Perdagangan pangan Indonesia kerap dibicarakan sebagai satu arus tunggal, padahal bergerak dua arah sekaligus. Di satu sisi ada komoditas yang masuk untuk menutup selisih antara kebutuhan dan kemampuan produksi dalam negeri. Di sisi lain ada hasil pertanian lokal yang justru diolah dan dikirim ke luar negeri.
Keduanya berjalan bersamaan, dilakukan pelaku usaha yang berbeda, dengan tantangan teknis yang tidak sama. Namun bila ditelusuri, keduanya bertumpu pada dua hal yang persis serupa: sertifikasi yang diakui dan rantai pasok yang bisa diandalkan.
Daging impor dan persoalan rantai dingin
Konsumsi protein hewani di Indonesia terus meningkat, sementara produksi domestik belum sepenuhnya mengimbangi. Selisih itulah yang diisi oleh produk impor, dan di sinilah letak persoalan teknis yang paling menentukan: daging adalah komoditas yang mutunya bisa rusak di perjalanan.
Rantai dingin atau cold chain menjadi penentu. Sekali suhu terputus, meski hanya di satu titik, mutu dan keamanan produk sudah tidak bisa dipulihkan. Karena itu pelaku usaha di bidang ini tidak cukup hanya berdagang, tetapi harus menguasai infrastruktur penyimpanan dan pengangkutannya sendiri.
PT Suri Nusantara Jaya beroperasi di bidang ini sebagai importir dan distributor produk daging segar, beku, maupun olahan. Berkantor pusat di Tebet, Jakarta Selatan, perusahaan ini telah lebih dari 25 tahun bergerak di industri daging, dengan lebih dari 30 titik distribusi dan sekitar 150 armada di berbagai wilayah Indonesia.
Kegiatannya terbagi ke dalam empat unit usaha:
- Logistik — layanan untuk klien B2B yang mencakup pengurusan kepabeanan, pengangkutan darat, fasilitas penyimpanan, serta solusi rantai dingin berstandar internasional di Pulau Jawa
- Retail — penjualan daging dan produk segar langsung ke konsumen akhir melalui jaringan gerai, di antaranya Toko Daging Nusantara
- Food manufacturing — pengolahan produk siap masak dengan standar mutu terkendali
- Food and beverage — unit kuliner yang mengolah produk menjadi sajian jadi
Produk yang didistribusikan mengantongi sertifikat Halal dan Nomor Kontrol Veteriner (NKV), dua syarat yang tidak bisa ditawar untuk produk hewani yang beredar di Indonesia. NKV sendiri merupakan bukti bahwa unit usaha telah memenuhi persyaratan higiene dan sanitasi, dan diterbitkan otoritas veteriner.
Struktur usaha yang menggabungkan impor, logistik, ritel, dan pengolahan membuat produk tetap berada dalam kendali satu sistem sejak masuk pelabuhan sampai sampai ke konsumen. Model seperti ini yang membuat mata rantai suhu lebih mudah dijaga dibanding ketika setiap tahap ditangani pihak berbeda.
Singkong lokal yang menembus pasar ekspor
Arus sebaliknya berjalan dari lahan petani menuju pabrik di luar negeri. Salah satu komoditas yang cukup berkembang adalah pati singkong, bahan yang dipakai luas di industri pangan, kertas, dan perekat.
Yang menarik, komoditas ini punya tiga nama berbeda di pasar yang berbeda, dan hal itu kerap membingungkan pembeli baru. Di Indonesia dikenal sebagai tepung tapioka, dalam dokumen perdagangan internasional disebut cassava starch, sementara pasar Eropa dan Amerika Latin memakai istilah manioc starch. Ketiganya merujuk pada bahan yang sama dengan komposisi dan sifat fungsional serupa.
Agroloka Commodity, nama dagang PT Agroloka Indo Varian, bergerak sebagai eksportir dan pemasok pati singkong asal Indonesia. Perusahaan ini bekerja langsung dengan perkebunan petani lokal yang luasnya mencapai ratusan hektare. Hubungan pasokan tetapnya terjalin dengan pembeli di Malaysia, India, dan Sri Lanka, sementara pengiriman juga menjangkau Thailand, Vietnam, Filipina, Singapura, dan Mauritius.
