak anti terhadap industri, namun berharap nasib nelayan juga diperhatikan.

“Masyarakat tidak anti industri, tapi nelayan juga harus dipikirkan nasibnya,” ujarnya.

Sebelumnya, sejumlah kawasan reklamasi di pesisir Manyar-Gresik juga menjadi sorotan setelah PSDKP menyebut beberapa lokasi belum mengantongi Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut (PKKPRL). Bahkan beberapa area dikabarkan telah memiliki sertifikat hak atas tanah meski diduga berada di wilayah perairan laut.

Baca Juga:

  • Makam Rusak Tertimpa Pohon, Ahli Waris Protes ke BPK
  • Pelabuhan Gresik: Dari Pelra ke Modernisasi, Antara Sejarah Rakyat dan Dominasi Korporasi
  • PSDKP Periksa BKMS, Dugaan Pelanggaran Ruang Laut di JIIPE Gresik Menguat
  • Mengaku Perancang RAB Fiktif, Konsultan Tak Jadi Tersangka