BI: Pertumbuhan Ekonomi Syariah Perlu Ditingkatkan

Deputi Kepala Perwakilan Bidang Ekonomi dan Keuangan Bank Indonesia (BI) Malang, Jatim, Jaka Setiawan saat membuka Pameran & Talkshow Road to ISEF di Matos, Sabtu (1/12/2018).
Deputi Kepala Perwakilan Bidang Ekonomi dan Keuangan Bank Indonesia (BI) Malang, Jatim, Jaka Setiawan saat membuka Pameran & Talkshow Road to ISEF di Matos, Sabtu (1/12/2018).

MALANG (SurabayaPost.id) – Pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia perlu ditingkatkan karena masih rendah. Hal itu diungkapkan Deputi Kepala Perwakilan Bidang Ekonomi dan Keuangan Bank Indonesia (BI) Malang, Jatim, Jaka Setiawan saat membuka Pameran & Talkshow Road to ISEF di Matos, Sabtu (1/12/2018).

“Pertumbuhan ekonomi syariah kita memang harus terus diyingkatkan. Untuk itu banyak hal yang harus kita lakukan,” jelas Jaka Setiawan.

Beberapa indikator rendahnya pertumbuhan ekonomi syariah itu disebutkan Jaka Setiawan. Di antaranya seperti pada sektor keuangan, Indonesia masih berada di peringkat 10.

Begitu juga di sektor usaha fashion syariah. Indonesia masih berada di peringkat delapan.

“Indonesia masih jadi konsumen nomor satu. Sehingga, posisi Indonesia sampai saat ini belum menjadi pemain kunci dalam ekonomi syariah global,” papar dia.

Padahal, kata dia, negara-negara yang kaum muslimnya minoritas justru menjadi mesin penggerak ekonomi syariah global. “Inggris, Tiongkok, Korea, Jepang dan lainnya,” kata Jaka.

Dijelaskan Jaka, Tiongkok menjadi pengekspor fashion terbesar ke negara-negara Timur Tengah. Ekspor itjen capaiannya 2 miliar dolar Amerika Serikat per tahun.

Begitu juga dengan Korea. Kini, kata dia, Korea menjadi negara yang membuka ekonomi syariah lewat wisata halal.

:Jepang, Brasil, Australia juga demikian. Mereka membuka ekonomi syariah lewat ekspor daging sapi atau peternakan halal,” kata dia.

Makanya, kata dia, Indonesia sudah waktunya untuk sangat serius mengembangkan ekonomi dan perbankan syariah. “Sebab kita sudah punya Komite Nasional Ekonomi Syariah,” papar dia.

Menurut dia, ekonomi syariah itu sangat potensial dan menjanjikan keadilan. Alasannya, dalam ekonomi syariah itu ada pertumbuhan yang seimbang.

“Mengandung unsur keadilan. Sehingga tak ada penumpukan dana pada pihak tertentu saja,” katanya.

Untuk itu, kata dia, ada tiga pilar yang harus dikembangkan agar ekonomi dan keuangan syariah tumbuh dengan baik. Disebutkan dia seperti pemberdayaan ekonomi syariah, pengembangan keuangan syariah dan penguatan struktur organisasi serta memanfaatkan digital teknologi.

Karena itu, kata dia, lewat pameran dan talkshow Road to ISEF yang digelar BI Perwakilan Malang ini diharapkan bisa meningkatkan pemahaman dan akses masyarakat terhadap ekonomi dan perbankan syariah. Sehingga ekonomi syariah, khususnya di Malang Raya bisa tumbuh sesuai harapan. (aji-aaiih)

Baca Juga:

  • Kabar Gembira!!! Kantor BI Malang Siapkan Rp4,69 Triliun Untuk Penukaran Uang Baru Lebaran 2024
  • BI Malang Gelar Bazar Khusus Transaksi Pakai QRIS
  • Kepala BI Malang Ajak Pedagang Praktik Bertransaksi Pakai QRIS
  • BI Malang Genjot Pembayaran Non-tunai Lewat PQN 2020
  • Naik 19%, BI Malang Siapkan  Uang Kartal Rp 1,89 Triliun Jelang Nataru
  • Sukses, Kepala BI Jatim Apresiasi Artcofest yang Digelar BI Malang 
  • Rayakan Ultah, GenBI Malang Berdayakan Kepercayaan Diri Kaum Difabel
  • Pacu Pertumbuhan Ekonomi, BI Malang Bakal Menggelar Artcofest
  • BI Malang Suport  CMC, GenBI Diharap Lakukan Riset Ekowisata 
  • Permudah Beramal, BI Sosialisasi  QRIS pada Takmir Masjid di Malang Raya  
  • Be the first to comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published.