Lini produknya mencakup:
- Native tapioca starch — pati singkong alami tanpa modifikasi, berwarna putih, tidak berbau, dan bebas gluten
- AIV CrystalStarch — pati dengan proses pengeringan terkendali, menghasilkan tingkat kelembapan dan keputihan yang konsisten untuk aplikasi pangan
- AIV SunPure — pati yang dikeringkan dengan sinar matahari, menjadi pilihan yang lebih hemat untuk kebutuhan industri
- MOCAF — modified cassava flour, tepung singkong termodifikasi yang banyak dipakai pada formulasi bakeri
- Pearled tapioca — butiran tapioka atau sagu mutiara untuk minuman dan produk dessert
Penggunaannya tidak terbatas pada satu industri. Di sektor pangan, pati ini dipakai pada produk bakeri dan konfeksioneri untuk menjaga tekstur dan kelembapan, pada saus dan sup sebagai pengental, pada camilan dan mi untuk kerenyahan serta kekenyalan, serta pada es krim dan dessert beku untuk mencegah pembentukan kristal es. Di luar pangan, pati singkong terpakai pada produksi kertas, perekat, tekstil, kosmetik, farmasi, hingga bioetanol.
Dari sisi kepatuhan, produknya memegang sertifikasi BPOM dan Halal, serta menerapkan sistem ISO dan HACCP. Bagi pembeli industri di luar negeri, hal terakhir ini kerap menjadi syarat awal sebelum negosiasi harga dimulai, karena HACCP menyangkut pengendalian titik kritis keamanan pangan sepanjang proses produksi.
Untuk pengapalan, perusahaan melayani skema FOB Jakarta maupun FOB Tanjung Priok, dua ketentuan yang lazim dipakai pembeli internasional untuk menghitung biaya pengiriman dari Indonesia. Bekerja langsung dengan perkebunan tanpa terlalu banyak perantara juga memberi keuntungan lain: waktu tunggu yang lebih pendek, batch produksi yang dapat ditelusuri, dan harga yang lebih stabil.
Benang merah keduanya
Sepintas, mengimpor daging beku dan mengekspor pati singkong adalah dua urusan yang tidak berhubungan. Pada praktiknya, keduanya diuji oleh hal yang sama.
| Aspek | Impor daging | Ekspor pati singkong |
| Alur perdagangan | Luar negeri ke pasar domestik | Hasil pertanian lokal ke pasar luar negeri |
| Tujuan utama | Menutup selisih kebutuhan protein dalam negeri | Menambah nilai dari komoditas pertanian lokal |
| Faktor penentu mutu | Kesinambungan suhu di seluruh rantai dingin | Konsistensi kelembapan, kemurnian, dan viskositas antarbatch |
| Sertifikasi kunci | Halal dan NKV | BPOM, Halal, ISO, dan HACCP |
| Titik paling rawan | Perpindahan antarmoda dan penyimpanan | Penanganan pascapanen dan proses pengeringan |
| Infrastruktur penentu | Gudang beku, armada berpendingin, kepabeanan | Kemitraan dengan petani dan fasilitas pengolahan |
Pada keduanya, sertifikasi bukan sekadar berkas administratif. Ia adalah bahasa yang dipakai pembeli untuk menilai pemasok yang belum pernah mereka temui, baik itu distributor di dalam negeri maupun pabrik di benua lain.
Hal kedua yang sama pentingnya adalah penguasaan rantai pasok. Perusahaan yang hanya berperan sebagai perantara akan kesulitan menjamin mutu, karena kendali atas tahap-tahap kritis berada di tangan pihak lain. Sebaliknya, pelaku usaha yang mengelola sendiri penyimpanan, pengangkutan, atau kemitraan dengan produsen berada pada posisi jauh lebih baik ketika terjadi gangguan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Q: Apa perbedaan tepung tapioka, cassava starch, dan manioc starch?
A: Tidak ada perbedaan bahan. Ketiganya merupakan pati yang diekstraksi dari singkong, dengan komposisi dan sifat fungsional yang sama. Perbedaannya hanya pada istilah yang dipakai di masing-masing pasar. Tepung tapioka adalah sebutan di Indonesia, cassava starch lazim dipakai dalam perdagangan dan dokumen ekspor internasional, sedangkan manioc starch digunakan di pasar Eropa dan Amerika Latin.
Q: Mengapa rantai dingin begitu menentukan pada distribusi daging?
A: Karena kerusakan akibat suhu bersifat tidak dapat dipulihkan. Bila suhu terputus di satu titik saja, misalnya saat pemindahan dari kontainer ke gudang, mutu produk sudah menurun meski secara tampilan belum terlihat. Karena itu penyimpanan beku, armada berpendingin, dan prosedur pemindahan yang rapi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari usaha distribusi daging.
Q: Sertifikasi apa yang umumnya diminta pembeli luar negeri untuk produk pangan?
A: Selain izin edar dalam negeri, pembeli industri umumnya menanyakan penerapan HACCP yang mengatur pengendalian titik kritis keamanan pangan, serta sistem manajemen mutu ISO. Sertifikat Halal juga menjadi syarat penting untuk pasar dengan populasi muslim besar seperti Malaysia. Persyaratan dapat berbeda antarnegara tujuan, sehingga sebaiknya dikonfirmasi sejak awal negosiasi.
