Diwarnai Balita Hingga Lansia, Malik Fajar: Jadikan  Idul Fitri Momentum Membangun Khaira Ummah

5 June 2019 - 23:45 WIB
Anggota Wantimpres RI Prof HA Malik Fadjar saat khotbah dalam shalat Idul Fitri yang diikuti sekitar 10 ribu jamaah di kampus UMM.

MALANG  (SurabayaPost.id) – Sholat Idul Fitri sebagai penutup puasa bulan suci Ramadhan berlangsung serentak di Malang Raya, Selasa (5/6/2019). Hampir seluruh umat Islam mengikuti sholat sebagai tanda kemenangan memerangi hawa nafsu itu.

Bahkan Balita hingga Lansia di Malang Raya ikut mewarnai sholat Idul Fitri itu. Sehingga suasana sholat Idul Fitri itu terasa hikmad.

Itu terlihat di hampir semua masjid yang menggelar sholat Idul Fitri. Misalnya di Masjid Besar Quba Bareng, Masjid Baitul Makmur Jl Bareng Kartini, lapangan Helipad kampus UMM dan lain sebagainya.

Gus Hisa Al Ayyubi saat menjadi khotib sholat idul fitri di Masjid Baitur Rahman di Jalan Bareng Kartini Kota Malang

Khotib di Masjid Baitul Rahman di Jl Bareng Kartini Gus Hisa Al Ayyubi dalam khotbahnya mengatakan bahwa berakhirnya bulan suci Ramadhan dengan ditandai takbir sebagai tanda kemenangan atas menunaikan ibadah puasa yang merupakan salah satu dari rukun Islam.

Menurut dia hal itu menumbuhkan solidaritas, menebarkan cinta kasih dan berbagi dalam pengertian Idul Fitri sebagai momentum membersihkan harta, diri sendiri dengan membayar zakat Fitrah. “Menjalin kembali silaturahmi yang mungkin pernah putus, dengan “halal bihalal” bersama keluarga hingga orang tercinta di lingkungan,” katanya.

Karena itu kata dia puasa yang ditutup dengan  sholat Idul Fitri Meningkatkan jiwa kasih sayang antar sesama. “Itu melalui saling memberi dan meminta maaf untuk kesalahan atau khilaf di dunia sebagai upaya kembali ke fitrah,” jelasnya.

Sementara itu khotbah di UMM disampaikan anggota Dewan Pertimbangan Presiden RI, Malik Fadjar. Dalam khotbahnya dia menanyakan agar Idul Fitri dijadikan  sebagai momentum membangun generasi khaira ummah.

Puluhan ribu jamaah sholat idul fitri di kampus UMM

Di hadapan sekitar 10 ribu jamaah sholat idul fitri itu Prof HA Malik Fadjar yang juga ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM ini menyampaikan pentingnya memaknai berlalunya Ramadhan dan datangnya Syawal sebagai momentum start block yang kuat untuk menatap masa depan.

Pondasi yang sudah dibangun ketika Ramadhan menurut dia  harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk membangun generasi mendatang. Dikatakannya, Ramadhan memiliki nilai penting terutama pada negara sebesar Indonesia ini.

Negara dengan luas wilayah, ragam budaya, kekayaan alam yang melimpah ini menurut dia  harus bisa memanfaatkan Ramadhan sebagai titik muhassabah secara nasional. “Hal ini harus bisa kita ejawantahkan dalam bentuk kehidupan berbangsa yang rukun, damai, dan tekad kuat membangun sebagai bentuk rasa syukur kita atas capaian perjuangan para pendahulu,” kata Malik.

Hari ini, lanjut mantan Menteri Pendidikan Nasional itu, kita sudah merdeka lahir dan batin. Sudah hampir 74 tahun kita merdeka. Tantangan paling besar saat ini adalah pada anak-anak kita, yakni generasi usia 12 sampai 30 tahun, dan juga generasi milenial. “Mereka saat ini memasuki masa yang sangat kritis. Di tangan merekalah bangsa ini akan ditentukan di masa-masa yang akan datang,” ungkapnya.

Balita dan Lansia yang memakai kursi roda pun ikut mewarnai sholat Idul Fitri di Masjid Besar Quba Bareng, Malang.

Oleh karenanya, Malik mengajak para jamaah untuk lebih perhatian lagi kepada pendidikan sebagai bentuk pembangunan manusia ke depan. “Generasi yang akan datang harus dipersiapkan sebagai generasi khairah ummah, yakni generasi terbaik, baik untuk umat maupun bangsa,” kata Malik. Alih-alih generasi yang menjadi beban bagi masyarakat.

Di akhir khutbahnya Malik menyerukan agar jamaah ikut berdoa untuk keselamatan bangsa dan negara. Dengan doa tersebut diharapkan tantangan yang dihadapi bangsa ini segera bisa dilewati dan kita semua menjadi umat yang selamat dunia dan akhirat.

Dalam sambutan sebelum solat ‘Id dimulai, rektor UMM, Fauzan menyerukan agar jamaah tidak begitu saja meninggalkan Ramadhan tanpa bekas. Justru tantangan paling sulit adalah konsistensi akhlak kita pasca Ramadhan.

Hal serupa juga disampaikan ketika mengawali sambutan pada acara open house di aula BAU UMM. “Ramadhan sudah kita lewati, idul fitri ini harus dijadikan ajang silaturahmi yang menyatukan segenap kekuatan sebagai energi positif untuk memajukan UMM sebagai lahan pengabdian dan ibadah kita. Mari jadikan silaturahmi ini sebagai kekuatan besar untuk maju,” ajak rektor.

Tradisi lebaran di UMM masih akan berlanjut hingga pekan depan. Usai liburan idul fitri ini, UMM juga akan menggelar Halal bi Halal di UMM Dome yang mengundang berbagai tokoh Muhammadiyah untuk bersilaturhmi dengan dosen dan karyawan. (aii)