Cemarkan L’VIORS, Pemilik Akun Instagram @Stellamonica.h Dituntut 1 Tahun Penjara

22 October 2021 - 11:33 WIB
Susana Persidangan Kasus ITE L'viors di PN Surabaya/foto: Junaedi

SURABAYA (SurabayaPost.id) – Pemilik akun instagram @Stellamonica.h yang menjadi terdakwa dalam kasus pencemaran nama baik klinik L’VIORS dituntut hukuman selama 1 tahun. Selain itu, wanita bernama lengkap Stella Monica Hendrawan ini juga disanksi hukuman denda sebesar Rp 10 juta.

Penasihat hukum L’viors HK Kosasih menyatakan menghormarti tuntutan yang dijatuhkan Jaksa. Namun, tuntutan satu tahun tersebut menurut Kosasih belum terasa adil bagi L’Viors, mengingat banyaknya kerugian yang dialami L’Viors akibat perbuatan Terdakwa.

“Harusnya lebih dari satu tahun tuntutannya, biar ada efek jera,” ujar Kosasih saat dikonfirmasi, Kamis (21/10/2021).

Lebih lanjut Kosasih menyatakan, sikap Terdakwa yang tidak ada rasa penyesalan juga yang membuat pihak L’Viors merasa bahwa tuntutan Jaksa tersebut kurang adil.

“Sikap Terdakwa yang tidak ada penyesalan dan adanya kecenderungan menggiring opini publik ini yang harusnya bisa memberatkan hukumannya,” ujar Kosasih.

Pernyataan Terdakwa di beberapa media bahwa apa yang dilakukan Terdakwa adalah bagian dari curhat seorang konsumen L’Viors hal itu dibantah Kosasih, sebab waktu itu Terdakwa sudah bukan lagi konsumen L’Viors. Selain itu, kalau sebagai konsumen L’Viors ketika ada masalah bukan mencurahkan ke media sosial namun bisa datang baik-baik dan menceritakan keluhan atau permasalahan yang terjadi.

“Kalau Terdakwa kan tidak melakukan itu (datang ke L’Viors), tapi malah mengapload dan menjelek-jelekkan L’Viors. Jadi memang ada unsur kesengajaan,” ujar Kosasih.

Sementara, dalam mengajukan tuntutan kepada Monica, Jaksa menyatakan bahwa terdakwa sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik, sebagaimana diatur dalam Pasal 27 Ayat 3 Jo Pasal 45 Ayat 3 UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

“Menuntut agar majelis hakim menghukum terdakwa Stella Monica Hendrawan dengan pidana penjara selama 1 tahun penjara. Membayar denda sebesar Rp 10 juta subsider 2 bulan kurungan. Membayar biaya perkara sebesar Rp 2.000,” ujar Jaksa Rista membacakan surat tuntutannya, Kamis (21/10/2021).

Jaksa Rista dalam tuntutannya juga membeberkan hal-hal yang memberatkan dan meringankan terdakwa Stella Monica di kasus ini.

“Yang memberatkan karena perbuatan terdakwa sudah merugikan klinik L’VIORS dan terdakwa tidak merasa bersalah. Yang meringankan terdakwa masih berusia muda,” bebernya.

Menyikapi tuntutan itu, ketua majelis hakim Imam Supriyadi menawarkan kesempatan kepada terdakwa Stella Monica untuk memberikan pembelaan.

“Silahkan terdakwa secara pribadi dan tim pembela mengajukan pembelaannya. Sidang kami lanjutkan pada hari Kamis tanggal 28 Oktober 2021,” pungkas hakim Imam Supriyadi sambil mengetukan palu menutup persidangan.

Dikonfirmasi selepas sidang, Stella Monica melalui tim kuasa hukumnya, Habibus Shalihin mengatakan bahwa pihaknya sejak awal tetap konsisten menganggap bahwa masalah antara Kliennya dengan klinik L’VIOR hanya sekedar sengketa konsumen belaka.

“Dari awal sampai akhir kami tetap konsisten bahwa masalah ini hanya sengketa konsumen. Bahkan fakta itu juga pernah disampaikan terdakwa sewaktu menjalani persidangan pemeriksaan terdakwa,” katanya di PN Surabaya.

Sementara terkait tuntutan pidana 1 tahun dan denda yang dijatuhkan jaksa penuntut, Habibullah menyatakan tengah mengkaji ulang tentang hal-hal yang memberatkan dan meringankan dari tuntutan jaksa di kasus tersebut.

“Menurut saya, tidak ada istilah mantan konsumen dalam perkara ini. Unggahan di Instagram terdakwa tersebut sifatnya hanya keluhan yang disampaikan sewaktu kliennya menjadi konsusmen dari salah satu klinik L”VIOR di Surabaya. Harusnya yang dikedepankan adalah undang-undang perlindingan konsumen, sebab di undang-undang tersebut tidal ada istilah mantan konsumen,” [email protected] (Jun)