MALANGKOTA (SurabayaPost.id) – Wakil Wali Kota Malang Ali Muthohirin menyebut peluncuran Program Rumah PIJAR sebagai bukti nyata komitmen Pemkot Malang “Ngalam Ngopeni”. Rumah Peduli Jiwa dan Rasa resmi diluncurkan Kamis (18/6/2026) di Aula Kecamatan Sukun sebagai layanan khusus pendampingan penyandang disabilitas mental PDM berbasis keluarga.
Wawali Ali hadir langsung dalam kegiatan Bimbingan Fisik, Mental, Spiritual, dan Sosial bagi penerima manfaat Rumah PIJAR yang digagas Dinas Sosial P2AP3KB Kota Malang.
“Arah pembangunan kami tidak memilih dan memilah. Seluruh masyarakat di Kota Malang berhak merasakan pembangunan inklusif tanpa membedakan. Tentu ini tanggung jawab kami memberi perhatian kepada penyandang disabilitas mental yang berada di tengah keluarga,” tegas Wawali Ali saat sambutan.
Program Rumah PIJAR lahir dari keprihatinan data. Kepala Dinsos P2AP3KB Donny Sandito memaparkan, data Dinkes Kota Malang mencatat sekitar 3.700 warga berobat ke layanan kejiwaan. Dari jumlah itu, 1.600 orang butuh obat lanjutan.

“Dari data tersebut kami mengasumsikan ada sekitar 1.600 penyandang disabilitas mental di Kota Malang. Tantangan terbesarnya bukan hanya pengobatan, tapi stigma. Masih banyak keluarga menutup kondisi anggota keluarganya karena dianggap aib. Sehingga akses pelayanan dan bantuan pemerintah tidak optimal,” jelas Donny.
Lewat Rumah PIJAR, Pemkot menarik intervensi lebih awal. Fokusnya menguatkan keluarga dulu agar kebutuhan PDM bisa dipetakan dan bantuan lebih tepat sasaran, sebelum kondisinya terlantar atau agresif.
Donny menyebut pendampingan di Rumah PIJAR bersifat komprehensif, mencakup 4 pilar: fisik, mental, spiritual, dan sosial. Model ini dipilih karena penanganan kesehatan jiwa tak bisa ditangani satu pihak saja.
“Secara kewenangan, pemerintah daerah menangani penyandang disabilitas mental yang terlantar. Namun melalui Rumah PIJAR kami memperkuat keluarganya. Harapannya mereka tetap memperoleh hak-haknya melalui keluarga, dan tidak sampai berada dalam kondisi terlantar,” pungkas Donny.

Wawali Ali mengajak seluruh warga aktif melaporkan jika ada tetangga yang butuh. “Melalui Rumah PIJAR, mereka kembali kami kumpulkan untuk pendampingan menyeluruh. Ini butuh kolaborasi kita semua, dari dinas terkait, camat, lurah, sampai RT/RW. Apabila di lingkungan Bapak Ibu ada warga yang butuh pendampingan, langsung sampaikan ke kami,” ujarnya.
Sebagai langkah lanjutan, Wawali Ali mengusulkan penguatan layanan psikolog klinis di setiap puskesmas. Menurutnya, persoalan kesehatan mental di perkotaan sudah jadi kebutuhan umum yang harus bisa diakses gratis.
“Di perkotaan, persoalan kesehatan mental sudah menjadi masalah umum. Ini masukan sekaligus kebutuhan agar masyarakat dapat layanan pendampingan dan konsultasi yang layak serta dapat diakses secara gratis,” tegasnya.
Dengan Rumah PIJAR, Pemkot Malang berharap tagline “Ngalam Ngopeni” benar-benar dirasakan kelompok rentan, termasuk 1.600 PDM beserta keluarganya di Kota Malang. (lil).
