IBU Malang Sukses Gelar Samba Paripurna Penuh Warna

4 November 2020 - 19:52 WIB

MALANG (SurabayaPost.id) – IKIP Budi Utomo (IBU) Malang sukses menggelar Samba (sambut mahasiswa baru) Paripurna, Di kampus Jalan Citandui, Kota Malang, Rabu (4/11/2020). 

Samba yang merupakan puncak dari Samba-samba sebelumnya itu  penuh warna. Sebab dimeriahkan dengan berbagai penampilan seni budaya Nusantara. Itu mulai dari tarian hingga  lagu-lagu daerah.

Dalam kegiatan itu juga puluhan mahasiswa baru secara luring. Sedangkan  ratusan sisanya mengikuti secara daring. Bahkan disiarkan secara live streaming di YouTube.

Rektor IBU Malang Dr Nurcholis Sunuyeko kala memberi sambutan dalam acara Samba Paripurna

Rektor IKIP Budi Utomo, Dr. H. Nurcholis Sunuyeko, MSi bersama Ciputat akademik IBU menyambut maba 2020 itu dengan suka cita. Sebab  1508 mahasiswa baru tahun akademik 2020-2021 ini yang diterima di kampus IBU ini.

Mereka dinyatakan sudah resmi menjadi keluarga IKIP Budi Utomo Malang. Mereka disambut secara bertahap sejak September lalu melalui kegiatan Samba. Yang merupakan singkatan dari Sambut Mahasiswa Baru. “Selamat datang para mahasiswa baru. Selamat mengikuti perkuliahan di IKIP Budi Utomo Malang,” ucapnya saat sambutan.

Menurut, Nurcholis para mahasiswa telah mengambil keputusan yang tepat untuk bergabung dengan IKIP Budi Utomo. Karena kedepannya mereka akan melalui proses pendidikan unggul dan berkualitas.

Yang tidak hanya meningkatkan kompetensi. Tetapi juga menumbuhkan jiwa humanis dengan Nilai Kebudiutamaan. “Kuliah di IKIP Budi Utomo adalah sebuah pilihan yang cerdas. Karena anda akan mengikuti sebuah proses kuliah pendidikan yang pada ujungnya bukan hanya memperoleh ilmu, tapi juga mendapat karakter spesial, yang berbeda dari mahasiswa lain,” ungkapnya.

Mahasiswa baru IBU yang ikut acara Samba Paripurna secara luring di kampus C Jl Citandui Kota Malang

Karakter spesial untuk Mahasiswa IBU. Karakter seperti apakah itu?. Nurcholis menjelaskan mahasiswa IKIP Budi Utomo punya ciri khas yang menjadi keistimewaan tersendiri. Yakni nilai Kebudiutamaan. Nilai tersebut diperkuat dengan jiwa Keindonesiaan, kemanfaatan, kepeduliaan, kepatuhan, dan kepatutan.

“Sehingga kalau dia guru menjadi pendidik yang nasionalis, yang bisa mengukur mana yang manfaat dan mudarot. Punya rasa kesetiakawanan sosial dengan saling tolong menolong, patuh pada aturan dan berperilaku yang patut sesuai normal yang ada,” terangnya.

Karena itu ia berharap, mahasiswa baru seluruhnya dapat lulus tepat waktu. Mampu mengamalkan ilmu yang bisa bermanfaat bagi bangsa dan negara. “Selamat kepada Maba dari mulai episode pertama hingga paripurna,” imbuhnya. (lil)