Dua WBTB Kota Batu Dapat Penghargaan dari Gubernur Jatim

15 November 2020 - 16:50 WIB
Gubernur Khofifah Indar Parawansa menyerahkan dua sertifikat penghargaan kepada Kepala Disparta Kota Batu Arief As Siddiq

BATU (SurabayaPost.id) – Woow..luar biasa. Dua Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Kota Batu mendapat penghargaan dari Gubernur Jatim.    Penghargaan berupa sertifikat itu diserahkan langsung Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa kepada Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu, Arief As Siddiq saat mengikuti event Aktivasi Seni Budaya Daerah 2020 di Pantai Villa Solong, Kabupaten Banyuwangi, Sabtu (14/11/2020).

Penyematan dua Sertifikat yang dilakukan Khofifah tersebut, diterima langsung oleh Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu, Arief As Siddiq secara simbolis.

Untuk diketahui, dua buah sertifikat warisan budaya yang diraih Kota Batu dari Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan tersebut adalah sertifikat WBTB untuk kesenian Jaran Kepang dan kesenian Bantengan. Dua kesenian tersebut, lantaran diketahui tengah menjadi identitas budaya dan tumbuh berkembang di Kota Batu sejak pra kemerdekaan,. 

Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko mengaku bangga dengan penghargaan tersebut. Dia mengatakan kesenian Jaran Kepang dan Bantengan itu selama ini memang menjadi kebanggaan masyarakat Kota Wisata Batu.

“Untuk itu harus dilestarikan. Sebab kesenian tradisional itu mendapat pengakuan sehingga kita diberi penghargaan,” kata dia.

Menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur, Sinarto Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memberikan sekitar 20 sertifikat pada Kota/Kabupaten yang telah diakui oleh pemerintah pusat sebagai WBTB.

“Sertifikat tersebut, merupakan sebuah pengakuan pemerintah terhadap produk budaya tradisi yang ada di daerah,” katanya.

Itu, perlu diakui, karena menurut dia,  budaya tradisi oleh pemerintah supaya nilai-nilai budaya yang telah terbentuk tetap lestari.Dengan begitu, kata dia, akan mempermudah langkah untuk memajukan kebudayaan di tiap daerah.

“Warisan budaya tersebut telah berjalan di tengah-tengah masyarakat dan terus dilakukan oleh warga, dengan didukung oleh Pemerintah Daerah.Sehingga hal  tersebut jadi salah satu alasan pemerintah pusat mengakui sebagai WBTB,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu, Arief As Siddiq mengaku bahwa kesenian Jaran Kepang dan kesenian Bantengan, menurutnya merupakan WBTB yang telah dilestarikan masyarakat Kota Batu secara turun menurun.Bahkan dua warisan tersebut, menurutnya sudah  berkembang pesat di Bumi Kota Batu.

“Misalnya untuk kesenian Bantengan itu mampu membentuk komunitas yang tergabung dalam Bantengan Nuswantoro dan memiliki anggota ribuan orang. Bahkan setiap tahunnya Pemkot Batu memberikan support dan masuk dalam agenda kesenian tahunan yang mampu menarik wisatawan, baik domestik dan mancanegara untuk hadir dan berpartisipasi,” paparnya.

Sedangkan untuk Jaran Kepang, papar dia,  juga sama.Dengan begitu, mantan Kepala DLH ini mengaku hampir setiap desa/kelurahan di Kota Batu memiliki kesenian Jaran Kepang. Bahkan ,menurut Arief kesenian tersebut menjadi pembuka setiap kegiatan di desa seperti bersih desa hingga hajatan.

“Dengan dua Warisan Budaya Tak Benda yang diraih itu, berharap masyarakat bisa terus mempertahankan kesenian yang ada di tiap desa/kelurahan. Misalnya kesenian yang telah ada dan eksis sampai saat ini di Kota Batu seperti Glendo Barong dan Sanduk,” kata dia.

Oleh karena itu, Arief mengaku sangat bersyukur. Alasannya  karena dua budaya dan tradisi Kota Batu tersebut tengah ditetapkan menjadi WBTB.

“Kami harap kedepan lebih banyak tradisi yang ditetapkan. Apresiasi ini harus menjadi semangat bagi Pemda untuk memfasilitasi dan masyarakat untuk terus lebih giat menjaga dan melestarikan tradisi leluhur,” timpalnya (GusAdv)